Friday, December 6, 2019

TALES OF PARANOIA #2: THE STRANGE DEATH OF LARRY ELI MURILLO-MONCADA




Pada malam 28 November 2009, hujan deras tengah turun mengguyur kota. Guntur menggelora di luar, meninggalkan kilat yang membekas di langit. Namun di tengah badai itu, seorang pemuda justru membuka pintu rumah dan berlari keluar tanpa sepatu. Orang tuanya berteriak di belakangnya, berusaha mengejarnya. Namun pemuda itu tak mengindahkannya. Ia terus berlari hingga tubuhnya lenyap dibalik derasnya hujan.

Kala itu pemuda itu mengatakan bahwa ia dikejar seseorang dan ada yang hendak membunuhnya. Pemuda itu memang dikenal memiliki sejarah depresi dan paranoia, sehingga orang tuanya mengira hal itu hanyalah halusinasinya semata. Namun kali ini berbeda, ia terlihat amat ketakutan hingga lari dari rumah.

Itulah kala terakhir keluarganya melihatnya dalam keadaan hidup. Selama 10 tahun berikutnya, ia menghilang bak ditelan bumi. Hingga pada 2019, polisi mengetuk pintu rumah keluarganya. Kepada orang tuanya, polisi menyampaikan berita buruk, bahwa anak mereka yang telah menghilang selama satu dekade telah diketemukan, namun bukan dalam kondisi yang ingin mereka dengar.

Kisah tragis inilah yang kali ini ingin gue angkat dalam episode “Tales of Paranoia” kali ini. Kasus aneh nan misterius yang akhirnya berbuntut pada kematian yang tak kalah ganjilnya.

Inilah kasus Larry Ely Murillo-Moncada dan inilah Dark Case kali ini.

Begitu Larry memilih kabur dari rumah, keluarganya berusaha keras untuk menemukan keberadaannya. Mereka amat khawatir, terutama karena kondisi kejiwaan Larry yang kala itu tengah tidak stabil. Mereka melapor ke kepolisian negara bagian Iowa, Amerika Serikat. Mereka menelepon teman-teman Larry dan menyebarkan pamflet ke penjuru kota Omaha, tempat mereka tinggal. Namun hasilnya nihil, tak ada yang tahu keberadaannya.

Namun kali itu tak ada yang tahu, bahwa kepergiannya ternyata tak pernah jauh dari mereka.

Mundur sejenak, Larry adalah pemuda berusia 25 tahun dari keluarga imigran Honduras yang bekerja di sebuah supermarket. Kehidupan terkesan biasa-biasa hingga suatu malam ketika ia baru pulang dari shift panjangnya di hari raya Thanksgiving, ibunya mencium sesuatu yang aneh. Larry kala itu terlihat kurang fokus, kebingungan, bahkan mengatakan bahwa ia mendengar “suara-suara”. Ibunya yang khawatir lalu membawanya ke dokter yang kemudian meresepkan obat antidepresan.

Namun kondisi Larry tak kunjung membaik. Ia mengatakan pada keluarga dan teman-temannya bahwa seseorang selalu mengikutinya. Ia terlihat amat ketakutan, namun semua yang mengenalnya menganggap itu hanyalah halusinasinya semata.

Hingga pada malam itu, Larry yang hanya mengenakan hoodie berwarna biru dan celana jeans dengan warna senada memutuskan kabur dari rumah di tengah hujan lebat. Keluarganya berusaha menghentikannya karena saat itu ia bahkan tak memakai sepatu, namun mereka gagal. Ia memiliki mobil, namun ia meninggalkan kuncinya di rumah. Mengetahui bahwa ia tak mungkin pergi jauh tanpa mobilnya, orang tuanya pun mencarinya, namun ia tak kunjung ditemukan.

Sepuluh tahun berlalu. Supermarket tempat Larry dulu biasa bekerja kini telah bangkrut pada 2016 dan menjadi bangunan tak berpenghuni semenjak itu. Pada Januari 2019 yang dingin, ketika salju dari musim dingin yang telah berlalu mulai mencair, para pekerja mulai bersiap untuk mengosongkan bangunan itu. Satu persatu mereka memindahkan rak dan kulkas keluar. Namun ketika mereka memindahkan sebuah lemari pendingin, mereka terkejut setengah mati.

Di balik sebuah lemari pendingin, terjepit sebuah mayat yang telah membusuk dan mengering hingga tak mampu dikenali lagi.

Ilustrasi supermarket dan deretan freezer tempatnya terjebak

Tak butuh waktu lama bagi polisi untuk mengenali identitas jenazah itu. Mengenakan hoodie biru dan celana jeans dengan warna serupa, tak salah lagi, mayat itu adalah Larry yang dikabarkan telah lama menghilang.

Namun bagaimana ia bisa berakhir di sana? Dan mengapa tak ada yang menyadarinya hingga sepuluh tahun?

Para pekerja rekan-rekan Larry mengatakan bahwa mereka memang sering memanjat ke atas lemari pendingin itu untuk mengambil barang-barang yang diambil di sana. Namun tak ada seorangpun yang kepikiran untuk mengintip ke belakang lemari pendingin yang berjarak 45 cm dari dinding itu. Kemungkinan Larry merangkak ke atas sana, namun kemudian terjatuh dan terjebak di balik lemari pendingin setinggi 3,5 meter itu. Sebagai sebuah supermarket, tentu tak hanya itu satu-satunya lemari dingin di sana. Pasti ada lemari-lemari lain berjajar dari satu sisi ke sisi yang lain sehingga tak ada jalan keluar.

Diduga, setelah kabur dari rumah orang tuanya tanpa membawa kunci mobil, ia akhirnya pergi ke satu-satunya tempat yang ia kenal dengan baik, yakni supermarket tempatnya bekerja. Ia kemudian berusaha bersembunyi di sana tanpa ada seorangpun yang tahu, namun malah terjatuh dan terperangkap di sana. Namun mengapa ia tak berteriak meminta tolong? Mungkin ia sudah melakukannya, namun lemari pendingin itu ternyata mengeluarkan suara yang amat berisik ketika beroperasi sehingga menenggelamkan jeritan pinta tolongnya.

Tragisnya lagi, para pekerja supermarket dan para pelanggan mungkin saja berjalan lalu lalang di depan lemari itu tanpa tahu seseorang terjebak di belakangnya.

Hingga kini tak ada yang tahu, apakah sosok yang mengejar Larry itu benar-benar nyata ataukah hanya halusinasinya saja. Namun ada ataupun tidak, paranoianya itu benar-benar telah mengakibatkan nyawanya melayang. Kini satu-satunya korban yang bisa meratap hanyalah orang tua Larry. Selama status anaknya menghilang, mereka sebenarnya masih bisa berharap. Mereka bisa berandai-andai bahwa anak mereka kini berada di suatu tempat yang aman, mungkin dengan kehidupan baru yang lebih bahagia. Namun kini setelah kenyataan terungkap, mereka hanya bisa berdoa agar tak ada orang lain yang mengalami paranoia sama yang membunuh anak mereka.



1 comment:

  1. jadi pelajaran juga buat supermarket biar ngasih celah diantara freezernya

    ReplyDelete