Sunday, August 8, 2021

KARTEL SINALOA: KIPRAH KEJAM ORGANISASI TERLARANG YANG MENGUASAI PERDAGANGAN NARKOTIKA DUNIA

Sumber gambar: UNSPLASH

Jika kalian rajin mengikuti semua postingan blog gue maka mungkin nama “Sinaloa” tidaklah asing bagi kalian kalian. Jika kalian ingat kasus yang menimpa gadis-gadis Panama alias Kris Kremers dan Lise Froon yang menghilang ketika mereka tengah hiking di pedalaman belantara Panama, ada yang menduga bahwa mereka menjadi korban kejahatan organisasi Sinaloa yang membunuh mereka. Namun apakah Sinaloa itu?

Sinaloa adalah sebuah kartel yang disebut-sebut sebagai kartel obat bius terbesar di dunia. Mereka juga dikenal sebagai organisasi kriminal terkuat di dunia, di mana negara-negara di Amerika Latin seperti Mexico dan Columbia, bahkan dengan bantuan Amerika Serikat sendiri sampai sekarang belum mampu menghabisi kartel tersebut. Sinaloa dikenal pula dengan “Blood Alliance” atau Federasi Persaudaraan Darah. Organisasi ini membawahi berbagai tindak kriminal seperti drug trafficking atau penyelundupan obat bius, money laundering atau pencucian uang, hingga kejahatan-kejahatan terorganisasi lainnya seperti pembunuhan dan penculikan.

Kartel yang terbentuk sejak tahun 1980 ini berpusat di negara bagian Sinaloa yang terdapat di Meksiko, Amerika Tengah. Dari lokasi inilah kartel ini mendapatkan namanya. Mungkin kalian pernah mendengar sekilas tentang pemimpin tertinggi kartel Sinaloa ini yang sangat terkenal, yakni  pria Amerika Latin bernama “El Chapo” yang disebut-sebut sebagai salah satu orang yang paling dicari di Amerika. Setelah kini ia mendekam di dalam penjara, kepemimpinan dipegang oleh asistennya Ismael Zambada Garcia dan juga anak-anaknya.

Seperti apakah kiprah organisasi kejahatan terbesar di dunia ini? Kita simak pembahasannya berikut ini.


THE BROTHERHOOD OF BLOOD

Lokasi Sinaloa di Meksiko

Kartel Sinaloa beroperasi di wilayah yang disebut dengan “Segitiga Emas” yang melibatkan 3 negara bagian Meksiko yang paling banyak memproduksi obat bius, yakni Sinaloa, Durango, dan Chihuahua. Daerah-daerah ini merupakan penghasil opium dan marijuana (ganja) yang merupakan obat-obatan narkotika yang dihasilkan oleh tumbuhan (lebih “go back to nature”). Namun bukan berarti kartel ini tidak melibatkan zat-zat narkotik sintetik seperti kokain dan heroin. Bahkan saking besarnya organisasi ini, diduga mereka telah mendistribusikan sekitar 200 ton kokain dan heroin hanya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Hingga kini Simaloa masihlah menjadi kartel yang paling dominan dalam dunia perdagangan obat bius Meksiko. Walaupun tak bisa dipungkiri mereka juga memiliki saingan saingan berupa kartel-kartel lain yang juga sama kejamnya.

Kartel ini awalnya dibangun pada tahun 1960 oleh Pedro Avilés Pérez yang dianggap sebagai pionir “drug lord” atau raja obat bius di Meksiko. Ia juga menjadi perintis penggunaan pesawat terbang untuk menyelundupkan obat-obatan terlarang ke Amerika Serikat. Sepeninggal Perez, maka posisi kepemimpinan Sinaloa dipegang oleh keponakannya yang bernama Joaquín Guzman yang sering dikenal dengan nama “El Chapo”. Sinaloa  juga dikenal dengan nama “Blood Alliance” atau Persaudaraan Darah karena kesetiakawanan yang begitu kental antara para anggotanya, meskipun mereka melakukan berbagai macam aksi kejahatan.

Kekuasaan kartel ini makin meluas, bahkan menguasai 22 dari 31 negara bagian di Meksiko. Bahkan mereka telah memegang kendali perdagangan obat bius di ibu kota Mexico sendiri yaitu Mexico City. Tak hanya memproduksi sendiri, namun Sinaloa juga dikenal mengimpor obat-obatan terlarang berupa heroin dan ganja dari Asia Tenggara (nah loh) ke Amerika Serikat yang tentu saja menjadi konsumen utama. Aneh memang, namun obat-obatan terlarang yang diedarkan oleh kartel ini justru bukan dinikmati warga Meksiko sendiri, melainkan diselundupkan ke Amerika Serikat. Pasalnya penduduknya dikenal lebih makmur sehingga memiliki banyak uang dan menjadi sumber pendapatan para kartel ini.

Kota Chicago di AS-pun sampai menjadi wilayah kekuasaan kartel asal Meksiko itu

Tak heran, keberadaan kartel ini sering menimbulkan konflik di Amerika Serikat. Pasalnya, tak hanya berbatasan darat langsung dengan Amerika Serikat, mereka juga membuka “cabang” di berbagai kota besar di Amerika Serikat yakni di Phoenix, Arizona; California; Chicago, Illinois; Texas; New York; hingga Washington. Berbagai cara digunakan oleh kartel ini untuk menyelundupkan barang-barang terlarang ke Amerika Serikat, contohnya dengan menggunakan pesawat, kapal, bus, kereta, mobil, bahkan menggunakan kapal selam.

Sinaloa mencapai puncak kejayaan pada tahun 1980 ketika mereka akhirnya menjadi organisasi obat bius terbesar di Meksiko. Mereka juga dikenal mencuci uang mereka di bank asal Inggris. HSBC. Mereka juga dikenal amat kejam dalam menyingkirkan musuh-musuh serta saingannya. Mereka tak segan-segan terlibat dalam pertempuran menggunakan senjata api hingga memenggal kepala lawan-lawannya. Demi menyembunyikan barang bukti, mereka juga dikenal memiliki modus operandi unik, yaitu melarutkan tubuh jenazah musuh-musuhnya ke dalam larutan alkali atau basa kuat sehingga hancur dan mudah disingkirkan (seperti yang mungkin dialami oleh para gadis Panama). Tak jarang, mereka merekam aksi sadis mereka itu dan menguploadnya ke internet untuk memperingatkan lawan-lawan mereka.

Meskipun berpusat di Amerika Tengah, namun kejahatan kartel telah mencapai Chicago yang terletak di wilayah utara Amerika Serikat. Bahkan kota Chicago sendiri menyebut pemimpin tertinggi kartel Sinaloa sebagai musuh besar mereka, walaupun sang El Chapo sendiri tak pernah menginjakkan kakinya di Chicago. Ia adalah orang kedua yang mendapat gelar ini setelah Al Capone, bos mafia terkenal keturunan Italia yang menjadi inspirasi dari “The Godfather”.

Cukup wajar mengapa Chicago mendeklarasikan perang kepada El Chapo. Pasalnya geng Sinaloa telah menyebabkan kekacauan di kota tersebut. Bahkan mereka diduga telah menyebarkan hingga 2 ton narkoba serta memiliki 120.000 anggota geng di kota itu. Tak hanya itu, mereka juga sering melakukan perang antargeng dengan geng geng berkulit hitam yang tak jarang menyebabkan jatuhnya korban jiwa tak berdosa.

Terowongan bawah tanah yang digunakan kartel untuk menyelundupkan narkotika ke AS

Bagaimana cara Kartel Sinaloa menyelundupkan barang-barang terlarang yang ke Amerika? Jawabannya cukup mengejutkan dan tak pernah diduga sebelumnya. Semua dimulai pada 24 Mei 1993, ketika seorang kardinal (pemimpin tinggi agama Katolik di suatu negara)  bernama Juan Jesús Posadas Ocampo tiba di bandara Tijuana, Mexico. Sang kardinal dikenal sangat menentang keberadaan Kartel Sinaloa karena aksi haram mereka menyalahi prinsip-prinsip dalam agama Katolik. Namun sayang, ketika sang pemuka agama Katolik tersebut tiba di bandara, pembunuh-pembunuh misterius muncul dan menembaknya hingga mati.

Kartel Sinaloa memang kerap melancarkan aksi pembunuhan keji melalui tangan para sniper atau penembak jitu yang sering disebut dengan julukan “sicario”. Para sicario ini terkenal amat kejam sehingga bisa dipastikan mereka-lah yang bertanggung jawab atas kematian sang kardinal. Pada 31 Mei 1993, pihak berwajib Mexico yang berusaha menyelidiki peristiwa berdarah di bandara tersebut menemukan hal yang sangat mengejutkan. Tanpa sengaja, mereka menemukan sebuah terowongan di bawah Bandara Tijuana yang melintasi perbatasan Amerika melalui bawah tanah dan berujung di sebuah gudang di kota San Diego, Amerika Serikat.

Sebelumnya pada tahun 1989 memang polisi pernah menggrebek terowongan bawah tanah dari sebuah rumah di Sonora, Meksiko ke sebuah gudang di kota Douglas, Arizona. Namun terowongan itu hanya sepanjang 91 meter, sedangkan terowongan yang ditemukan di bawah bandara ini panjangnya hampir mencapai setengah kilometer DEA, badan yang mengurus tentang narkotika di Amerika Serikat sampai menyebut terowongan ini sebagai ‘Taj Mahal”-nya Kartel Sinaloa karena digunakan melewati perbatasan dengan begitu mudahnya untuk menyuplai narkotika di Amerika Serikat.

Terowongan ini juga bukan terowongan bawah tanah biasa, melainkan amatlah canggih karena dilengkapi dengan listrik, ventilasi, bahkan rel kereta api untuk menransportasikan barang-barang terlarang tersebut. Pada 2011 terowongan yang lebih panjang juga ditemukan di ujung Bandara Tijuana, kali ini terletak di bawah tepat di bawah landasan bandar udara tersebut. Herannya, terowongan tersebut digali hanya sekitar 300 meter dari markas militer Meksiko dan 100 m dari kantor polisi terdekat. Hal ini menunjukkan keberanian dan kepedean Kartel Sinaloa yang merasa berada di atas angin.


THE LEGEND OF EL CHAPO

Perang tak hanya terjadi antara pemerintah Meksiko dengan kartel, namun perang sengit antara para kartel dengan saingannya. Contohnya Kartel Sinaloa terkenal sejak lama bermusuhan dengan Kartel Tijuana untuk berebut rute perdagangan narkoba ke kota San Diego, California. Pertempuran ini melibatkan sekitar 200.000 anggota mereka yang terdiri atas para prajurit bayaran dan para sicario. Bahkan masing-masing pihak mengerahkan total 500 tank, 100.000 kendaraan lapis baja, 15 helikopter, bahkan melibatkan kapal selam yang mereka beli berkat kekayaan mereka.

Perang antara kartel di Tijuana dan Sinaloa memuncak pada 24 Mei 1993. Mungkin kalian masih ingat pada tanggal itu terjadi penembakan kepada seorang kardinal Katolik bernama Ocampo. Tak hanya peristiwa itu memakan korban sang kardinal, namun juga 5 warga sipil tak berdosa lainnya. Banyak yang curiga bahwa kardinal tersebut, walaupun sangat keras menentang keberadaan kartel obat bius di Meksiko, sesungguhnya bukanlah sasaran utama mereka. Ia hanyalah “casualty” atau korban salah tembak, pasalnya pihak pemerintah Meksiko sendiri percaya bahwa sicario tersebut sebenarnya dikirim untuk membunuh bos dari kartel Sinaloa, siapa lagi kalau bukan El Chapo, yang kebetulan berada di bandara yang sama.

Pada 2004, seorang jurnalis bernama Roberto García dari majalah “El Mañana” dibunuh oleh kartel. Hal ini menyebabkan para wartawan menjadi ketakutan dan media-media lokal mulai berhati-hati dalam melaporkan pertempuran antara kedua kartel tersebut. Namun mungkin kalian bertanya-tanya, siapakah sebenarnya El Chapo? Mengapa sosoknya begitu karismatik hingga mampu membawa Kartel Sinaloa ke puncak kejayaan?

El Chapo memiliki nama asli Joaquín Guzmán dan lahir pada 4 April 1957. Ia dikenal dengan nama “El Chapo” karena tinggi badannya yang cukup pendek untuk ukuran para penduduk Amerika Latin, yakni 168 cm. “El Chapo” sendiri dalam bahasa Spanyol berarti “Si Pendek”. Namun jangan remehkan dirinya, sebab Ia mampu menjadi pemimpin dan juga drug lord paling berkuasa di dunia.


Kota Sinaloa yang menjadi markas kartel narkoba

El Chapo lahir di kota Sinaloa dan dibesarkan dalam keluarga yang miskin. Tak hanya hidup dalam ketimpangan ekonomi, namun ia juga harus menderita di tangan ayahnya yang sangat abusif dan kerap memukulinya. Bahkan pada usia muda ia menyambung hidup dengan dipaksa untuk menanam ganja untuk para penyelundup lokal. Hidupnya mulai berubah ketika pada 1970 ia bekerja pada pamannya Héctor Salazar, salah satu drug lord yang tengah naik daun. Ia kemudian membantu pamannya itu untuk menyelundupkan narkotika dari Meksiko ke Amerika Serikat yang jelas melipatgandakan keuntungan yang didapatkannya.

Atas jasanya tersebut akhirnya ia menjadi tangan kanan bos kartel bernama Miguel Gallardo hingga akhirnya sang bos tersebut tertangkap pada tahun 1988 dan El Chapo diangkat sebagai penggantinya. El Chapo mulai bekerja untuk memajukan kartelnya dan sukses, hingga DEA membandingkannya dengan bos narkoba lainnya yang terkenal, yakni Pablo Escobar.

Pada 1993, El Chapo tertangkap di Guatemala dan diekstradisi di Meksiko. Ia diganjar dengan hukuman 20 tahun penjara atas tuduhan drug trafficking. Pada 2011, ia berhasil menyuap sipir dan berhasil kabur dari penjara tersebut. Statusnya sebagai buronan memaksa Meksiko dan Amerika Serikat bekerjasama untuk menangkapnya bahkan menawarkan hadiah sebanyak 8,8 juta dolar (sekitar 144 M rupiah) bagi informan yang bisa membantu para pihak berwajib untuk kembali menangkapnya. Pada 2014, akhirnya ia berhasil ditangkap kembali di Meksiko.

Setelah tertangkap kembali, banyak pihak yang merayakannya dengan gembira. Tercatat presiden Meksiko, Guatemala, Kosta Rika, dan negara-negara lain di Amerika Tengah dan Amerika Selatan merayakannya dengan gegap gempita. Tapi kegembiraan itu itu berjalan dengan singkat karena hanya dalam waktu setahun, ia berhasil melarikan diri kembali melalui sebuah terowongan yang digali di bawah sel penjaranya.

Hal tersebut membuat malu pemerintah Meksiko, bahkan pihak pers mengkritik pemerintah dan menyorot tingkat korupsi yang sangat tinggi sebagai penyebab sang bos kartel tersebut mampu kabur. Menurut penuturan pihak resmi pemerintah, sekitar 78 orang “orang dalam” telah membantunya dalam rencana kabur itu, Bahkan demi memuluskan aksinya tersebut, El Chapo berani membayar hingga 2,5 juta dolar (hampir 41 M rupiah) untuk menyuap para sipir dan juga pihak-pihak berwajib lainnya. Uang sebanyak itu bak upil di mata El Chapo, pasalnya bisnis narkobanya membuatnya tercatat sebagai orang terkaya ke-10 di Meksiko dengan kekayaan melebihi 1 miliar dolar (16 triliun rupiah).

Namun disinilah terlihat kekuasaan dan kharisma El Chapo. Tak hanya bergelimang harta, ia ternyata juga senantiasa dikelilingi gadis-gadis cantik dan juga sexy yang siap membantunya dalam proses kaburnya itu, Tercatat ada Kate Castillo, aktris cantik dan sensual asal Meksiko yang dikenal cukup dekat dengan sang pria tersebut. Bahkan Kate sangat mengagumi El Chapo hingga hendak membuat film tentangnya. Bahkan begitu mendengarnya, aktor terkenal asal Amerika, Sean Penn langsung mengajukan diri agar bisa bermain dalam film tersebut.

Walaupun El Chapo tengah dalam pelarian ia dengan berani mengundang artis cantik tersebut untuk mengunjunginya di tempat persembunyian di Pegunungan Sierra Nevad.  Pada 2 Oktober 2014, Kate dan Sean mengunjungi El Chapo selama 7 jam dimana Sean kemudian mewawancarainya sebagai utusan majalah “Rolling Stone”. Namun pertemuannya dengan sang aktris nyaris saja membongkar tempat persembunyiannya. Pemerintah Meksiko ternyata mampu menemukan tempat persembunyian El Chapo berkat wawancara tersebut dan melancarkan serangan atau “raid” pada tahun 2015.

Kate Castillo

Lagi-lagi El Chapo berhasil kabur kala itu, ditemani oleh dua orang wanita dan seorang bayi. Karena memiliki wanita dan bayi sebagai tamengnya, maka polisi pun tak berani menembak dan iapun berhasil kabur menggunakan helikopter. Dua wanita cantik yang bersama El Chapo tersebut kemudian diketahui sebagai koki pribadinya. Namun polisi tak mudah menyerah dalam melakukan pencarian besar-besaran hingga mereka berhasil menggerebek sebuah rumah di kota Los Mochis dimana El Chapo bersembunyi dan berhasil meringkusnya setelah aksi tembak-tembakan.

El Chapo kemudian berusaha menyuap para polisi dengan tawaran uang yang sangat banyak, mengingat ia adalah salah satu pria terkaya di Meksiko. Namun ternyata para penegak hukum tersebut adalah polisi-polisi yang jujur dan menolak tawaran tersebut. El Chapo kemudian mengancam keempat polisi tersebut bahwa 40 orang assassin alias pembunuh bayaran tengah dalam perjalanan untuk membebaskannya (dikira John Wick kali ya). Namun ancaman itu tak membuat mereka gentar dan langsung El Chapo-pun dipindahkan ke Meksiko menggunakan helikopter untuk ditahan di penjara dengan keamanan maksimum. Iapun kemudian diekstradisi ke Amerika Serikat dan masih mendekam di tahanan di sana.

Tak hanya artis cantik saja yang kepincut dengan pesona sang El Chapo. Seorang wanita lain bernama Emma Coronel yang merupakan istri El Chapo sendiri adalah mantan ratu kecantikan. Tak hanya memiliki paras yang rupawan, Emma juga adalah putri dari tangan kanan El Chapo sendiri yang bernama Inés Coronel. Pada 2021, Emma akhirnya ditangkap oleh kepolisian Amerika Serikat karena dituduh bekerjasama dengan suaminya untuk menyelundupkan heroin, mariyuana, dan kokain ke Amerika Serikat. Hingga kini sang wanita cantik ini masih mendekam di penjara dan menjalani hukuman 30 tahun penjara.

Wanita cantik lainnya yang juga dekat dengan El Chapo adalah María Alejandrina Salazar yang merupakan mantan istri dari El Chapo. Walaupun telah berpisah, namun Maria ternyata masih membantu operasi penyelundupan narkoba Kartel Sinaloa. Bahkan bersama anaknya Guzman Salazar, mereka ditangkap di Amerika Serikat dan dihukum atas tuduhan penyelundupan. Mantan istri lain dari El Chapo ini adalah Griselda Pérez yang juga mendekam dalam penjara setelah dituduh oleh pemerintah AS membantu suaminya menyelundupkan barang haram tersebut.

Tak hanya itu, pada 2012 seorang wanita misterius bernama Alejandrina Gisselle Salazar yang adalah seorang dokter juga tertangkap ketika menyeberang dari Mexico ke kota San Diego, Amerika Serikat. Yang mengejutkan, wanita cantik ini justru mengaku sebagai putri dari El Chapo dari pernikahannya dengan Maria yang lebih dahulu tertangkap oleh pihak berwajib.


THE SINALOAN CONSPIRACY

Pil ekstasi yang menjadi barang dagangan kartel

Mungkin kalian berpikir Sinaloa toh adanya nun jauh di sana dan bukan masalah kita, yekan? Coba pikir lagi sebab seperti gue bilang tadi, mereka juga memiliki koneksi dengan geng-geng yang berasal di Asia Tenggara. Tercatat mereka juga beroperasi di negara tetangga kita, Filipina. Pada 2013, Presiden Rodrigo Duterte melancarkan perang kepada cabang kartel Sinaloa di Filipina ketika 3 anggota kartel tersebut tertangkap di wilayah Lipa di Provinsi Batangas dengan membawa 80 kg methamphetamine, sejenis narkotika sintetik.

Di Asia, Kartel Sinaloa juga bekerjasama dengan Triad, organisasi mafia dari daratan China untuk mendapatkan bahan-bahan kimia yang nantinya akan dipergunakan untuk mensintesis narkotika terlarang. Namun, sama sekali belum ada kabar berita bahwa mereka menggabungkan kekuatan dengan Yakuza pula dari Jepang.

Tak hanya Asia, Kartel Sinaloa juga berniat untuk melebarkan sayap perdagangan mereka hingga ke benua biru Eropa. Pada 30 Desember 2014, salah seorang petinggi Sinaloa bernama José Gamboa tertangkap di Amsterdam, Belanda sana. Padahal, Jose adalah pemimpin Los Antrax, grup pembunuh bayaran (assassin) milik Kartel Sinaloa. Hal ini tentu saja membuat berang para anggota interpol yang berusaha memadamkan perdagangan obat bius di Eropa sana.

Keberadaan dari Kartel Sinaloa juga membangkitkan sebuah teori konspirasi yang rupanya terbukti benar. Pihak pers telah lama mencurigai bahwa Kartel Sinaloa selama ini bisa bekerja dengan mulus karena mendapat dukungan Amerika Serikat. Memang, mengingat militer dan agen-agen rahasia AS mengaku sebagai nomor satu di dunia dengan dibekali peralatan-peralatan canggih, bahkan bisa menginvasi negara lain, sukar dipercaya bahwa hingga saat ini mereka belum bisa menghancurkan Kartel Sinaloa yang berada di negara tetangga mereka sendiri. Apa ada kongkalingkong dii antara mereka?

Konspirasi ini terbongkar ketika pada tahun 2012 sebuah surat kabar “Newsweek” melaporkan bahwa para agen-agen dari DEA bekerjasama dengan penasehat bahkan tangan kanan El Chapo sendiri yang bernama Humberto Loya-Castro untuk menjadi informan kunci bagi DEA. Namun bagaimana mungkin tokoh terdekat dengan El Chapo  sendiri malah agen rahasia tanpa ketahuan oleh bosnya? Ternyata semua itu memang sudah direncanakan. Castro memang bekerjasama dengan atas izin El Chapo sendiri

Apabila mau bekerja sama, Castro dijanjikan mendapat imunitas dari DEA sehingga dia tidak akan bisa didakwa atas tuduhan apapun. Sebagai gantinya, Castro memberikan informasi mengenai kartel-kartel lawan dari Sinaloa yang saling bersaing dalam memperebutkan perdagangan obat bius di Amerika Serikat.

Persetujuan ini menjadikan Kartel Sinaloa bebas dari hukum, namun membuat lawan-lawannya menjadi kelimpungan karena menjadi target dari operasi-operasi pemberantasan dari pihak yang intelijen Amerika Serikat. Hal ini tentu diam-diam merugikan masyarakat, pasalnya walaupun kartel-kartel lawan itu bisa diberantas, namun musuh yang sesungguhnya, yakni Sinaloa sendiri, malah bebas berdagang obat bius karena dilindungi oleh pihak Amerika Serikat sendiri.

Ada dugaan kartel Sinaloa bekerja sama dengan pemerintah AS sendiri

SUMBER GAMBAR: UNSPLASH

Apakah memang ini merupakan kerjasama demi mengurangi peredaran narkoba di Amerika Serikat? Karena tentu saja, lebih baik hanya satu kartel yang bekerja daripada ada banyak kartel yang menyerang Amerika Serikat. Namun ada pula yang menyebut hal tersebut sebagai simbiosis mutualisme, dimana Sinaloa dapat melenggang bebas untuk mengedarkan narkoba, sedangkan oknum pemerintah AS yang kongkalingkong dengannya juga bisa mendapat pasokan uang bayaran dari Sinaloa sendiri.

Skandal panas ini semakin mengemuka ketika email dari seorang diplomat Meksiko bocor ke khalayak ramai pada 2012, dimana pada email tersebut pihak Amerika Serikat mengaku bahwa mereka memang bekerja sama dengan Kartel Sinaloa demi menurunkan tingkat kekerasan antara kartel-kartel obat bius di Amerika Serikat.

Tak hanya sampai disitu, media Inggris BBC pada Maret 2015 membongkar konspirasi lain di mana mereka memberitakan bahwa pemerintah AS sendiri, lewat operasi yang disebut dengan “Fast and Furious” (bukan film “ngeng ngeeeng” itu) mengizinkan penjualan senjata-senjata ilegal dari Amerika Serikat kepada Kartel Sinaloa. Apa tujuan Amerika Serikat mempersenjatai kartel paling berbahaya di dunia tersebut? Yang jelas terkuaknya skandal ini memicu kecurigaan bahwa Amerika Serikat mendapat keuntungan dari perdagangan obat bius yang ditangani oleh kartel Meksiko tersebut. Jika tidak, mengapa mereka sampai begitu getol mensponsori mereka dengan menjual senjata-senjata api kepada kartel paling berbahaya tersebut?

Yang jelas, setelah tertangkapnya El Chapo, Kartel Sinaloa jelas kehilangan sosok kharismatik yang dulunya membawa kartel tersebut ke puncak kejayaan. Mungkin saja kerja sama itu mereka lakukan demi menyingkirkan para pesaing mereka yang mulai mengancam keberadaan kartel tersebut, terutama setelah kepergian El Chapo. Tak hanya itu, keberadaan kartel ini juga mulai tergerus oleh ancaman internal sendiri. Tercatat, pengganti El Chapo sebagai pemimpin tertinggi kartel tersebut adalah Ismael Zambada García yang disebut “El Mayo” yang tak memiliki hubungan darah dengan El Chapo.

Hal ini konon membuat anak-anak kandung El Chapo sendiri menjadi iri dan berkeinginan merebut kekuasaan. Persaingan antara El Mayo dengan anak-anak El Chapo memuncak pada insiden di Culiacán, dimana kala itu salah seorang anak El Chapo bernama Ovidio Guzman tertangkap oleh tentara Meksiko, namun sang El Mayo justru menarik anak buahnya alias tak mencegah aksi penangkapan tersebut. Pada 2020, menguar berita yang menyebutkan El Mayo tengah didera sakit berkepanjangan akibat diabetes sehingga diragukan apakah ia masih mampu memangku tampuk kekuasaaan, sehingga perebutan kepemimpinan di antara anak-anak El Chapo hampir tak terelakkan lagi.

Mari kita tunggu saja, apa yang akan terjadi dengan sindikat kriminal terbesar di dunia ini nantinya.

SUMBER: WIKIPEDIA

 

3 comments:

  1. Ane keseringan nonton Narcos jadi tahu banyak soal kartel narkoba

    ReplyDelete
  2. Pablo Escobar yg terkenal dgn video pengulitan hidup-hidup di bar bkn sih?

    Jadi aku pernah baca pertanyaan di thread redit yang menanyakan hal paling seram apa yang pernah ada di internet. Nah salah satu user ada yang menjawab kalo dia pernah nonton video pengulitan orang di bar. Ada beberapa orang diduga anggota kertel lagi ngumpul di bar, terus mereka terlihat menguliti wajah 'korban' yang masih hidup. Mereka melakukan hal itu sambil ketawa-tawa santai sembari diiringi lagu bruno mars yg judulnya uptown funk apa ya kalo ga salah, sementara si 'korban' meringis kesakitan. Aku tuh sampe terbayang-bayang terus sama komentar itu di antara jawaban user lain gatau kenapa ��


    Kalo betul itu ada hubungannya sama Escobar tolong bahas yaaaa min. Kalo bisa sambil dicari tau alasan kenapa mereka bisa ngulitin 'korban'.

    Makasieeee ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan bos, itu video gore kan? Nama videonya "Funkytown Gore" karena mutar lagu Funky Town di latar, sering disebut salah satu video gore paling sadis. Gw udah nonton tapi di skip-skip, 3 harian terngiang ngiang wkwkwk. Setahu gue tidak ada kaitannya dengan Escobar, tapi besar kemungkinan pelakunya dari Kartel Sinaloa.

      Delete