Sunday, August 22, 2021

TIGA TEORI KONSPIRASI KONTROVERSIAL: MULAI PROJECT BLUE BEAM, PHANTOM TIME HYPOTHESIS, DAN THURSDAYISM.


Hallo buat kalian para pecinta teori konspirasi? Gue udah memperkenalkan tentang teori konspirasi ala Q-Anon di postingan sebelumnya (yang beneran bikin gue pengen nabok orang Amerika, masak kita disuruh minum bleach seh???) maka kali ini gue akan memperkenalkan tiga teori kontroversial yang mungkin belum pernah kalian dengar. Teori-teori tersebut adalah teori Project Blue Beam, Phantom Time Hypothesis, dan Thursdaysm. Seperti apakah isi teori-teori tersebut? Simak saja pembahasannya kali ini.

PROJECT BLUE BEAM: 

BISAKAH KITA MEMALSUKAN HARI KIAMAT?

Project Blue Beam adalah nama sebuah teori konspirasi yang pertama kali dikemukakan oleh seorang wartawan bernama Sergei Monast. Pria kelahiran tahun 1945 ini merupakan penduduk kota Quebec, Kanada yang juga adalah seorang jurnalis investigasi  ia dikenal mendirikan lembaga International Free Press Agency sehingga dikenal sebagai seorang wartawan berpengalaman dan juga berjasa bagi perkembangan ilmu jurnalistik di Kanada.

Pada tahun 1990 ia mulai ganti haluan membahas teori-teori konspirasi. Ia mulai memperingatkan membacanya akan bahaya New World Order, sebuah teori konspirasi yang konon diramu oleh masyarakat-masyarakat rahasia dan kaum elitis seperti Freemason dan juga Illuminati, yang juga beranggotakan para petinggi-petinggi pemerintahan di berbagai negara. Ia takut bahwa suatu saat nanti negara-negara yang ada di dunia ini suatu saat akan bergabung menjadi satu pemerintahan di bawah The World Government yang akan memerintah dengan sistem kediktatoran yang bertangan besi.

Pada tahun 1964 ia mengungkapkan salah satu teorinya tentang Project Blue Beam dimana ia mengklaim bahwa NASA dengan bantuan PBB akan berusaha menciptakan sebuah agama baru yang akan menggabungkan semua agama yang ada di dunia ini dengan cara mensimulasikan kiamat. Hah, bagaimana caranya?

Teori konspirasi menyebutkan bahwa NASA akan menggunakan teknologi hologram untuk memalsukan Second Coming alias kiamat

Menurutnya, dengan teknologi hologram dan satelit yang dimiliki NASA, mereka akan mensimulasikan kedatangan kembali Yesus Kristus (disebut “The Second Coming” oleh kaum Kristen) ke dunia ini setelah turun dari surga. Nah. apakah itu “The Second Coming”? “Kedatangan Kedua” atau “The Second Coming” merupakan prinsip yang amat dipercayai dalam agama-agama Abrahamik terutama Kristen dan Islam. 

Jika kalian adalah penganut agama Kristen Protestan dan Katolik, maka kalian pasti tak asing lagi dengan Kitab Wahyu atau “Revelation” yang menceritakan tentang kiamat dunia. Kitab itu (disinggung pula dalam Injil) menyebutkan bahwa suatu saat nanti Yesus Kristus akan kembali lagi ke dunia kita. Agama Kristen percaya bahwa Yesus Kristus disalib pada tahun 33 M dan kemudian meninggal, lalu dibangkitkan kembali pada hari ketiga. Beliau tinggal di dunia selama 40 hari hingga kemudian diangkat ke surga pada hari raya yang kita kenal sebagai Hari Kenaikan, yang apabila dihitung akan jatuh tepat 40 hari setelah malam Paskah.

Yesus Kristus yang telah naik ke surga akan kembali lagi ke bumi untuk menjadi seorang Mesias dan menyelamatkan dunia, inilah yang disebut dengan “The Second Coming” atau “Kedatangan Kedua”, di mana pada hari itu ia akan mengadili seluruh bangsa. Yang berdosa akan dimasukkan ke neraka dan bagi yang setia kepadanya akan dimasukkan ke dalam surga. Hal ini dipelajari dalam ilmu khusus dalam agama Kristen yang disebut dengan “eskatologi” atau ilmu yang mempelajari tentang akhir dunia.

Namun dalam Injil disebutkan bahwa Yesus tidak pernah memberi tanggal kapan tepatnya beliau akan kembali, sehingga terus menjadi perkiraan atau estimasi bagi para pemuka-pemuka agama Kristen. Namun yang jelas, peristiwa yang sering juga disebut sebagai “Final Judgement” atau “Penghakiman Terakhir” itu akan terjadi tiba-tiba bak sebuah sambaran petir, sehingga setiap pengikutnya harus mempersiapkan diri mereka sebaik mungkin dengan menghindari dosa, supaya mereka tetap terlihat murni ketika Yesus Kristus datang kembali. Pemahaman ini juga dianut oleh agama Islam, walaupun mungkin agak berbeda.

Ilustrasi peristiwa Second Coming oleh Michaelangelo

Menurut agama Islam (CMIIW), Yesus Kristus atau Isa Almasih bukanlah mati disalib melakukan langsung naik ke surga dan digantikan oleh Yudas di kayu salib. Namun suatu saat Nabi Isa akan kembali menjadi Al-Masih, istilah Arab bagi kata “messiah” atau penyelamat, di mana ia akan mengalahkan sang Dajjal. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa Isa Almasih akan turun ke dunia melalui sebuah minaret di sebuah masjid di Damaskus, Suriah.

Kembali lagi ke teori konspirasi ini, Sergei Monast menyebutkan bahwa NASA dan PBB tengah memproduksi sebuah teknologi yang sangat maju dimana dengan teknologi ini mereka akan menciptakan sebuah simulasi kedatangan Yesus tersebut. Mereka akan masuk memalsukan kedatangan Yesus menggunakan teknologi hologram yang akan terlihat di seluruh dunia ini dengan menggunakan satelit..

Teknologi ini dapat menjadikan langit bak sebuah layar bioskop, dimana mereka akan menayangkan sosok yang mengaku sebagai Yesus di langit sehingga akan membuat miliaran orang terpukau ketika melihatnya, bahkan menganggapnya sebagai sebuah mukjizat. Tak hanya itu mereka tak hanya berencana untuk menggunakan hologram Yesus Kristus atau Nabi isa belaka, namun juga Nabi Muhammad hingga Khrisna dan juga Budha untuk meyakinkan agama-agama lain bahwa mereka tengah melihat mukjizat.

Dengan simulasi itu, maka bangsa-bangsa di dunia akan menjadi percaya akan kedatangan Sang Penyelamat tersebut dan akan takluk kepadanya, bahkan mengabaikan kepercayaan yang dulu ia anut. Umat manusiapun dijamin akan langsung berpaling ke agama-agama tersebut apabila melihat sendiri kedatangan Kristus itu. Semua agama kemudian akan menjadi satu karena penampakan tersebut dan akan disebut dengan agama “New Age”, dimana para pemuka agamanya adalah orang-orang yang sedang merencanakan dalam penampakan ini.

Serge Monast sang pencetus teori konspirasi

Ya, tujuan dari simulasi ini adalah untuk mencuci otak dan mengontrol semua orang yang di seluruh dunia dan menciptakan sebuah pemerintahan baru di mana mereka menjadi pemimpinnya.

Pastinya banyak yang meragukan tentang teori ini. Pasalnya selain terdengar fiktif, konsep ini pernah dinyatakan oleh seorang pria bernama Gene Roddenberry, namun dalam bentuk naskah dari “Star Trek”, sebuah acara televisi bergenre sains fiksi yang tayang di Amerika Serikat. Di naskahnya, sebuah ras alien yang maju mencoba menginvasi bumi dengan menggunakan teknologi simulasi hologram yang menampakkan “mukjizat” untuk menghancurkan iman penduduk bumi dan menyebarkan agama mereka sendiri. Naskah ini bahkan sudah ditelurkan menjadi jalan cerita sebuah film “Star Trek” pada tahun 1975 berjudul “The God Thing” dan diulang kembali 1991 dari serial “Star Trek: The Next Generation” episode “Devil’s Due”.

Namun bukannya ditinggalkan, teori ini malah makin dipercaya oleh para pengikut-pengikut Serge Monast ketika pencetus teori kontroversial tersebut meninggal dunia secara misterius. Pada saat itu, pemerintah Amerika Serikat mengambil kedua anaknya karena mereka menganggap Serge merebut kebebasan mereka untuk belajar dengan menyekolahkan mereka di rumah. Serge kemudian ditangkap dan sehari setelahnya, ia kemudian meninggal karena penyakit jantung. Para pendukungnya menduga bahwa menuduh bahwa Serge meninggal karena racun yang diterimanya di dalam penjara untuk membungkamnya. Apakah teori tersebut memang benar ataukah hanya kebohongan semata, well silakan kalian tentukan sendiri.

 

PHANTOM TIME HYPOTHESIS: 

APAKAH “DARK AGE” EROPA TAK PERNAH ADA?

Apa itu “Phantom Time Hypotesis” alias “Hipotesis Waktu Hantu” ini? Teori konspirasi yang dikemukakan oleh seorang sejarawan bernama Heribert Illig. menyebut bahwa terjadi konspirasi dari Kaisar Holy Roman Empire bernama Otto III dengan Paus Sylvester II, dan mungkin Kaisar Byzantium (Romawi Timur) Constantine VII, untuk memalsukan sistem tahun yang berlaku di Eropa, yaitu “Anno Domini” atau “Sesudah Masehi“.

Nah, sebelumnya gue jelaskan tentang siapa sebenarnya Holy Roman Empire. Kekaisaran tersebut pernah menguasai sebagian besar wilayah Eropa Barat termasuk Jerman, Swiss, dan Austria pada abad ke-10 hingga awal abad ke-19 ketika akhirnya dihancurkan Napoleon. Holy Roman Empire merupakan kekaisaran terbesar pertama di Jerman sehingga disebut-sebut sebagai “The First Reich” (Hitler kemudian berniat membangkitkan kejayaan kerajaan ini dengan menciptakan “The Third Reich” pada masa PD II).

Sementara itu, agama Kristen di benua Eropa terbagi menjadi dua, yakni agama Katolik (dipimpin Paus) yang berpusat di reruntuhan Kekaisaran Romawi Barat di Roma, Italia dan yang lain adalah agama Kristen Ortodoks yang berpusat di Byzantium atau Kekaisaran Romawi Timur (kini wilayah kekuasaan Turki) dengan ibukotanya di Konstantinopel (kini dikenal sebagai Istanbul).

Teori kontroversial ini mengaku bahwa ada sekitar 300 tahun yang ditambahkan dalam sejarah Eropa. Teori itu menduga bahwa ketiga kaisar tersebut pada abad ke-6 M kongkalingkong untuk menambahkan 300 tahun “khayalan” ke dalam kalender mereka supaya mereka dapat hidup pada tahun 1000 M, tahun yang mereka anggap membawa hoki karena kepercayaan klenik bahwa tahun kelipatan ratusan semacam itu mendatangkan keberuntungan.

Raja Otto III

Teori itu menyebutkan bahwa Kaisar Otto III (menurut sejarah hidup antara tahun 980 – 1002) sesungguhnya hidup pada tahun 600-an, namun ingin hidup di tahun 1000 M, sehingga dengan bantuan temannya, Paus Sylvester II (ingat, Paus adalah sosok paling berkuasa di seantero benua pada masa Eropa kuno) memalsukan sekitar 300 tahun ke dalam sejarah. Versi lain teori ini menyebut bahwa sang kaisar Byzantium-lah, Constantine VII (menurut sejarah hidup antara 905 – 959 M) yang memalsukan tahun sejarah ini.

Mengapa muncul teori yang tak masuk akal ini? Well, ini karena pada masa itu, Eropa mengalami apa yang dinamakan dengan “Dark Age” atau Masa Kegelapan atau Zaman Pertengahan Eropa. Pada masa tersebut kebudayaan Eropa bak disemuti oleh kegelapan karena mundurnya teknologi akibat runtuhnya kekaisaran Romawi Barat. Pada saat Romawi berkuasa mulai dari abad pertama hingga kelima SM, sains dan teknologi di Eropa meningkat pesat berkat para filsuf Romawi dan Yunani yang tinggal pada masa itu. Tetapi pasca keruntuhan Romawi, tak ada lagi kekasaran yang mampu mempersatukan Eropa sehingga benua biru itupun pun jatuh ke dalam kegelapan. Buku-buku kala itu dibakar oleh para penganut fanatik agama Katolik karena dipercaya menyebarkan ajaran yang sesat. Teknologipun menjadi mundur sehingga kehidupan di Eropa menjadi sangat primitif dan diselimuti oleh penderitaan.

Nah, sang pencetus teori ini beranggapan, masa Dark Age sesungguhnya tidaklah pernah ada, sebab hanya sedikit literatur sejarah yang ditulis pada masa itu (yang menurut sejarawan mainstream disebabkan karena sebagain besar penduduk Eropa kala itu buta huruf). Tak hanya itu, teori ini bisa saja berlandaskan “rasisme” sebab mereka tak percaya mengapa ras kulit putih penghuni Eropa yang begitu cerdas dan didgaya tiba-tiba mengalami kemerosotan budaya hingga hidup primitif pada masa Dark Age tersebut, sehingga mereka menganggap bahwa Dark Age sesungguhnya nggak ada, karena nggak sesuai dengan anggapan mereka bahwa bangsa kulit putih adalah ras superior.

Menurut teori ini, tahun 614 hingga 911 tak pernah terjadi dan hanya ditambahkan begitu saja. Dengan kata lain, ada sekitar 297 tahun yang disebut sebagai “waktu hantu” atau “phantom time”. Seluruh sejarah yang ada selama 300 tahun itu dianggapnya telah difabrikasi alias dipalsukan. Pada masa itu di Eropa berkuasa Dinasti Carolingian yang dipimpin seorang raja bernama Charlemagne menyatukan seluruh Eropa dalam sebuah kerajaan bernama Holy Roman Empire. Namun sosok itu dianggap hanya rekaan Paus Sylvester II saja untuk memalsukan sejarah. Pendapat ini diperkuat dengan jarangnya bukti-bukti sejarah pada Zaman Kegelapan.

Jika teori ini benar, maka tahun 2021 ini sesungguhnya bukan tahun 2021 yang sesungguhnya, melainkan baru tahun 1724. Memang aneh ya teorinya?

Menurut teori ini, zaman Dark Age atau Masa Pertengahan Eropa tak pernah ada

Heribert, pencetus teori ini semakin menegaskan pendapatnya melalui bukunya tahun 1969 berjudul “Zeitensprünge” yang berarti “Leaps in Time”. Buktinya menurutnya adalah arsitektur Romanesque pada abad ke-9 M di Eropa Barat yang memiliki kemiripan dengan arsitektur ala Romawi kuno dari abad pertama M, sehingga ia berkesimpulan bahwa dua masa tersebut jaraknya tidaklah terlalu jauh.

Salah satu klaim yang dianggapnya membuktikan teori tersebut adalah perpindahan dari kalender Julian menjadi Gregorian yang terjadi pada abad ke-16 di Eropa. Pada kala itu Kalender Julian yang diperkenalkan oleh Kaisar Julius Caesar sejak masa Romawi Kuno memiliki kesalahan, dimana sistem kalender tersebut menganggap bahwa satu tahun terdiri atas 365 hari tepat. Padahal sesungguhnya, satu revolusi Bumi terhadap Matahari yang sesungguhnya adalah sekitar 365,25 hari. Dengan kata lain, terdapat selisih sekitar seperempat hari dalam setahun. Setelah beberapa abad, selisih yang terlihat kecil itu kemudian menumpuk menjadi beberapa hari.

Untuk memperbaikinya, sebuah sistem kalender baru yang disebut dengan Kalender Gregorian (sesuai dengan nama pencetusnya, yakni Paus Gregorius XIII) mulai diperkenalkan pada tahun 1582. Kalender tersebut menyesuaikan diri dengan menambahkan 11 hari untuk melunasi selisih hari-hari tersebut. Dengan kata lain, ketika ditetapkan pada tanggal 4 Oktober 1582, maka hari berikutnya bukan tanggal 5 Oktober, melainkan tanggal 15 Oktober 1582. Menurut Heribert, jika 11 hari saja ditambahkan dalam sejarah dengan sedemikian mudahnya oleh para penguasa, maka bukan mustahil tahun-pun bisa direkayasa.

Bukannya malah menggelitik nalar dan memukau perhatian para sejarawan, teori ini justru banyak ditertawakan. Pasalnya, ada banyak bukti yang menyebutkan bahwa tahun 614 sampai 911 benar-benar ada dan bukan sekedar tahun yang diada-adakan saja. Bukti pertama adalah gerhana matahari yang dicatat oleh para sejarawan selama kurun tahun yang dianggap “halu” tersebut. Beberapa sejarawan Eropa kuno seperti Pliny the Elder  dan Photius menyebutkan bahwa terjadi gerhana matahari pada tahun-tahun tertentu. Klaim sejarah ini kemudian dicocokkan dengan pergerakan matahari yang sudah diketahui oleh para astronom modern yang kemudian membuktikan bahwa pada tahun tersebut memang terjadi gerhana matahari. Padahal, sejarawan dan filsuf Eropa kuno pada masa itu belumlah mampu memprediksi kapan gerhana matahari bisa terjadi (bahkan penyebab kenapa gerhana bisa terjadi saja belum tahu).

Catatan tentang gerhana menjadi bukti yang menyangkal teori ini

SUMBER GAMBAR: UNSPLASH

Tak hanya itu, astrolog di Dinasti Tang di Tiongkok juga mencatat adanya 103 kali gerhana matahari selama kurun waktu 619 hingga 906 M. Ditambah lagi, para penduduk Eropa hingga Tiongkok mencatat rinci penampakan komet Halley pada 374, 451, 607, 684, 837, hingga 912, sesuai dengan prediksi para astronom saat ini. Tentu saja, bangsa kuno Eropa pada tahun 1000 M belumlah paham akan konsep komet Halley yang datang tiap 70-an tahun sekali sehingga sukar bagi mereka untuk memalsukan catatan tersebut.

Bukti kedua berasal dari teknologi penanggalan yang disebut dengan “dendrokronologi” yaitu menghitung lingkaran tahun pada sebuah potongan kayu pohon. Dengan menghitung potongan tersebut kita bisa menghitung tahun telah dilewati oleh pohon tersebut dan menentukan umurnya. Ada banyak bukti bahwa pohon-pohon yang diteliti tersebut juga melewati tahun-tahun tersebut

Bukti sejarah lain yang juga merupakan bukti tak terbantahkan bahwa tahun 600 benar-benar ada dan tidak difabrikasi adalah kelahiran Nabi Muhammad dan munculnya agama Islam di Timur Tengah pada abad ke-7 M. Apabila tahun tersebut dipalsukan, maka tentu tidak akan ada yang namanya Islam. Bukti lain juga berasal dari Dinasti Tang di Tiongkok kuno yang memiliki catatan sejarah yang cukup jelas bahwa tahun-tahun tersebut memang benar-benar ada dan bukan hanya karangan para raja Eropa.

Walaupun jelas terbukti sekedar hoax, namun itu tidak berarti para penguasa nggak bisa memalsukan sejarah lho. Sudah ada bukti kok bahwa sejarah bisa saja dimanipulasi, seperti istilah “sejarah dicatat oleh pemenang” (dari Da Vinci Code sih taunya xixixixi). Contohnya di Indonesia ya mungkin sejarah tragedi 1965 yang masihlah simpang siur.

 

TEORI THURSDAYISM: 

APAKAH DUNIA DICIPTAKAN HARI KAMIS KEMARIN?

Teori berikutnya yang juga akan membuat kita mempertanyakan jati diri kita (ceileh) adalah Teori Omphalos atau yang lebih dikenal dengan nama teori Thursdayism. Teori ini, tak seperti sebelum-sebelumnya yang melibatkan para petinggi negara maupun para raja-raja kuno Eropa, justru melibatkan sosok Tuhan sebagai Sang Pencipta. Teori tersebut berdasarkan sebuah buku tahun 1857 yang berjudul “Omphalos” yang ditulis oleh Philip Henry Gosse, dimana ia berargumen  tentang keberadaan Tuhan Sang Pencipta yang bertentangan dengan bukti-bukti geologis yang ditemukan kala itu. Menurut ilmu geografi yang bisa memprediksi umur gunung-gunung dan jurang dengan menggunakan lapisan-lapisan tanah (seperti menghitung umur pohon-pohon dengan menghitung cincin-cincin pertumbuhan), bumi disimpulkan sudah tercipta sejak jutaan bahkan milyaran tahun lalu. Hal itu berlawanan dengan Teori Penciptaan dari Alkitab yang menyebutkan bahwa bumi hanya berumur beberapa ribu tahun,

Penganut kreasionisme (aliran yang percaya bahwa bumi diciptakan oleh Tuhan, bukan hanya tercipta karena kebetulan saja) menentang keras bukti-bukti yang diberikan para ilmuwan. Nah, teori Omphalos justru berusaha mendamaikan teori kreasionisme dengan bukti-bukti yang ditemukan oleh sains karena teori itu menyatakan pendapat bahwa Tuhan sengaja memalsukan bukti-bukti mengenai usia Bumi, bahkan hingga alam semesta, untuk menipu manusia. Ia memberi contoh ketika Adam dan Eva (nama Eropa bagi Siti Hawa) diciptakan, mereka tidak diciptakan sejak bayi, melainkan langsung merupakan orang dewasa dengan rambut dan kuku yang sudah tumbuh, bahkan memiliki pusar (walaupun masih ada perdebatan sih apa benar Adam dan Hawa punya pusar, tapi menurut gue nggak perlu dibahas di sini).

Nah, dari kata “pusar” ini (dalam bahasa Yunani “omphalos”), muncullah nama teori ini.

Yang jelas, teori ini menyimpulkan bahwa setiap manusia diciptakan dalam kondisi sudah utuh atau dewasa. Maka bagaimana jika Tuhan menciptakan alam ini dalam kondisi yang sudah terbentuk, bukan dari awal? Semisal jurang di Grand Canyon ini bukan terbentuk karena erosi air selama jutaan tahun, melainkan sudah langsung diciptakan seperti ini. Pohon-pohon juga langsung diciptakan dewasa di hutan, walaupun mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat tumbuh sesuai ukuran tersebut. Namun, untuk “membohongi” manusia, Tuhan memberikan bukti-bukti “palsu” (yang kemudian diungkap oleh sains) melalui lingkaran-lingkaran kayu atau  lapisan-lapisan tanah, serta bukti fosil yang seakan-akan menunjukkan bahwa Bumi dan penghuninya berevolusi secara bertahap selama ribuan, jutaan, bahkan miliaran tahun.

Apa benar alam semesta beserta isinya, termasuk manusia, hanya diiptakan beberapa menit atau bahkan beberapa detik lalu?

SUMBER GAMBAR: UNSPLASH

Bukannya mendapat dukungan dari kaum religius, justru pendapat ini mendapatkan tentangan yang sangat berat. Pasalnya para teolog merasa bahwa teori tersebut yang menghina Tuhan dengan mengatakan bahwa Tuhan adalah seorang pembohong dengan memberikan bukti-bukti palsu tersebut. Untuk apa Tuhan menipu manusia? Namun pencetus teori Omphalos kemudian membalik pendapat dengan mengatakan bahwa dengan kebohongan untuk bertujuan mengetahui kesetiaan dan kepercayaan manusia. Apakah dengan bukti-bukti itu manusia tidak lagi mempercayai peristiwa penciptaan yang terkisah dalam kitab suci ataukah justru tetap setia dan beriman kepada Tuhan?

Teori “Omphalos” ini juga disebut sebagai Thursdayism (dari kata “Thursday” yang berarti Kamis). Nah nama ini hanya berdasarkan sebuah lelucon bahwa bumi ini mungkin saja diciptakan hari Kamis kemarin, namun Tuhan kemudian memberikan bukti-bukti palsu yang menunjukkan bahwa bumi diciptakan selama miliaran tahun yang lalu. Menurut teori ini juga, Tuhan menanamkan memori palsu kepada kita sehingga kita memiliki ingatan tumbuh besar hingga sekarang berusia dewasa (jika kalian udah dewasa sih), padahal kita mungkin baru diciptakan beberapa hari yang lalu. Teori ini, hampir sama seperti “Phantom Time Hypothesis” juga mengisyaratkan bahwa Tuhan juga memalsukan sejarah sehingga kita merasa seolah-olah sejarah tersebut pernah terjadi.

Versi lain dari teori ini yang semakin radikal dicetuskan oleh seorang filsuf bernama Bertrand Russell yang menyatakan hipotesis bahwa alam semesta, bumi, dan manusia diciptakan Tuhan 5 menit yang lalu dari ketiadaan. Namun ingatan manusia sudah dipalsukan oleh Tuhan sehingga kita menganggap bahwa kita telah hidup selama bertahun-tahun. Namun teori “5 Menit” ini hanyalah bentuk skeptisisme kok untuk memicu dialog antara mereka yang pro maupun kontra.

Yang jelas teori ini membuat kita mempertanyakan ingatan kita. Apakah kita bisa mempercayai ingatan kita ataukah semua kenangan itu hanyalah fabrikasi semata?

SUMBER: WIKIPEDIA (Serge Monast), WIKIPEDIA (Omphalos Hypothesis), WIKIPEDIA (Phantom Time Hypothesis)

 

12 comments:

  1. Keren artikelnya, Bang.
    Tapi mau gimanapun juga, Dark Age itu enak buat dijadiin latar waktu kisah-kisah Fantasi :D

    * Meski sekarang udah overused.

    ReplyDelete
  2. Kalau dalam kita suci Agama Islam sih, Allah memang mampu menciptakan segalanya secara Instant, tapi ia berkehendak untuk membuat terciptanya sesuatu dimulai dengan proses, sehingga makhluknya (terutama yang memiliki kecerdasan) bisa mempelajari ciptaan-ciptaannya.
    Karena jika sesuatu tercipta secara Instant dan tanpa proses, akan sangat mustahil untuk menemukan awal mulanya apalagi untuk dipelajari.

    ReplyDelete
  3. Yang terakhir meledakan otakku. Mungkin itulah kenapa aku merasa baru kemarin nemu blog ini, padahal udah lama baca-baca blog ini. XD

    ReplyDelete
  4. (gua langsung scroll buat kebawah gegara gk tahan buat komen)
    Itu yang pertama~ jadi keinget kalau perusahaan SpaceX (CMIIW) nawarin buat ngiklan dilangit gt, dan gimana kalau itu tuh uji coba buat ntar simulasi kedatangan Al-Masih /heh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang tuh org lebih mirip supervillain 😂

      Delete
    2. Ngiklan di langit berapa tarif nya ya, pasti lebih mahal dari pasang iklan di serial ikatan cinta

      Delete
  5. Keren emang teori konspirasi gak ada habisnya

    ReplyDelete
  6. gw yg baca teori ketiga di hari jum'at
    "Hmm apakah kebetulan?"

    ReplyDelete
  7. Yg pertama jadi inget ama Spiderman far from home yang villainnya pake semacam hologram... Yg ketiga, jadi apakah baca2 artikel di blognya bang Dave sejak berapa tahun yg lalu juga baru ditanamkan Kamis kemaren? Aya2 wae

    ReplyDelete
  8. Btw bangdep, abad ke 33 M kayaknya typo dr tahun 33 M xixixi

    ReplyDelete
  9. Btw mengenai teori omphalos kayaknya bisa bikin kita mikir enel ugha, secara bisjad pas penciptaan grand canyon emang udah gitu bentuknya, bisjad juga pas awal bumi diciptakan, diciptakan juga berserta pohon2nya yg udah menjulang, g pake proses bigbang2an yg kalo di Nat geo awalnya bumi adalah gumpalan padat yg berproses hhhmm Wallahu alam, hanya Tuhan yg tau, secara ngapain ribet2 pake proses didinginkan dipanaskan, cukup berfirman "tercipta" maka apa yg diinginkan akan "tercipta"

    Buset berat ini gaes berat

    ReplyDelete