Sunday, August 29, 2021

KASUS PEMBUNUHAN TOA PAYOH, SINGAPURA: “CONJURING”-NYA ASIA?

 

Pada 25 Januari 1981 sebuah peristiwa menghebohkan terjadi di Pulau Singapura. Tubuh seorang gadis cilik berusia sembilan tahun ditemukan dalam sebuah tas kresek yang  tergeletak di dekat sebuah lift apartemen di Toa Payoh. Hanya berselang dua minggu kemudian, tubuh lain, kali ini seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, juga ditemukan tak jauh dari lokasi tersebut. Penemuan dua mayat tersebut langsung menggemparkan rakyat Singapura, pasalnya negara tersebut tengah menikmati booming ekonomi dan juga memiliki tingkat kriminalitas yang sangat rendah, berbeda dengan negara tetangganya Indonesia tentu saja.

Namun bahkan untuk ukuran negara dunia ketiga pun, pembunuhan dua bocah cilik ini tentulah terlalu sadis hingga tak dibilang tak bisa masuk dinalar. Polisi pun menjadi geram dan menyelidikinya dengan seksama, hingga akhirnya menemukan sang pelaku sebenarnya. Yang mengejutkan, alasan di balik pembunuhan keji ini sangatlah mengejutkan, yakni berkaitan dengan dunia mistis.

Seperti apakah kasus pembunuhan yang menggemparkan Singapura ini? Mari kita simak bersama-sama pembedahannya.

Apartemen Toa Payoh

Pada tahun 1980-an, sekitar 75% dari penduduk Singapura, terutama yang berkondisi ekonomi menengah ke bawah, tinggal di apartemen-apartemen alias rusun yang disediakan oleh pemerintah. Hal ini memicu perubahan gaya hidup masyarakat. Masyarakat yang awalnya hidup di kampung-kampung yang umumnya masih terikat oleh adat istiadat berubah tinggal gedung-gedung apartemen tinggi dimana para penghuninya lebih menjaga privasinya masing-masing dan memilih tidak mengganggu tetangga-tetangganya yang lain.

Sifat keterisolasian inilah yang nantinya akan di latar belakang kasus pembunuhan yang terjadi di Toa Payoh ini. Walaupun para penghuni apartemen mendengar suara-suara mencurigakan, bahkan teriakan dan tangisan dari salah satu kamar di sebuah apartemen itu, mereka tetap memilih diam dan tak mau ikut campur.

Mereka tak sadar bahwa sebuah kejahatan mengerikan tengah terjadi di dalam ruangan tersebut 

Seperti sudah gue ceritakan di awal, pada 24 Januari 1981 tubuh telanjang seorang gadis berusia 9 tahun berrnama Agnes ditemukan tak lagi bernyawa dalam sebuah tas kresek. Polisi menemukan bahwa gadis tersebut mati dibekap, bahkan ditemukan bekas-bekas pemerkosaan di tubuhnya. Namun setelah melakukan penyelidikan menyeluruh hingga menanyai ratusan saksi, mereka tak menemukan jejak apapun.

Pada 7 Februari, belum genap sebulan dari penemuan mayat pertama, jenazah kedua ditemukan. Kali ini adalah bocah berusia 10 tahun bernama Ghazali Marzuki yang ditemukan tewas tak jauh dari lokasi di mana Agnes ditemukan tewas. Namun kali ini, ada saksi mata mengatakan bahwa sang anak hilang setelah dijemput seorang wanita misterius sepulangnya dari sekolah. Hasil forensik menyebutkan bahwa sang bocah meninggal karena ditenggelamkan dan terdapat luka-luka pencekikan yang mirip dengan jenazah Agnes. Walaupun tak ditemukan luka luka bekas pemerkosaan, tetapi ada bekas obat bius mengalir di dalam darahnya.

Kali ini polisi lebih beruntung. Mereka menemukan jejak darah yang membawa mereka ke sebuah kamar di blok 12, tak jauh dari Blok 11 tempat penemuan mayat kedua bocah tersebut. Ceceran darah tersebut membawa mereka ke sebuah kamar di lantai 7 milik seorang pria bernama Adrian Lim yang kala itu mengaku kepada tetangga-tetangganya sebagai seorang dukun.

Kamar apartemen dimana pembunuhan-pembunuhan itu terjadi

Adrian kemudian berkilah bahwa darah yang ditemukan di apartemennya adalah darah ayam yang digunakan untuk ritualnya. Tentu saja polisi tak begitu saja percaya dan berhasil menemukan bukti bahwa Ghazali, sang korban terakhir, sempat berada di dalam ruangan tersebut. Namun Adrian kembali berkilah dengan mengatakan bahwa Adrian memang sempat datang ke apartemennya untuk melakukan perawatan karena hidungnya berdarah untuk menjelaskan mengapa darahnya berada di apartemen tersebut.

Kecurigaan polisi kembali muncul ketika diam-diam Adrian berusaha menyingkirkan sehelai rambut dari karpet dan berusaha membuangnya ke toilet kursi. Namun polisi berhasil menghentikannya dan dari hasil forensik dibuktikan bahwa rambut tersebut adalah rambut Agnes.

Kini polisipun berhasil menemukan siapa sang pembunuh yang sebenarnya. Namun mengapa Adrian melakukan kejahatan yang teramat sadis itu?

Semua dimulai pada 1942 ketika Adrian Lim lahir di Singapura sebagai anak dari keluarga dari tingkat ekonomi rendah. Adrian dikenal sebagai anak pemarah, bahkan sampai dikeluarkan dari SMP. Iapun bekerja serabutan hingga akhirnya menemukan “passionnya”, yakni menjadi dukun. Pada 1973 Adrian mulai berprofesi sebagai seorang dukun dan mengaku memiliki kekuatan gaib. Kebanyakan dari kliennya adalah wanita-wanita penghibur yang di memang tinggal di wilayah apartemen yang diperuntukkan untuk kaum menengah ke bawah itu.

Namun tentu saja, Adrian sama sekali tidak memiliki kekuatan mistis. Ia hanya menipu para kliennya untuk mendapatkan uang mereka. Adrian kemudian dikenal sebagai “Paman Willy” di lingkungan sekitar dan mengaku memuja Dewa Hindu Kali dan juga Phragann, seorang dewi dari Siam atau Thailand. Ia juga mengaku mampu berkomunikasi dengan dewi-dewi itu melalui ritual-ritual gaib demi menipu kliennya.

Para "dewa" yang disembah Adrian dalam ritual ilmu hitamnya

Adrian memiliki sebuah trick yang cukup cerdik yang disebutnya sebagai trik jarum dan telu. Pertama, ia akan menghitamkan sebuah jarum dengan arang, kemudian menyembunyikannya secara hati-hati ke dalam sebuah telur mentah, lalu menyembunyikan lubangnya dengan tepung. Saat ritual, ia memberikan telur tersebut kepada kliennya sembari membacakan jampi-jampi, kemudian meminta kliennya untuk membuka tersebut. Mereka yang sama sekali tak sadar bahwa telur tersebut sebenarnya sudah diotak-atik tentu langsung terkejut ketika melihat sebuah jarum hitam berada di dalam telur tersebut. Adrian kemudian beralasan bahwa jarum hitam tersebut adalah bukti bahwa ada roh jahat yang tengah mengganggu mereka. Ia kemudian berjanji akan mengusir roh jahat tersebut, tentu dengan imbalan uang.

Tak hanya itu, ia juga kerap menipu klien-kliennya yang berprofesi sebagai PSK dengan menjadikan kecantikan abadi, namun dengan syarat bahwa mereka harus mau berhubungan intim dengannya. Bagi para kliennya yang datang untuk alasan kesehatan, Adrian juga menawarkan sebuah perawatan elektro-shock dengan mengalirkan listrik melalui kabel ke kepala para kliennya dengan jaminan bahwa terapi tersebut dapat menyembuhkan sakit kepala dan penyakit-penyakit fisik lainnya.

Salah satu korbannya adalah seorang wanita bernama Catherine Tan. Tan adalah seorang gadis yang memang bermasalah sejak kecil. Bahkan karena kenakalannya, pada umur 13 tahun ia dikirim ke sebuah panti khusus anak-anak nakal. Pertemuan Tan dengan Adrian berujung pada perselingkuhan yang menyebabkan istri Adrian kemudian meninggalkan suaminya tersebut sembari menggugat cerai dan membawa kedua anak mereka pindah dari apartemen tersebut. Tapi bukannya kapok, Adrian malah justru memanfaatkan Tan sebagai asistennya hingga bisnis perdukunannyapun semakin lancar. Bahkan dalam seminggu sebulan ia bisa meraup uang sekitar 6.000 sampai 7.000 dolar Singapura atau sekitar 43 juta rupiah. Pada 1977, Adrian dan Tan memutuskan untuk menikah

Namun tak selamanya rumah tangga mereka berjalan dengan mulus. Adrian dikenal sebagai pria yang sangat kasar dan temperamental, bahkan kerap memukuli istrinya. Bahkan yang lebih keterlaluan, Adrian memaksa istrinya tersebut untuk melacurkan diri demi menambah pundi-pundi pendapatan keluarga mereka. Namun sang istri tak mampu menolak sebab Adrian adalah seorang pria karismatik yang memiliki kemampuan mempengaruhi dan mencuci otak siapapun yang diinginkannya. Bahkan Adrian beralasan bahwa semakin banyak Tan berhubungan seksual dengan pria-pria, maka iapun akan semakin muda dan cantik.

Pada 1979, Adrian kemudian bertemu dengan kroni keduanya, yakni seorang wanita bernama Hoe. Hoe dan ibunya juga menjadi korban trik telur dari Adrian dan menjadi pelanggan tetapnya. Bahkan karena mempercayai bahwa Adrian memiliki kemampuan mistis supranatural, maka Hoe kemudian tertarik untuk menjadi pengikut Adrian.  Adrian kemudian memutuskan untuk menjadikan Hoe sebagai salah satu “istri suci”-nya, walaupun Hoe telah menikah dengan seorang pria bernama Benson.

Tentu saja sang suami kemudian marah besar dan mencoba mencari istrinya ke rumah Adrian. Akan tetapi Adrian kemudian membunuhnya dengan cara mengelektrokusinya dengan terapi listrik seperti yang sudah gue sebutkan tadi. Parahnya, kematian Benson hanya dianggap sebagai kecelakaan biasa oleh pihak berwajib sebab Adrian beralasan bahwa Benson meninggal karena memperbaiki saluran listrik di rumahnya.

Marzuki, salah satu korban kebiadaban Adrian Lim yang masih berusia amat belia

Kematian Benson membuat Hoe menjadi menyesal, bahkan ia mulai kehilangan kewarasannya dan mengaku bahwa ia bisa mendengar suara dan melihat arwah suaminya tersebut. Akibatnya, Hoe sempat dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Setelah ia dinyatakan “sembuh” dan dilepaskan, iapun lebih memilih kembali ke rumah Adrian.

Kini setelah memiliki 2 istri suci yaitu Hoe dan Tan, ulah Adrian semakin menjadi-jadi. Ia kemudian berusaha melecehkan beberapa wanita yang menjadi pasiennya. Tapi tak semua korbannya sesubmisif kedua wanita tersebut. Seorang wanita bernama Lucy Lau, seorang sales yang pernah coba dicabuli oleh Adrian, kemudian melaporkannya kepada polisi.

Takut dirinya akan ditangkap oleh polisi, Adrian kemudian menjadi yakin bahwa apabila ia mengorbankan anak-anak kepada Dewi Kali, maka kekuatan supranatural sang dewi akan membantunya keluar dari masalah tersebut. Ia kemudian meminta ketua asistennya untuk mencari dua korban untuk sebagai persembahan kepada Dewi Kali.

Pada  24 Januari 1981, Hoe mendapatkan korban pertamanya yakni seorang gadis cilik bernama Agnes yang dilihatnya tengah sendirian di sebuah gereja dekat apartemen mereka. Setelah diberikan makanan dan minuman yang sudah dicekoki dengan obat bius, Agnespun tak sadarkan diri. Setelah memperkosanya, Adrian kemudian membunuh Agnes dengan cara menutup kepalanya dengan bantal. Tak hanya itu, demi melancarkan ritualnya, Adrian kemudian mengambil darah Agnes, meminumnya, lalu menyebarkan darah tersebut ke sebuah lukisan Dewi Kali. Untuk memastikan Agnes itu benar-benar sudah tak bernyawa lagi, Adrian kemudian menyetrumnya. Mereka lalu memasukkan tubuhnya ke dalam sebuah tas dan membuangnya di dekat lift apartemen

Nasib yang lebih mengerikan dialami oleh Ghazali yang dibawa ke apartemen mereka pada 6 Februari oleh Hoe. Ghazali tak mempan untuk dibius sehingga selama ritual, Ghazali masihlah hidup dan terus melawan. Para pelaku akhirnya berhasil membunuh Ghazali dan mengambil darahnya, tapi setelah meninggal darah terus mengucur dari hidungnya, bahkan ketika mayatnya dipindahkan. Seperti kita tahu, tetesan darah itulah yang membawa para polisi ke apartemen milik Adrian dan membongkar kejahatannya.

Proses pengadilan Adriam Lim dan kroni-krono menarik perhatian publik kala itu

Aksi pembunuhan sadis Adrian Lim dan kedua istri “suci”-nya tersebut membuat heboh Singapura. Bahkan ketika proses pengadilan berlangsung, tak jarang massa berkumpul di luar gedung untuk menunggu hasil dari proses penyelidikan tersebut. Walaupun seperti sudah gue sebutkan tadi bahwa Hoe, sang pelaku penculikan kedua anak tersebut mengalami skizofrenia, akan tetapi polisi dan psikolog beranggapan bahwa ketika membunuh kedua anak tersebut Hoe berada dalam keadaan sadar dan tahu betul apa konsekuensi dari perbuatannya. Akibatnya, ketiga pelaku yakni Adrian, Tan, dan Hoe diberi hukuman yang sama, yakni dihukum mati. Namun bukannya menyesal, Adrian justru meneriakkan kata “Terima kasih Tuhan!” ketika vonis tersebut dibacakan.

Adrian dan para kroninya dihukum mati pada 25 November 1988. Seorang pendeta yang kala itu itu menjadi orang terakhir yang ditemui oleh Adrian sebelum ia dihukum mati justru mengatakan bahwa Adrian adalah seorang pria yang sangat ramah dan bersahabat, berbeda dengan statusnya sebagai seorang pembunuh berantai dan pemimpin cult kejam. Setelah digantung, tubuh mereka bertiga kemudian dikremasi.

Kasus pembunuhan oleh Adrian Lim ini meninggalkan luka yang mendalam bagi publik Singapura. Pasalnya proses pengadilan ketiga pembunuh tersebut menjadi bulan-bulanan media hingga senantiasa disiarkan setiap hari. Bahkan detail yang dirasa gory dan berbau seksual seperti proses pemerkosaan korbannya dan juga cara mereka dibunuh dibeberkan dengan sangat vulgar di surat kabar. Hal ini membuat para pemuka agama di Singapura menjadi cemas dan bahkan protes, takut bahwa berita-berita tersebut akan membuat moral para kaum muda menjadi rusak.

Buku-buku yang mengisahkan tentang kasus-kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Adrian juga langsung menjadi best seller di negara tersebut. Pada 1990-an, dua buah film juga dirilis, terinspirasi oleh kasus pembunuhan oleh Adrian Lim. Pada 2015, sebuah surat kabar Singapura “The Straits Times”” menerbitkan sebuah buku berjudul Guilty As Charged: 25 Crimes That Have Shaken Singapore Since 1965” dan memasukkan kasus Adrian Lim sebagai salah satu dari 25 kasus yang pernah mengguncang Singapura. Buku itupun lagi-lagi menjadi best seller di negara tersebut.


SUMBER: WIKIPEDIA

 

8 comments:

  1. itu muka para pelakunya kayak memang ingin ditonjok

    ReplyDelete
  2. Si kedua istri suci itulo, Hoe dan Tan, kok bisa-bisanya ya, kayak kena cuci otak gitu, mirip kayak kasus Rie ikari dan emiko itu, kena cuci otak parah hyyyyy :((

    ReplyDelete
  3. Serem....
    Jadi ingat kasus perempuan yg dibunuh (?) di depan pintu apartemennya (lupa-lupa ingat baca di sini atau dimana). Yg tetangganya tau, tapi pura-pura gak tau karena individualismenya itu...
    Kalo denger suara mencurigakan, kenapa gak telepon polisi aja? Kasihan anak-anak itu. Tapi puas juga mereka bertiga dihukum mati. Perannya Tan dlm kasus pembunuhan itu apa, Bang? Dia bagian apanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anda gak tau hidup di area apartemen slum gitu.
      Semakin individual dan lo lo gue gue.
      Di new york juga ada sama. Teriakan2 gitu gak diindahkan namanya By-stander cases

      Delete
  4. "ukuran negara dunia ketiga"

    Maaf bang dave ada fans kritis. Negara dunia ektiha itu artinya non block west-east.
    Kalau di kalimat ini agak menekankan soal negara 3rd itu miskin dan pembunuhannya kejam2
    Padahal world 1s 2nd 3rd itu adalah keberpihakan politik coldwar

    ReplyDelete
  5. kan dia adalah dukun gadung, jadi mau teriak2 tetangganya dikira lagi di obati makanya ga curiga samsek. ini pernah di bahas di channel yt nadia omara

    ReplyDelete