Sunday, August 15, 2021

THE PORK BUN MURDERS: INSIDEN MENGERIKAN DI RESTORAN MACAU HINGGA RUMOR BAKPAU DAGING MANUSIA

Pertama-tama gue berterima kasih pada salah satu pembaca setia gue yakni Diga RW yang sudah merekomendasikan kasus ini. Tanpa bantuan lu mungkin gue nggak akan tahu tentang kasus ini. Kasus pembunuhan terjadi di Macau pada tahun 1985 dan sempat menghebohkan publik karena kesadisannya. Pembunuhan ini sering disebut sebagai “Eight Immortals Murder” sesuai dengan nama restoran dimana pembunuhan ini terjadi. Dalam kasus ini seorang pria menghabisi pemilik restoran dan keluarganya karena berhutan. Peristiwa ini juga disebut sebagai “Pork Bun Murders atau “Pembunuhan Bakpao Babi”. Kenapa disebut seperti itu, well ….

Restoran ini sebelumnya menjual bakpao daging, namun setelah kematian sang pemilik restoran dan keluarganya ini terungkap, beredarlah gosip dan urban legend yang mengatakan bahwa sang pembunuh menggunakan daging para korbannya yang telah dimutilasi sebagai isian daging bakpao dan menjualnya.

Benarkah rumor tersebut? Bagaimana kasus pembunuhan ini bisa terungkap? Mari kita bahas bersama-sama dalam Dark Case kali ini.

Kota Macau hingga kini memang menjadi pusat perjudian di Asia

Restoran “Eight Immortals” adalah sebuah restoran makanan Chinese yang berada di Pulau Macau yang kala itu masih menjadi koloni Portugis dan belum kembali ke pangkuan Tiongkok. Restoran tersebut dimiliki dan dioperasikan oleh seorang pria bernama Zheng Lin yang dulunya adalah pedagang kaki lima. Sejak tahun 1960-an, dibantu oleh keluarganya, iapun mengelola bisnis tersebut dengan cukup sukses. Namun sayang, Zheng dan istrinya dikenal sebagai penjudi berat. Hal ini cukup dimaklumi, sebab Macau kala itu menjadi pusatnya perjudian di Asia dan dijejali oleh kasino-kasino. Nantinya, kebiasaan judi ini akan berakibat fatal bagi keluarganya.

Kita beralih ke tokoh lain bernama Huang Zhiheng yang lahir di daratan Tiongkok sebelum akhirnya berimigrasi ke Hong Kong pada tahun 1970-an. Pada tahun 1973 ia terlibat dalam sebuah kasus kriminal. Kala itu ada seorang pria yang berhutang padanya. Pria tersebut kala itu terus mengelak dan menolak membayar hutang tersebut, hingga Huang akhirnya gelap mata dan membunuh pria tersebut. Akibatnya Ia pun kabur dari Hong Kong dan kembali ke daratan China, tepatnya di kota Guangzhou untuk bersembunyi.  Di sana ia kemudian menikah dengan seorang gadis yang merupakan putri dari pemilik rumah yang ditinggalinya. Namun mengingat sosok  Huang yang mirip preman, kedua orang tua sang gadis tak merestui pernikahan tersebu. Tapi Huang kemudian melarikan gadis itu dan kabur ke Macau.

Ketika tiba di Macau, Huang kemudian membakar jarinya sendiri untuk menghilangkan sidik jarinya supaya ia tidak dikaitkan dengan pembunuhan yang ia lakukan di Hongkong. Di Macau bukannya kapok dan membangun sebuah kehidupan yang damai, ia malah kembali berjudi. Dari hobi berjudi inilah ia kemudian bertemu dengan Zheng dan istrinya.

Suatu malam pada tahun 1984 menjadi titik balik di antara keduanya. Pada malam itu Huang dan Zheng berjudi dengan taruhan yang sangat besar melawan satu dengan yang lain. Huang akhirnya memenangkan sekitar 180.000 pataca (mata uang digunakan kala itu) atau senilai hampir 300 juta rupiah dari Zheng dan istrinya. Tentu saja Zheng tak mampu membayarnya hutang sebanyak itu, maka mereka kemudian sepakat bahwa nantinya akan memberikan restorannya kepada Huang apabila hutang tersebut tidak dibayar dalam jangka waktu setahun. Huang pun setuju.

Namun setelah beberapa kali mengunjungi keluarga Zheng untuk mengingatkan mereka, keluarga tersebut tak kunjung membayar. Bahkan seolah tak kapok, mereka terus berjudi dengan Huang hingga kehilangan lebih banyak uang. Totalnya mereka kini berhutang sekitar 600.000 pataka atau lebih dari 950 juta rupiah.

Huang sang pelaku

Kekesalan Huang memuncak pada 4 Agustus 1985. Kala itu kesembilan anggota keluarga Zheng masih sibuk untuk menutup restoran tersebut setelah seharian berdagang. Huang yang sedang marah memasuki restoran tersebut dan memaksa mereka untuk membayar uang sebanyak 30.000 pataca, sedikit dari uang yang ia hutangkan pada mereka. Huang makin murka ketika Zheng menolak untuk membayar uang tersebut serta menolak memberikan restoran tersebut sesuai dengan janjinya.

Akibatnya amarah Huang menjadi tak terkontrol hingga ia menghancurkan sebuah botol bir dan menggunakan pecahan botol tersebut sebagai senjata untuk menyandera salah satu anak dari Zheng. Ia kemudian memaksa mereka untuk saling mengikat anggota keluarga mereka yang lain. Awalnya Huang hanya ingin memaksa mereka untuk membayar hutang tersebut, akan tetapi salah satu anggota keluarga tersebut berhasil membebaskan diri dan mencoba kabur, bahkan berteriak. Huang yang panik kemudian menusuknya dengan senjata tersebut hingga ia pun tewas. Mengetahui tak ada jalan lain untuk menutup mulut anggota keluarga Zheng yang lain, iapun menghabisi seluruhnya, sebanyak 8 orang lainnya, baik dengan cara mencekik maupun dengan  menusuk mereka dengan pecahan botol.

Setelah puas membunuh 9 orang tersebut (termasuk anak-anak), ia kemudian keluar untuk memanggil adik perempuan Zheng yang kala itu tengah berada di luar. Kemudian iapun membunuhnya di restoran tersebut setelah ia menyaksikan mayat keluarganya. Untuk menghilangkan jejak, Huang memutilasi semua tubuh tersebut dan membungkus mereka di dalam sebuah plastik sampah hitam. Semua proses itu memakan waktu sekitar 8 jam. Kemudian ia membuang mayat mereka ke lautan ke tempat pembuangan sampah. Ia kemudian merampok sisa uang keluarga Zheng.

Paginya, seorang sopir truk yang biasanya mengantarkan bahan makanan ke restoran keluarga Zheng tiba dan menemukan bahwa restoran tersebut telah dikunci dengan tulisan bahwa tempat makan tersebut tutup selama tiga hari. Ia kemudian mengunjungi rumah keluarga Zheng di mana Huang kemudian membukakan pintu dan mengatakan bahwa keluarga Zheng telah pergi berlibur ke daratan Tiongkok.

Para korban

Pada 8 Agustus 1985, seorang penyelam menemukan potongan-potongan tubuh manusia di pantai Macau. Awalnya polisi mengira bahwa potongan-potongan tersebut tubuh tersebut adalah imigran ilegal dari daratan Tiongkok yang kapalnya tenggelam dan tubuh mereka kemudian dicabik-cabik dan dimangsa oleh hiu. Namun hasil otopsi mereka menemukan potongan mayat-mayat tersebut terlalu halus, sehingga disimpulkan mereka dipotong dengan menggunakan pisau.

Polisi segera mengadakan penyelidikan, terlebih lagi ketika lebih banyak tubuh manusia terdampar di pantai Macau. Akan tetapi polisi tak menemukan petunjuk apapun tentang identitas mayat-mayat tersebut (terutama karena mereka sudah tak bisa dikenali) sehingga penyelidikan pun menjadi mandeg. Baru ketika anggota keluarga Zheng yang tinggal di daratan Tiongkok melaporkan bahwa keluarga tersebut menghilang, polisi pun kemudian menghubungkan kasus menghilangnya keluarga tersebut dengan potongan tubuh yang mereka temukan.

Tentu kita perlu ingat bahwa pada masa tersebut teknologi belumlah semaju sekarang sehingga mereka tidak bisa mencocokkan DNA dari para korban dengan potongan jenazah yang mereka selidiki. Polisi kemudian memutuskan mendatangi restoran keluarga Zheng. Namun begitu mereka tiba, mereka justru mendapati Huang tengah berjualan di sana.

Ternyata Huang, sesuai dengan niat awalnya, telah merebut tempat tersebut bahkan berdagang di sana seolah-olah restoran itu adalah miliknya. Polisi tak mampu berkutik sebab Huang memiliki bukti surat dan dokumen kepemilikan dari restoran tersebut yang diambilnya setelah keluarga itu meninggal. Namun lama-kelamaan kejahatan Huang mulai terbongkar. Setelah polisi menggeledah rumah keluarga Huang, mereka menemukan dokumen-dokumen milik Zheng bahkan kartu identitas salah satu anak Zheng yang mustahil mereka tinggalkan begitu saja.

Restoran Eight Immortals dimana pembantaian sadis itu terjadi

Begitu kejahatannya terkuak, Huang berusaha untuk kabur ke daratan Tiongkok namun tertangkap. Pada 2 Oktober 1986, Huang dijatuhi hukuman karena sudah terbukti membunuh keluarga tersebut. Namun akibat fakta dimana restoran tersebut masih dijalankan oleh Huang setelah menghabisi seluruh keluarga pemilik aslinya, maka muncullah urban legend bahwa bakpao babi yang dijual oleh Huang di restoran tersebut mengandung daging dari korban-korban yang disembelih oleh Huang. Walaupun urban legend itu tidaklah benar karena mayat-mayat tersebut ditemukan mengambang di lautan, tapi masih cukup membuat masyarakat, khususnya para pelanggan restoran tersebut menjadi trauma.

Setelah Huang dipenjara, bak sebuah karma iapun menjadi bulan-bulanan para tahanan yang ada di sana. Ia seringkali diserang dan juga dipukuli oleh para narapidana sehingga ia sempat berusaha melarikan diri, walaupun akhirnya gagal. Bahkan ia sampai berusaha bunuh diri hingga 2 kali, dimana pada usaha keduanya pada 4 Desember 1996, ia berhasil menggores pergelangan tangannya dengan pisau hingga tewas. Ia juga meninggalkan meninggalkan surat yang meyakinkan publik bahwa bunuh dirinya ini bukan disebabkan oleh rasa menyesal, namun penyakit asma kronis yang menderanya dan membuatnya menderita.

Kisah mengerikan yang terjadi di restoran tersebut menjadi perhatian publik, bahkan sempat difilmkan beberapa kali. Pada tahun 1993 tragedi tersebut diabadikan menjadi sebuah film berjudul “The Untold Story”, dimana untuk semakin menambah sensasi, ketika dipasarkan di daratan Tiongkok judul film tersebut diubah menjadi “The Human Pork Bun”.

 

SUMBER: WIKIPEDIA

 

5 comments:

  1. Wah ini ada filmnya bang cuma lupa judulnya. BTW Mantap bang Davee rajin update sekarang hehe

    ReplyDelete
  2. Wah, terima kasih buat mengabulkan request-ku. XD

    Kisahnya agak kurang ngeri sih menurutku, tapi tetap kerasa creepy. Bayangkan bakso yang dibeli dari tukang bakso di depan rumah ternyata berisi alat penyadap... eh, malah ke bakso intel. Www

    Oh ya, apa ada kasus tentang restoran yang ternyata memasukan daging manusia ke dalam masakan mereka? Mungkin kau bisa bahas sewaktu-waktu.

    ReplyDelete
  3. Filmnya Anthony Wong, dulu waktu kelas 1 SD nonton film ini langsung trauma, sampe kabawa mimpi gue yang dikejar-kejar pake golok, trus kepala gue dibacok 😭😭😭😭😭😭

    ReplyDelete
  4. Kalau gak salah, si Kento Bento lagi buat video ttg kasus ini

    ReplyDelete
  5. di filmnya radak beda dr yg asli sih, lbh sadis dari ini. untuk ukuran film lawas, jujur lbh sadis ketimbang film gore yg selama ini saya tonton

    ReplyDelete