Monday, August 2, 2021

BOCAH-BOCAH DURJANA (PART 1): PARA PSIKOPAT YANG MEMBUNUH SEMENJAK DINI

Bayangkan main di tempat bermain seperti ini tapi juga menjadi pembunuh!
SUMBER GAMBAR: UNSPLASH

Sebuah list di Wikipedia menarik perhatian gue, pasalnya list tersebut memuat para pembunuh sesuai urutan umurnya, dimana yang termuda sudah mulai membunuh sejak usia 3 tahun. Ya ampun kita pas usia 3 tahun baru belajar apa ya? Berjalan, menggambar, menulis, ngomong papa mama? Memang, menilik list ini membuat hati kita merasa miris, pasalnya dalam umur segitu mudanya bukannya dilimpahi kasih sayang orang tuanya namun malah bertindak kriminal. Bersyukurlah kita yang beruntung berada di didikan keluarga yang baik, walaupun mesti tak sempurna.

Nah seperti apakah kasus para pembunuh belia ini? Kita simak saja listnya.

KASUS PERTAMA: 

KEMATIAN SILJE REDERGÅRD, DIMANA BALITAPUN BISA JADI PSIKOPAT

Kematian seorang gadis berusia 5 tahun bernama Silje Marie Redergård di Norwegia menggemparkan warga negara tersebut. Pasalnya pembunuhnya adalah dua bocah yang masih berusia 5 dan 6 tahun, sebaya dengan sang korban. Silje sendiri ditemukan tak bernyawa di sebuah desa dekat bernama Rosten di dekat kota Trondheim pada 15 Oktober 1994. Tak hanya memukuli gadis tersebut, kedua bocah itu juga melemparinya dengan batu, menendangnya, bahkan menelanjangi lalu meninggalkan ia dalam kondisi telanjang untuk mati di tengah salju. Padahal kita tahu bahwa iklim Norwegia sangatlah dingin sehingga gadis tersebut kemudian mati karena hipotermia.

Hukum Norwegia sendiri sangatlah lunak kepada para kriminal, apalagi bila masih belia. Kedua bocah lucknut tersebut kemudian menjalani evaluasi psikologi karena pemerintah Norwegia melarang anak-anak di bawah umur untuk diberi hukuman. Nama kedua bocah tersebut tak pernah dirilis kepada publik untuk melindungi privasi mereka.

Anehnya, tindak kekerasan kedua bocah tersebut justru disalahkan kepada tayangan televisi. Contohnya segera setelah kematian tersebut, televisi Norwegia melarang penayangan film “Mighty Morphin Power Rangers” dan “Teenage Mutant Ninja Turtles” karena dianggap mengajarkan kekerasan kepada anak-anak.

Sumber: Wikipedia


KASUS KEDUA: 

PENEMBAKAN KAYLA ROLLAND, GARA-GARA ASMARA KANAK-KANAK

Bayangkan anak sekecil ini tewas ditembak teman sekelasnya sendiri anak kelas 1 SD *tepok jidat*

Kayla Rolland adalah seorang gadis berusia 6 tahun yang tinggal di negara bagian Michigan, Amerika Serikat. Ia ditembak mati pada 29 Februari 2000 dan yang mengejutkan, pelakunya tak lain adalah teman sekelasnya yang berusia 6 tahun. Bahkan penembakan tersebut terjadi di sekolah mereka, Buell Elementary School yang merupakan sebuah Sekolah Dasar. Bayangkan sebuah kasus pembunuhan di sebuah SD di mana pelakunya adalah siswa dari sekolah tersebut!

Tragedi tersebut tentulah sangat tragis  namun pertanyaannya: bagaimanakah bocah berusia 6 tahun bisa mendapatkan sebuah senjata api? Ternyata didikan di rumah bocah tersebut jugalah sangat memprihatinkan, pasalnya sang bocah tinggal di rumah pamannya yang juga adalah seorang pengedar obat bius. Dimana tak hanya tersimpan banyak narkoba, namun di rumah itu juga banyak tergeletak senjata api. Tak hanya itu, ayah kandung sang anak sendiri telah berada di penjara karena melakukan aksi pencurian hingga perdagangan narkoba.

Karena kondisi keluarganya yang kacau balau tersebut tersebut, sang anak dikenal memiliki membuat banyak masalah di sekolah. Bahkan hampir setiap hari ia berbuat onar dengan berkata-kata kasar dan mengacungkan jari tengahnya kepada orang-orang dewasa. Bahkan beberapa minggu sebelum penembakan itu, ia menusuk seorang gadis dengan sebuah pensil. Sang bocah laki-laki tersebut juga pernah menyerang sang korban sebelumnya, setelah gadis itu itu menolak untuk dicium oleh sang bocah di bawah umur tersebut.

Bueel Elementary School yang sudah dikosongkan. Tak seharusnya kejahatan keji terjadi di tempat seperti ini

Karena usia muda dari sang bocah, ia tak pernah dihukum. Sekolah dimana kejahatan tersebut terjadi yaitu khirnya ditutup pada tahun 2003 karena terjadi penurunan jumlah siswa. Tentu tak ada yang mau bersekolah di SD yang pernah terjadi pembullyan yang berujung penembakan semacam itu, apalagi jika nantinya hal tersebut terjadi pada anak-anak mereka.

Bagaimana dengan nasib sang bocah ini? Pada 2020 diketahui bahwa sang bocah yang kini berusia 18 tahun telah mendekam dalam penjara karena aksi pencurian. Tentu saja buah jatuh tak jauh dari pohonnya, namun yang miris sang anak sebenarnya bisa saja tumbuh dengan baik apabila ia dibesarkan di keluarga yang mengayominya dengan kasih sayang.

Namun kasus penembakan di Michigan ini bukanlah yang terakhir. Pada tahun 1998 di  di sebuah SMP bernama  Westside Middle School di negara bagian Arkansas, dua bocah berusia 11 dan 13 orang melakukan penembakan massal, membunuh 4 rekan sebayanya dan juga seorang guru dengan menggunakan senjata api. Mereka juga berhasil melukai 10 lainnya. Kedua bocah beli tersebut akhirnya dihukum penjara hingga mereka mencapai umur 21 tahun.

Sangat mengerikan ya apabila usia-usia semuda itu dipenuhi dengan kemarahan, ditambah lagi dengan hukum kepemilikan senjata senjata api  yang sangatlah longgar sehingga mereka bisa melakukan kejahatan pada usia yang sangat belia. Namun hal ini tak ditampik juga disebabkan oleh kelalaian dari kaum dewasa sendiri yang tak bisa menjaga atau mendidik generasi muda mereka dengan baik.

Sumber: Wikipedia


KASUS KETIGA: 

CARROLL COLE, SANG PEMBUNUH BERANTAI YANG MEMULAI KIPRAHNYA SEJAK DINI

Bisakah kalian bayangkan seorang pembunuh berantai yang beraksi pada usia yang sangat belia? Jawabannya terletak pada seorang pembunuh berantai bernama Carrol Cole di Amerika yang dieksekusi pada 1985 karena membunuh 16 orang selama tahun 1947 hingga 1980.

Carrol sendiri lahir  pada tahun 1938 diana ia dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat abusif. Konon sang Ibu sering mendandani Carrol yang berjenis kelamin laki-laki dengan gaun perempuan. Bahkan di sekolah ia juga sering diejek sebagai seorang pria feminim.

Akibat penyiksaan dan pembullyan yang dialaminya, Carrol akhirnya sempat mendekam di rumah sakit jiwa selama 3 tahun. Namun siapa sangka, setelah dibebaskan perilakunya justru semakin menjadi-jadi. Carroll memulai aksi kejinya dengan membunuh perempuan-perempuan yang ditemuinya mulai dari tahun 1971. Semua wanita yang dibunuhnya dianggapnya pantas mati karena “mirip” dengan ibunya.

Carrol akhirnya ditangkap pada 1980 di mana ia mengaku telah membunuh sekitar 14 wanita selama kurun waktu 9 tahun. Namun iapun menambahkan bahwa karena ia sering melakukan pembunuhan tersebut dalam kondisi mabuk, ia tak ingat ada berapa jumlah korban yang sesungguhnya. Namun yang menarik adalah di dalam pengakuannya tersebut, ia juga mengaku bahwa pembunuhan pertamanya dilakukan pada saat ia masih berusia 8 tahun. Saat itu ia membalas dendam pada seorang anak yang membullynya dengan menenggelamkan bocah itu ke dalam sebuah danau. Namun kematian sang anak itu tersebut dianggap sebagai kecelakaan dan tak ada siapapun seorangpun yang mencurigai Carrol sebagai pelakunya.

Sumber: Wikipedia


KASUS KEEMPAT: 

KEMATIAN SADIS NAN TRAGIS YANG MENIMPA JAMES BULGER

Kasus kematian James Bulger ini sangat menghebohkan publik ketika terungkap di Inggris pada tahun 1993 karena skala kesadisannya yang terperikan serta umur para pelakunya yang masih sangat belia. Kala itu seorang anak bernama James Bulger yang masih berusia 2 tahun diculik dari sebuah shopping center oleh dua bocah yang masih berusia 10 tahun yakni Robert Thompson dan Jon Venables. Kedua bocah tersebut memang dikenal sangat bermasalah, pasalnya mereka sering mencuri bahan-bahan yang remeh temeh seperti permen dan boneka dari mal tersebut. Namun suatu hari, mereka ingin meningkatkan level kejahatan mereka dengan menculik seorang anak.

Pada 12 Februari 1993, CCTV dari tempat perbelanjaan tersebut menangkap babak kedua bocah tersebut tengah mengamati  target  mereka. Siang itu sang korban James, tengah berjalan-jalan bersama ibunya di tempat perbelanjaan New Strand Shopping Centre. Ketika sang Ibu tengah sibuk berbelanja di sebuah toko daging, James melepaskan tangannya dari gandengan sang ibu, kemudian bermain di sekitar toko tersebut. Mengira bahwa anaknya aman di toko perbelanjaan tersebut, maka sang ibu banyak berpikir dan perhatiannya tersita pada belanjaannya.

Namun siapa sangka kedua bocah tersebut kemudian mendekati James dan kemudian menuntunnya untuk keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Aksi mereka tertangkap oleh kamera CCTV pada jam 15.42 sore. Begitu tiba di tempat sepi, kedua bocah laknat tersebut segera membully dan menyiksa bocah tersebut. Mereka mendorongnya sampai jatuh dan kepalanya terluka, hingga James kemudian menangis. Naasnya, ada sekitar 38 orang yang lewat di sekitar tempat itu dan melihat aksi pembullyan tersebut, namun sama sekali tidak berusaha untuk menghentikannya. Kebanyakan dari mereka mengira bahwa mereka hanyalah anak-anak kecil yang bermain seperti biasa. Ada dua orang yang kemudian menegur Robert dan Jon, namun kedua bocah tersebut mengaku bahwa James adalah adik mereka, sehingga merekapun mengabaikannya

Karena perbuatan mereka bisa dilihat dengan mudah oleh orang-orang yang lewat. maka kedua bocah tersebut membawa James ke lokasi yang lebih sepi, yaitu di sebuah rel kereta api. Di sana mereka kembali menyiksanya, bahkan kini lebih parah. Mereka menendangnya, menginjaknya, bahkan merajaminya dengan batu. Penyiksaan itupun semakin berbau seksual ketika mereka memasukkan baterai ke dalam mulut dan juga anus dari bocah tersebut. Kemudian sebagai pamungkas, mereka menjatuhkan sebuah batangan besi seberat 10 kg tepat ke kepala sang bocah tersebut, menyebabkan kepalanya retak dan meninggal seketika.

Berusaha menyembunyikan kematiannya, kedua bocah tersebut lalu meletakkan mayat James ke tengah rel kereta api agar kematiannya dianggap sebagai kecelakaan. Akibatnya, sebuah kereta api yang melintas langsung memotong tubuhnya menjadi dua. Mayat bocah tersebut kemudian ditemukan oleh anak-anak sekolah yang tengah berangkat ke sekolah dua hari kemudian.

Para pelaku kejahatan yang juga masih teramat belia

Berkat rekaman CCTV, identitas kedua bocah tersebut dengan cepat terungkap dan mereka pun ditangkap. Masyarakat Inggrispun terhenyak marah dan melampiaskan kekesalan mereka kepada orang tua dari kedua bocah tersebut. Konon kedua orang tua mereka terpaksa kabur dari kediaman mereka karena orang-orang asing mulai mengancam untuk membunuh mereka dan menyerang rumah mereka.

Pada November 1993, pengadilan pun dimulai. Yang menyedihkan, kedua pelakunya itu masih sangatlah kecil dan belia sehingga ketika mereka harus duduk di di kursi terdakwa yang didesain banyak untuk orang dewasa, para petugas pengadilan terpaksa meninggikan kursi tersebut agar mereka bisa terlihat oleh hakim

Usia yang sangat muda bukan halangan bagi kedua anak tersebut untuk mampu melakukan tindak kriminal yang teramat kejam. Bahkan seorang psikiater yang menangani kejiwaan mereka menjawab bahwa kedua bocah tersebut tahu perbedaan antara kebaikan dan kejahatan. Dengan kata lain, ketika mereka menyiksa sang bocah, mereka tahu benar bahwa perbuatan itu adalah perbuatan yang keji dan juga jahat

Lagi-lagi televisi dan media dipersalahkan atas perilaku keji kedua bocah tersebut. Tercatat sebuah tabloid menulis bahwa perilaku kejam dari kedua anak di bawah umur tersebut disebabkan karena mereka ingin meniru adegan dari film horor “Child’s Play 3” tentang boneka setan bernama Chucky. Memang tak bisa dipungkiri, ada kemiripan antara adegan dari film tersebut dengan aksi pembullyan yang dilakukan oleh kedua anak tersebut.

Kedua anak itu pun ditahan di fasilitas khusus anak-anak nakal di mana kasus mereka kemudian menjadi perhatian publik, bahkan diperbincangkan di seluruh Eropa. Pada 2001 setelah hakim menentukan bahwa kedua bocah itu bukan lagi sebuah ancaman bagi masyarakat, mereka pun dilepaskan. Mereka kemudian masuk ke dalam program mirip perlindungan saksi, di mana mereka kemudian diberikan identitas baru untuk memulai kehidupan baru yang lebih bersih. Hal ini disebabkan karena masyarakat masih sangat marah kepada kedua bocah tersebut. Ada ketakutan apabila masyarakat kemudian membully bahkan mengancam untuk melakukan kekerasan kepada kedua bocah tersebut setelah mereka lepas ke dunia luar. Saat dibebaskan. Baik Robert dan Jon telah berusia 18 tahun.

Bagaimana dengan nasib keluarga korban juga pelaku? Tercatat bahwa kedua orang tua dari korban akhirnya bercerai setelah kematian anak mereka pada tahun 1995. Pada 2010, berita mengejutkan muncul bahwa Jon Venables, salah satu pelaku, kembali dipenjara karena mengedarkan pornografi anak-anak.

Sumber: Wikipedia


BERSAMBUNG ....

4 comments:

  1. Where malin kundang mom when we need it

    ReplyDelete
  2. Lah endingnya si pelaku muncul lagi diberita, berarti fungsi progam saksi tadi apa cuk?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setau gue kalo dia sex offender identitasnya harus diumumin ke publik supaya ortu bisa waspada, mgkn krn dia melanggar hukum jadinya perlindungannya jadi ga berlaku kali ya

      Delete