Friday, June 5, 2020

CASSANDRA EFFECT: RAMALAN PANDEMI COVID-19 DAN ANCAMAN “ANTIBIOTIC APOCALYPSE”




Gimana nih? Masih betah di karantina? Kalo gue sih kagak hahaha, soalnya pengen balik kerja lagi dan beraktivitas kayak biasa. Well, jika kalian sudah membaca artikel-artikel gue sebelumnya, pasti kalian sudah mengetahui tentang film “Contagion” yang berhasil “meramalkan” pandemi Coronavirus 9 tahun sebelum wabah itu berkecamuk. Mengapa film itu sebegitu berhasilnya menerka bahwa sebuah wabah pandemi global akan melanda dunia dalam bentuk flu? Sebab sang sutradaranya kala itu, Steven Sodenbergh, berkonsultasi dengan para ahli di bidang virologi dan ketika ia bertanya pada mereka, skenario apa yang kira-kira paling realistis sehingga mungkin akan terjadi, mereka menjawab:

Sebuah strain flu baru akan muncul dari 'wet market' di Asia dan disebabkan oleh seekor kelelawar”

Andaikan saja kita kala itu, yakni semenjak tahun 2011 ketika film itu dirilis, benar-benar memperhatikan peringatan para ilmuwan tersebut, mungkin kita takkan mengalami pandemi ini.

Ramalan yang mengejawantah menjadi nyata ini, yang naasnya tak didengarkan orang, adalah pengertian dari “Cassandra Effect”. Dan kegagalan kita untuk memperhatikan “ramalan-ramalan” berikutnya, pastilah akan membawa kita kepada kehancuran. Bahkan, jikapun wabah Covid-19 reda, sebuah ramalan “Cassandra” lain tengah menanti kita, dengan akibat yang mungkin tak terbayangkan, bahkan memicu apa yang dinamakan “apocalypse' atau kiamat bagi kita.


RAMALAN “CASSANDRA” DAN CORONAVIRUS




Pertama-tama kita perlu bertanya, siapakah Cassandra itu? Cassandra adalah seorang putri cantik dari mitologi Yunani. Ia adalah putri dari Raja Priamus dari kerajaan legendaris, Troya. Konon, karena terkesima oleh parasnya yang begitu rupawan, Dewa Apollo berjanji akan mengabulkan apapun permintaan Cassandra, apabila sang putri bersedia menikah dengannya. Cassandra-pun meminta agar ia bisa melihat masa depan. Namun begitu Apollo mengabulkannya dan memberinya kemampuan meramal, Cassandra justru mengingkari janjinya. Ia merasa dirinya terlampau cantik jelita, hingga dewa seperti Apollo-pun dirasanya tak pantas memilikinya. Akibatnya Apollo-pun murka dan memberikan kutukan. Memang benar Cassandra bisa meramalkan masa depan, namun takkan ada yang mempercayainya.

Buktinya adalah ketika ia melihat adiknya, Paris (yang kala kecil terpisah dari orang tuanya dan kemudian ditemukan kala sudah dewasa), Cassandra dengan tepat meramalkan bahwa Paris suatu saat nanti akan membawa Kerajaan Troya ke dalam kehancuran. Sayang, Raja Priamus tak mau mendengarkan ramalan putrinya itu. Ramalan Cassandra pun perlahan-lahan mulai mengejawantah.

Paris jatuh cinta dengan Helena yang kala itu telah menikah dengan seorang raja Sparta. Helena sendiri sebenarnya terpaksa menikah dan tak pernah mencintai suaminya, sehingga ketika Paris mengajaknya kabur bersamanya, Helena-pun bersedia. Sayang, kisah cinta terlarang ini akhirnya memicu Perang Troya dimana laskar tentara Yunani menyerang Kerajaan Troya dan akhirnya menang setelah menggunakan siasat “Kuda Troya”. Kerajaan Troya-pun hancur lebur dan ramalan Cassandra akhirnya tergenapi.

Lalu apa relevansinya kisah sang putri cantik Cassandra bagi kita di masa kini? Bak ramalan sang putri Yunani tersebut, seringkali peringatan para ilmuwan yang visioner kita abaikan begitu saja karena mungkin kurang nyaman di telinga kita. Sebagai contohnya, peringatan para ahli bahwa sebuah virus baru akan mengacak-acak kehidupan dunia dalam bentuk pandemi mematikan, seperti tertuang dalam film “Contagion”. Bahkan mereka dengan tepat meramalkan asal dari virus tersebut, yakni “wet market” di China dan asal muasalnya dapat dirunut ke seekor kelelawar.

Namun apa yang terjadi? Bukannya menganggapnya serius, film tersebut hanya dianggap sebagai hiburan semata dan pesannya yang begitu tegas diabaikan begitu saja. Akibatnya bisa kita rasakan kini. Siapapun kita, dimanapun kita, mau berada di Amerika Serikat, Eropa, ataupun Indonesia, semuanya pasti terimbas oleh wabah Covid-19 ini.

Bayangkan saja jika ramalan para ahli tersebut benar-benar dianggap serius oleh WHO dan pemerintah-pemerintah di penjuru dunia. Mungkin saja mereka akan menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi pandemi ini dan dampaknya pun pasti takkan sedahsyat yang kita alami sekarang.

Namun tak hanya wabah Coronavirus. Gue menemukan sebuah ramalan “Cassandra” lain, yang disebut dengan “Post-Antibiotic Era” atau “Antibiotic Apocalypse”. Namun gue peringatkan dahulu, bahwa ramalan ini amatlah tak nyaman untuk didengarkan.


ANTIBIOTIC APOCALYPSE

Akan ada saatnya dimana semua obat-obatan berlabel antibiotik ini takkan berfungsi lagi

Post Antibiotic Era” mempostulatkan bahwa suatu saat nanti, semua antibiotik yang kita miliki takkan berfungsi lagi melawan bakteri, karena semua bakteri patogen (penyebab penyakit) di Bumi akan kebal terhadapnya. Ketika pertama kali ditemukan Alexander Flemming pada tahun 1928, antibiotik (kali itu yang pertama kali ditemukan adalah “penisilin”) dianggap sebagai sebuah “obat ajaib”. Semenjak diketemukan, antibiotik memang telah menyelamatkan nyawa jutaan orang, termasuk kala Perang Dunia II. Namun pada pidatonya kala menerima hadiah Nobel (which he deserved btw), Alexander Flemming sudah memperingatkan akan bahaya resistensi bakteri terhadap antibiotik.

Apa itu resistensi? Resistensi adalah kondisi dimana bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik yang seharusnya bisa membunuhnya. Bakteri adalah makhluk hidup, seperti halnya manusia. Dan seperti manusia yang bisa menjadi kebal terhadap beberapa jenis penyakit (apabila sudah divaksin atau terkena penyakit yang sama, misalnya), bakteri juga bisa kebal terhadap berbagai jenis antibiotik. Populasi bakteri yang resisten ini pada akhirnya akan menggantikan populasi bakteri yang rentan terhadap antibiotik (karena mereka mati), sehingga keseluruhan populasi akan didominasi bakteri resisten dan antibiotik tak lagi berguna.

Proses terjadinya resistensi bakteri berdasarkan seleksi alam

Lalu apa yang terjadi bila kita mencapai “Post-Antibiotic Era” ini? Jika kita sudah dikarantina beberapa bulan gara-gara geger Covid-19, maka jika kita mencapai era Post-Antibiotic ini, kita harus dikarantina selamanya! Di luar kita bisa rentan sekali terinfeksi bakteri, semisal bakteri TBC yang berterbangan di udara. Bahkan di dalam rumah-pun, kita harus menjaga diri agar kita tidak terluka sedikitpun, sebab luka itu akan dengan mudah terinfeksi bakteri. Luka sekecil apapun bisa berakibat fatal, sebab bakteri sudah tak mampu lagi dibunuh dengan antibiotik. Akibatnya, kita harus mendesinfeksi semua sudut rumah kita setiap hari.

Angka kematian, terutama di rumah sakit, juga akan meningkat secara drastis. Penyakit yang awalnya hanya “remeh-temeh”, semacam sakit gigi, akan bisa membunuh kita. Hal ini karena bakteri bisa masuk ke dalam pembuluh darah (melalui luka) dan menyebabkan “sepsis” atau “keracunan darah”. Operasi-operasi pun akan memiliki resiko yang amat tinggi, bahkan prosedur rutin seperti operasi Caesar juga akan menjadi teramat berbahaya. Bisa saja jika kita keluar, kita harus memakai APD full dengan plastik dan helm (nggak cuma masker) agar kita tak mudah terinfeksi bakteri.

Jumlah kematianpun akan berlipat ganda dengan amat drastis di negara-negara dunia ketiga yang memiliki standar higienitas yang rendah. Penduduk di negara-negara tersebut (termasuk Indonesia) akan mudah sekali terkena infeksi bakteri dari lingkungan yang tidak sehat dan terutama sekali: air. Air bisa menyebarkan berbagai penyakit mematikan seperti kolera, disentri, dan tipus. Bumi-pun akan porak-poranda sebab manusia dengan begitu mudahnya bisa mati, seperti kondisi kala “Dark Age” di Eropa kuno.

Saat Antibioic Apocalypse terjadi, kita akan begitu mudah sakit, bahkan mungkin harus dikarantina seumur hidup
Lalu kapan kira-kira kita akan memasuki Era “Post-Antibiotic” ini?

Celakanya, kita mungkin sudah ada di era tersebut. Pada Agustus 2017, seorang wanita masuk ke UGD sebuah rumah sakit di Reno, dekat Las Vegas, Amerika Serikat karena infeksi bakteri. Bakteri tersebut adalah Enterobacteria yang biasanya dengan mudah diatasi dengan antibiotik bernama Carpabenem. Namun celakanya, bakteri yang menyerang wanita ini ternyata resisten terhadap antibiotik itu dan 26 jenis antibiotik lainnya! Beberapa hari kemudian, pasien itupun meninggal.

Hingga kini sudah diketahui beberapa bakteri “super” yang resisten terhadap berbagai macam antibiotik, sebut saja MRSA, yakni mutan bakteri Staphylococcus aureus; MDR-TB, yakni mutan bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab TBC; hingga yang paling berbahaya: super Gonorrhea, yakni strain bakteri Neisseria gonorrhea penyebab penyakit kelamin “raja singa” yang kebal terhadap berbagai antibiotik.

Bahkan, hingga saat ini, sekitar 700.000 penduduk dunia meninggal setiap tahunnya karena penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Jumlah yang besar? Well, jika ini terus dibiarkan, sekitar 10 juta penduduk akan mati per tahun karena sebab yang sama pada tahun 2050.

Maka tak mengherankan, karena dampaknya yang begitu menakutkan, tak sedikit pula yang menyebut “Post-Antibiotic Era” sebagai “Antibiotic Apocalypse”.


IT'S INEVITABLE!


Yap, seperti jentikan jarinya Thanos, “Antibiotic Apocalypse” memang tak terelakkan. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita mengatasinya? Well, dimulai dengan mendidik para dokter di rumah sakit untuk tidak sembarangan memberikan antibiotik, terutama pada penyakit yang tak mengancam jiwa. Penggunaan antibiotik yang sembrono dan berlebihan justru akan mempercepat proses resistensi bakteri. Masyarakat juga harus dididik untuk mempergunakan antibiotik secara tepat, salah satu contohnya dengan meneruskan minum antibiotik sesuai yang diresepkan hingga habis, walaupun gejala penyakit sudah berkurang ataupun hilang. Jika kita berhenti meminum antibiotik sebelum obatnya habis, maka hal itu juga akan menyebabkan bakteri menjadi resisten.

Langkah ketiga kini bergantung pada para ilmuwan untuk terus-menerus menemukan antibiotik jenis baru yang lebih efektif membasmi bakteri. Namun langkah ini menurut gue nggak lebih dari teknik “tambal sulam” semata, sebab hanya menunggu waktu sebelum bakteri juga menjadi resisten terhadap antibiotik baru tersebut. Mungkin satu-satu cara efektif adalah dengan meningkatkan kekebalan tubuh kita sendiri, semisal dengan makan makanan sehat dan tentunya: tidak anti terhadap vaksin!








3 comments:

  1. Anti-vaxxers probably crying right now after seeing this

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nope, they're gonna just "dude, I dont believe you"

      Delete
    2. Actually, mereka akan selalu siap sedia dengan argumen-argumen (bodoh) mereka

      Delete