Wednesday, June 10, 2020

THE MATRIX THEORY: BAGAIMANA JIKA SELURUH HIDUP KITA ADALAH SIMULASI?

Bagaimana jika kita sebenarnya hidup dalam sebuah simulasi komputer yang rumit?


Selamat datang di “Existential Crisis” Series. Dalam empat artikel ke depan, gue akan membicarakan tentang teknologi Artificial Intelligence atau “AI” (sebagai pengantar, baca bagian Prolog yang terdapat di artikel tentang Test Turing). Jika di episode prolog terdahulu, kalian sudah membaca tentang potensi AI yang dapat meniru manusia. Jika kalian pikir keberadaan AI di masa depan itu mengancam hidup kita, maka AI-AI di episode berikutnya akan jauh lebih ganas, yakni bisa menjadi “Tuhan” yang mampu menentukan takdir kita.

Di episode pertama ini gue akan membahas tentang “Simulasi Theory” atau “Teori Simulasi” atau dalam bahasa lebih kerennya, gue lebih suka menyebutnya sebagai “The Matrix Theory”. Tentu alasannya jelas, karena Teori Simulasi ini diperkenalkan kepada khalayak ramai lewat trilogi film “Matrix” yang mengangkat nama aktor kenamaan Keanu Reeves. Kalian bisa menyebutnya sebagai salah satu Teori Konspirasi jika kalian mau. Namun Teori Simulasi ini jelas bukan lagi konspirasi yang melibatkan organisasi-organisasi misterius buatan manusia, semisal Illuminati, Freemason, atau New World Order. Namun lebih jauh lagi, teori konspirasi ini melibatkan entitas misterius yang kekuatannya (atau kecerdasannya) menyerupai “Tuhan”.

Teori Simulasi menyebutkan bahwa kehidupan yang tengah kita jalani ini tidaklah nyata. Kehidupan kita sesungguhnya adalah simulasi komputer yang dijalankan oleh entitas maha-canggih yang bagi kita terasa nyata. Karena kita hanyalah “virtual reality” yang dijalankan di sebuah komputer, maka jika sang pemain menghendaki, ia bisa mencabut realitas kita kapan saja.

Mulai dari episode ini gue akan menjelaskan mengapa mungkin kita memang berada dalam sebuah simulasi. Dan seperti judulnya, tiap episode di “Existential Crisis” akan membuat kalian mempertanyakan eksistensi kalian dan realitas dunia ini, sebuah horor ala Lovecraftian yang nyata dan mungkin saja terjadi.


PERINGATAN: JIKA KALIAN SAMPAI DI EDISI TERAKHIR “EXISTENTIAL CRISIS” BERJUDUL “ROKO'S BASILISK” JANGAN BACA ARTIKEL TERSEBUT! GUE PERINGATKAN, JANGAN BACA ARTIKEL TERAKHIR!

Bisakah kita menjamin kehidupan kita benar-benar nyata?


Teori Simulasi pertama kali diperkenalkan oleh seorang filsuf dari Oxford University bernama Nick Bolstrom. Di paper ilmiahnya berjudul “Are You Living In A Simulation?” ia berpendapat bahwa suatu saat di masa depan, manusia akan memiliki peradaban super-maju sehingga manusia (human) akan mencapai titik yang disebut sebagai “post-human” (“setelah” manusia). Nah, karena teknologi super-mumpuni dari manusia “post-human” ini, mereka akan bisa menciptakan sebuah komputer adidaya yang bisa menjalankan simulasi dari “nenek moyang” (ancestor) mereka.

Yakni kita.

Menurut teori tersebut, kehidupan kita saat ini hanyalah simulasi yang dijalankan oleh entitas super-cerdas tersebut dalam komputer maha-canggih mereka. Berarti, semua yang kita alami, lihat, sentuh, cicipi, semuanya tidaklah nyata. Semuanya bak “mimpi”. Jadi bayangkan saja kita tak lebih dari sebatas tokoh-tokoh yang ada di game-game online seperti Sims, PUBG, Mobile Legends, hingga Minecraft yang tak sadar bahwa mereka sebenarnya ada dalam sebuah simulasi berupa permainan.

Uniknya, Nick bukanlah orang pertama yang mengemukakan teori itu. Bahkan, sejak permulaan peradaban manusia, filsuf-filsuf dari zaman kuno sudah memprediksi teori tersebut. Filsuf Yunani Plato dengan kisah “Allegory in the Cave” pada 375 SM hingga filsuf Prancis Rene Descartes dengan konsep “Evil Demon” pada tahun1641 menyatakan bahwa kehidupan kita saat ini mungkin hanyalah “ilusi”. Bahkan agama Hindu yang sudah berumur 4 ribu tahun juga mempercayai konsep “maya” yang mempercayai bahwa realita ini hanyalah ilusi (kita sekarang menggunakan istilah “dunia maya” untuk menggambarkan internet dan “virtual reality”).

Namun justru pendapat yang paling “menyentuh” mengenai Teori Simulasi ini dinyatakan oleh Zhuangzi, seorang filsuf Tiongkok yang hidup pada era Plato melalui anekdot “Butterfly Dream”.

Apakah kehidupan kita hanya sebatas mimpi, seperti penghayatan Zuangzhi?

Aku, Zuangzi, bermimpi bahwa aku adalah seekor kupu-kupu yang terbang ke sana kemari, sadar dan bahagia. 
Namun kemudian aku terbangun. 
Kini, aku tak tahu apakah aku adalah seorang pria yang bermimpi menjadi kupu-kupu ataukah sesungguhnya aku adalah kupu-kupu yang bermimpi menjadi seorang pria?”

Dalem banget ya (nangis).

Ketika kita sadar bahwa kita hidup dalam simulasi, maka konon kitapun akan mendapat “pencerahan”. Bahkan pencerahan itu akan sama seperti yang dialami Copernicus ketika ia menyadari bahwa Bumi sesungguhnya berputar (berevolusi) mengeliling Matahari, padahal sebelumnya, masyarakat dunia pada masa itu tahunya bahwa matahari berputar mengelilingi Bumi. Di masa modern ini, Teori Simulasi diamini oleh tokoh futuris seperti Elon Musk.

Tapi jika kita berani berasumsi bahwa hidup kita hanyalah simulasi, kita harus punya buktinya dong, jangan cuman omdo! Ternyata bukti-bukti bahwa hidup kita hanyalah sebuah simulasi komputer sebenarnya ada di depan mata kita, hanya saja kita belum menyadarinya. Seorang YouTuber bernama Joe Scott dengan cantik merangkumnya dalam videonya tentang Teori Simulasi, namun di sini gue akan merangkumnya untuk kalian.

Bukti-bukti tersebut adalah:

1. KITA SUDAH MELAKUKANNYA

Yap, buat kalian pecinta game pasti sudah tak asing lagi dengan konsep simulasi. Setiap hari kita melakukan simulasi di komputer kita ketika memainkan game online. Para pendukung Teori Simulasi berpendapat, jangan-jangan hidup kita semua adalah “avatar” atau salah satu tokoh yang dimainkan dalam MMORPG (Massive Multiplayer Online Roleplaying Game) seperti SIMS?

2. FERMI PARADOX

Di episode sebelumnya, kita sudah belajar apa itu Fermi Paradox. Intinya, Fermi Paraodx menyatakan bahwa di alam semesta ini (atau di galaksi kita ini saja) harusnya ada ribuan, bahkan jutaan peradaban alien. Namun dimanakah mereka? Mengapa seakan-akan hanya kita yang hidup di alam semesta ini?

Uniknya, Teori Simulasi bisa menjawab pertanyaan itu. Kenapa nggak ada kehidupan alien (yang menurut “logika” dari Drake Equation harusnya melimpah) di jagad raya? Jawabannya karena kehidupan kita memang tak diprogram untuk itu. Coba bayangkan, di SIMS yang berkutat tentang kehidupan di sebuah kota, perlukah menciptakan alien? Tidak bukan?

Pendapat ini seolah konsisten dengan “Anthropic Principle”, sebuah prinsip dalam kosmologi yang menyatakan bahwa alam semesta ini dirancang untuk kehidupan (pengamat). Jika pengamat tersebut tidak ada, maka alam semesta sesungguhnya tidak ada. Dan kita-lah pengamat itu.

3. 2020


Well, nggak bisa dipungkiri tahun 2020 merupakan tahun yang aneh. Begitu banyak bencana dan masalah datang silih berganti. Atau mungkinkah ini kehendak sang pemrogram kita? Bayangin, jika kita bikin game, tentu kita akan memasukkan “tantangan-tantangan” agar permainannya makin seru kan? Semisal game “Grand Theft Auto” tentang kriminalitas, “Fallout” tentang survival di tengah dunia post-apokaliptik, “Resident Evil” tentang zombie, dan lain-lain. Bahkan isu virus Corona yang melanda dunia ini sekilas mirip dengan game “Plague Inc”. Hal-hal “aneh” yang kurang masuk akal juga kerap terjadi, mungkin sebagai “tantangan” tambahan, semisal terpilihnya Donald Trump jadi presiden AS, Brexit di Inggris, hingga dikotomi masyarakat Indonesia menjadi cebong dan kampret. It's all part of the game.

4. GLITCH IN THE MATRIX

Pernah kan kalian bermain game atau berselancar di internet, tapi tiba-tiba terjadi “glitch” semisal browser kalian tiba-tiba berhenti atau karakter game kalian berubah aneh? Apakah kalian juga pernah mengalami suatu kejadian yang aneh dan tak bisa dijelaskan dengan logika, bahkan bisa dikategorikan sebuah peristiwa supranatural? Bagaimana jika peristiwa “supranatural” itu sesungguhnya adalah “glitch” di simulasi kehidupan kita?

Ada banyak contoh tentang “glitch in the matrix” ini. Tinggal masukkan saja kata-kata itu di kolom pencarian Google dan kalian akan dapat banyak sekali hasilnya, mulai dari artikel hingga foto. Beberapa kisah tentang “glitch in the matrix” yang dialami orang-orang ini sekilas seperti cerita horor. 
Salah satu kisahnya adalah seorang pemuda yang bermimpi tentang sebuah van putih yang parkir di depan rumahnya pada malam hari. Orang-orang bertopeng keluar dari van itu lalu masuk ke dalam rumahnya dan membunuh kakaknya. Pemuda itupun bangun karena mimpi buruk itu dan begitu menyalakan lampu dan membuka jendela, ia melihat sebuah van putih, sama seperti di mimpinya, parkir di depan rumah. Hanya kali ini, karena sang pemuda itu menyalakan lampu kamarnya dan menengok melalui jendela, van putih itu langsung meluncur pergi.

Cerita lain adalah seorang pria yang bekerja di sebuah restoran cepat saji yang menyajikan steak barbeque. 
Suatu malam ia harus kerja lembur dan begitu pulang, kakak perempuan heran begitu melihatnya. “Aneh sekali”, kata gadis itu, “karena aku baru saja berbicara denganmu selama 15 menit di kamarmu.”. Namun pemuda itu menjawab, “Aku barusan pulang kerja dan nggak ada di rumah seharian. Liat aja seragamku masih banyak nodanya dan bau steak sama saos barbeque.”. Gadis itupun langsung panik, lalu siapa yang ia ajak bicara di kamar adiknya tadi?

Apakah peristiwa-peristiwa supranatural yang mungkin pernah kita alami sebenarnya merupakan "glitch" dalam simulasi kita?

Cerita lain yang kali ini dialami keluarga gue adalah tentang ayah dan pakdhe gue. 
Suatu hari, ayah gue bermimpi tentang pakdhe gue (yang saat itu tinggal di Jakarta, sedangkan bokap dan keluarga gue tinggal di Solo). Ayah gue segera pergi ke Jakarta karena ayah gue kepengen banget ketemu pakdhe gue itu, seolah-olah itu adalah kesempatan terakhir mereka. Setelah ayah gue balik dari Jakarta, pakdhe gue kemudian meninggal karena sakit.

Apakah kisah-kisah yang tak bisa dijelaskan oleh logika itu, seperti satu orang di dua tempat bersamaan atau mimpi yang meramalkan masa depan, hingga yang paling simpel: sebuah “deja vu” adalah bentuk “kesalahan” atau “glitch” dalam simulasi kita?

5. MATEMATIKA DAN TEORI FISIKA

Galileo pernah berpendapat “Matematika adalah bahasa Tuhan dalam menciptakan dunia ini”. Namun kalian yang jago komputer pasti tahu bahwa matematika erat kaitannya dengan pemrogaman. Pernahkah kalian berpikir mengapa semua hukum fisika yang mengatur dunia kita, mulai dari atom hingga gerakan benda langit, semuanya bisa dihitung secara matematis? Bahkan, ketika mendalami Mekanika Kuantum, kita menyadari bahwa alam semesta kita dan semua aspeknya tersusun atas satuan terkecil yang disebut satuan Planck. Jika diandaikan, bilangan Planck menjadi “pixel” di dunia kita, seolah kita hidup di layar komputer.

6. SUPERSTRING THEORY

Di antara semuanya, mungkin inilah bukti paling meyakinkan bahwa kehidupan kita mungkin diprogram oleh komputer. Seorang fisikawan asal MIT (universitas terbaik di dunia saat ini, di atas Stanford, Harvard, dan Oxford University) bernama James Gates menemukan sesuatu yang menggelitik nalar kita ketika tengah meneliti tentang Superstring Theory. Ia menemukan sebuah kode pemrograman tertanam dalam persamaan matematika yang tengah ia pelajari. Kode tersebut merupakan “error correcting code” dan ini membuat fisikawan yang paling skeptis sekalipun mempertimbangkan teori bahwa hidup kita adalah sebuah simulasi.

Namun jika kita memang berada dalam sebuah simulasi komputer, pertanyaannya sekarang adalah siapa dan apa yang tengah menjalankan kehidupan kita.

Jawabannya mungkin akan sangat menakutkan.



BERSAMBUNG KE ARTIKEL “JUPITER BRAIN”


6 comments:

  1. Kalau kita (manusia) memang benar hanya simulasi, apakah entitas tsb memprogramkan kita untuk membicarakannya? Topik ginian memang seru kalo dibahas lebih lanjut��

    *Ngomong-ngomong Plague Inc. gue pernah main itu dari awal 2020, tapi gue uninst gara-gara mirip banget sama realita sekarang hehe

    ReplyDelete
  2. Bang David gimana si? Udah tau orang indo, kalo dibilangin "jangan baca", pasti bakalan dibaca😅

    Aing tambah penasaran nih,😅

    ReplyDelete
  3. Seketika teringat lagu dream of butterfly ost persona

    ReplyDelete
  4. Paling suka gua Teori kaya gini👍👍

    ReplyDelete
  5. Bang Dave solo nya mana bang? Aku di jebres ini hehe, meetup boleh dong

    ReplyDelete