Wednesday, June 10, 2020

MATHRIOSKA BRAIN: IT'S OUR ENDGAME

Rancangan Mathrioska Brain, sebuah komputer raksasa seluas Tata Surya yang mengambil energinya dari Matahari

Jika kalian masih tertantang ingin merasakan “Existential Crisis” lebih lanjut, maka silakan simak konsep mencengangkan tentang maha-super-komputer bernama Mathrioska Brain ini. Apa yang lebih besar dari Jupiter? Matahari tentunya. Bagaimana jika kita mengubah Matahari menjadi sumber energi sebuah maha-super-komputer dan membangun komputer itu hingga menjangkau orbit-orbit planet, seperti sejauh Bumi atau bahkan sejauh Neptunus? Apakah yang bisa ia lakukan? Semuanya terjawab di vlog milik Joe Scott yang gue rangkum ke dalam artikel ini.

Welcome to another episode of Existential Crisis.

PERINGATAN: TINGGAL SATU EPISODE LAGI SEBELUM KALIAN SAMPAI DI EDISI TERAKHIR “EXISTENTIAL CRISIS” BERJUDUL “ROKO'S BASILISK” JANGAN BACA ARTIKEL TERSEBUT! GUE PERINGATKAN, JANGAN BACA ARTIKEL TERAKHIR!


Oke guys, gue harap kalian masih ingat dengan bahasan tentang Kardashev Scale yang lalu, itu lho skala-skala peradaban alien mulai yang paling sederhana hingga tercanggih. Nikolai Kardashev sendiri dalam teorinya membatasi tipe-tipe peradaban alien menjadi 3, yakni Type I (Planet), Type II (Bintang), dan Type III (Galactic). Semakin maju tipe peradabannya, maka tentu akan semakin canggih teknologinya, bahkan mampu melakukan perjalanan antar-bintang di luar angkasa. Tapi Michio Kaku, ahli String Theory berpendapat masih ada dua tipe selanjutnya, yakni Type IV (Universe) dan Type V (Multiverse).

Sulit mungkin bagi kita berandai-andai bagaimana jika manusia bisa mencapai Level IV ataupun V. Toh dengan teknologi kita saat ini, kita baru ditahbiskan berada di posisi Type 0,7 (genap 1 aja belum). Tapi pertanyaannya sekarang, bagaimana jika manusia sebenarnya adalah makhluk adidaya maha-canggih yang sudah mencapai Type IV, bahkan V?

Pasti reaksi kalian: Lihat aja Bang video di bawah ini! Lihat aja! Apa kayak gini kelakuan makhluk yang sudah mencapai Type IV dan V? KAYAK GINI HAH KELAKUANNYA HAH???

Apakah ini kelakuan peradaban yang sudah mencapai level tertinggi  di alam semesta???

Ehm ... emang sih hal tersebut sulit dipercaya. Namun jika kalian memahami Matrix Theory yang sudah gue jelaskan di dua episode sebelumnya, maka seharusnya tak sebegitu sulit untuk mencerna pernyataan gue tadi. Anggap saja sesungguhnya kita adalah “ancestor” atau nenek moyang dari ras manusia yang sudah mencapai tahap “post-human”. Pertama-tama gue jelaskan tahapannya jika kalian masih sukar menerima apa itu konsep “post-human”.

Tubuh kita sekarang (sebagai manusia atau “human”) masihlah terbatas oleh daging yang rapuh dan rentan. Suatu saat nanti, jika kita sudah mencapai teknologi yang maju (mungkin Type I, II, atau III), kita mungkin akan bisa memodifikasi tubuh kita agar bisa “tahan lama”, istilahnya adalah “trans-human”. Semisal kita bisa merekayasa genetika kita atau bahkan menggabungkan tubuh kita dengan mesin (menjadi “cyborg”) agar bisa hidup selama mungkin. Jika kita sudah mencapai tahap “post-human” (Type III ke atas, mungkin) maka kita sudah tak lagi dibatasi dengan tubuh kita yang terdiri atas darah dan daging. Kita akan mencapai tahap dimana yang tersisa adalah kesadaran dan intelegensi kita, tanpa memerlukan tubuh fisik.

Jika kita sudah mencapai tahap post-human, apa dong yang akan kita lakukan? Apa yang bisa menjadi “penanda” betapa majunya teknologi yang kita miliki untuk membuktikan kita emang udah mencapai level tertinggi? Jawabannya adalah dengan membuat komputer hyper-intelligent yang bahkan jauh lebih cerdas ketimbang Jupiter Brain. Kita akan menyebutnya “Mathrioska Brain” dan bisa dikatakan bahwa jika kita bisa menciptakannya, maka itu menjadi puncak kejayaan teknologi kita. Mathrioska Brain akan menjadi “Endgame” bagi kita, sebab kita takkan bisa menciptakan apapun yang lebih maju dan canggih ketimbang dia. Komputer tersebut mungkin akan sebegitu canggihnya hingga bisa menjawab pertanyaan yang paling sulit sekalipun, semisal apa Tuhan itu ada?

Tapi apa itu “Mathrioska Brain”?

Dengan mengaplikasikan Bola Dyson di sekitar Matahari, tak hanya kita bisa menyerap energinya, kita juga bisa mengubahnya menjadi super-komputer raksasa


Jika kita sudah mencapai Level II, maka jelas sesuai teori Freeman Dyson, kita akan bisa membangun “Dyson Sphere” atau “Bola Dyson” (sudah pernah gue jelaskan di artikel sebelumnya). Tapi mungkin muncul pertanyaan, jika kita sudah bisa membuat Bola Dyson yang bisa memanen seluruh energi yang keluar dari Matahari, akan diapakan energi sebanyak itu?

Pada tahun 2008, seorang fisikawan bernama Robert Bradbury mencetuskan ide untuk membangun sebuah maha-super-komputer raksasa bernama Mathrioska Brain di sekitar Matahari yang ditenagai oleh energi yang keluar dari bintang tersebut. Caranya adalah dengan “menumpuk” beberapa Bola Dyson di atas Bola Dyson lainnya sehingga terdapat lapisan demi lapisan yang semakin efisien menyerap energi matahari, sehingga bentuknya mirip boneka Mathryoska. Boneka Mathryoska adalah boneka khas Rusia yang bisa saling bertumpukan di dalam boneka lainnya.

Ilustrasi Boneka Mathryoska dari Rusia yang menginspirasi Mathrioska Brain

Seberapa banyak lapisannya? Ratusan (joke lawas), but seriously, kita bisa membuat Mathrioska Brain setebal mungkin. Bahkan semakin tebal, tak hanya semakin energi-efisien, juga akan semakin canggih. Sebab menurut rencana, Bola Dyson ini akan terbuat dari unit-unit “hipotetis” (alias belum ditemukan, seperti robot nano yang ada di episode sebelumnya) bernama “computronium”. Tiap unit computronium akan menjadi komputer yang apabila berhubungan dengan computronium lainnya akan membuat jalinan jaringan komputer maha-super-canggih.

Bila kita, semisal, ingin membuat Mathrioska Brain hingga mencapai Bumi, maka logikanya kita harus “menyingkirkan” planet Merkurius dan Venus yang terletak di antara Matahari dan Bumi. Namun tenang, mereka takkan “mati” sia-sia, sebab kita bisa memanfaatkan material di planet tersebut sebagai bahan baku Mathrioska Brain kita. Kita bahkan bisa menambang semua planet yang ada di tata surya kita dan membuat Mathrioska Brain hingga katakanlah Pluto, sehingga kita akan menciptakan komputer dengan ukuran sebesar Tata Surya kita.

Bayangkan membuat komputer sebesar seluruh Tata Surya kita ini!

Tapi wait, Bang! Kalo kita menutupi seluruh Matahari dengan Bola Dyson berlapis-lapis bukannya Bumi akhirnya bakal kena dampaknya? Cahaya matahari kan nggak bakal sampai ke Bumi, nantinya kita semua mati dong? Terus kalo bikin ampe Pluto juga bukannya kita bakal hancur juga? Planet kita bakalan kekurung dong di dalamnya?

Well, karena memang itu bukan lagi prioritas ras manusia bila sudah mencapai tahap “post-human”. Kemampuan komputer hyper-intelligent seperti Jupiter Brain saja sudah sebegitu dahsyatnya, apalagi komputer segede Matahari, bahkan Tata Surya. Bakalan kita pake apa dong komputer segede itu jika Jupiter Brain aja sudah mampu meramal masa depan?

Jawabannya tadi, menurut pengertian “post-human”, mereka tak lagi terkungkung dalam tubuh darah daging mereka lagi. Hanya kesadaran dan intelegensi mereka yang tersisa. Caranya adalah dengan meninggalkan tubuh lama kita dan “bergabung” dengan Mathrioska Brain dan hidup di dalamnya. “post-human” kita akan meng-ekstrak kesadaran dari otak kita (dengan teknologi yang jelas sudah akan kita temukan jika kita sampai di Level IV-V) kemudian meng-upload-nya ke dalam Jupiter Brain. Di dalamnya, kita bebas mensimulasikan kehidupan apapun yang kita inginkan. Di dalam “virtual reality” ini, kita bisa hidup bahagia selamanya tanpa menua, sampai jagad raya ini musnah.

Teknologi "virtual reality" sudah ada di genggaman kita, namun kita masih bisa melepas kacamata VR ini dan kembali ke dunia nyata. Tapi suatu saat kelak, kita akan melepaskan raga kita, mengorbankan planet kita, dan masuk ke dalam dunia simulasi selamanya dengan bantuan Mathrioska Brain, menjadi makhluk yang hidup selamanya (at least sampai jagad raya musnah)

Kemungkinan itu mungkin terasa “horor” bagi kita. Apakah suatu saat kita akan se-putus asa itu hingga rela tinggal di dalam sebuah mesin selamanya? Apakah kemajuan teknologi kita, semaju apapun, tetap takkan membuat kita bahagia? Ataukah memang hasrat terdalam kita untuk menciptakan teknologi secanggih mungkin sebenarnya untuk melepaskan kita dari penderitaan?

Atau pertanyaan lain, jika kita mengaitkannya dengan Matrix Theory, apakah kehidupan kita adalah sebuah simulasi dari seorang makhluk “post-human” yang kesadarannya di-upload di Mathrioska Brain?

Jika memang jawaban pertanyaan itu adalah “Ya”, mungkin akan ada pertanyaan lain menguar dari benak kalian. Kalo benar hidup kita adalah simulasi, terus kenapa dong kita masih menderita (mungkin ada yang miskin di antara kalian, eh gue juga ding). Jika memang para post-human ingin hidup dalam kebahagiaan selamanya, kenapa malah bikin simulasi kita yang makhluk-makhluk kismin dan jomblo ini (yeee elu doang kali yang jomblo Bang)?

Untuk menjawabnya kita perlu kembali ke tahun 1974, kurang lebih lima dekade lalu. Kala itu seorang ahli filsafat bernama Robert Nozick menulis sebuah buku berjudul “Anarchy, State, and Utopia” dimana dalam bukunya ia mengadakan sebuah eksperimen. Ia bertanya pada beberapa responden pertanyaan ini. Jika ia memiliki sebuah mesin bernama “Experience Machine” dimana jika kalian “dihubungkan” dengan mesin ini, maka kalian akan masuk ke sebuah “virtual reality” dan akan digelontorkan berbagai pengalaman hedonis yang memuaskan jiwa raga. Namun, jika kalian sudah “terhubung” dengan mesin ini, maka jika kalian mencabutnya, maka kalian akan mati. Alias, kalian nggak bisa keluar dari mesin ini selamanya. Maukah kalian? Ataukah kalian lebih suka hidup dalam kenyataan dimana ada susah dan senang, ada bahagia dan ada sedih?

Inginkah kau bahagia selamanya?

Ternyata ada lebih banyak yang menjawab opsi kedua. Berarti kehidupan hedonis bukanlah sebuah keinginan terakhir manusia. Mereka menginginkan “pengalaman”, baik suka maupun duka.

Pertanyaan Robert tersebut mungkin menjadi bukti bahwa manusia lebih menginginkan sesuatu yang “nyata” ketimbang yang “palsu”. Namun perlu kita ingat, pertanyaan itu dikemukakan 50 tahun lalu dimana masyarakat masihlah curiga dengan teknologi “virtual reality”. Namun bagaimana dengan sekarang? Apakah kalian lebih memilih “dunia maya” ketimbang “dunia nyata”? Apakah kalian lebih suka memandang hape ketimbang memandang lawan bicara kalian? Padahal jika dilogika, di dunia maya kita masih bisa dikecewakan atau terluka (apalagi kalo pesan kita di-read doang atau balasnya lama). Namun mengapa kita masih terfiksasi oleh gagdet kita jika kita memang lebih demen ama yang “nyata”?

Jangan salahkan para “post-human” kita jika nenek moyang mereka saja, yakni kita, sudah sebegitu “nyaman”-nya tinggal di dunia maya. Jangan heran pula dengan keputusan mereka untuk meninggalkan raga mereka untuk menyatu dengan Mathrioska Brain dan hidup selamanya dalam simulasi maya. Mungkin, dengan begitu mereka bisa merasakan jutaan kehidupan yang raga ringkih mereka takkan bisa rasakan.

Dan mungkin kehidupanmu adalah salah satu simulasinya.



BERSAMBUNG KE ARTIKEL “ROKO'S BASILISK”


PERINGATAN! EPISODE BERIKUTNYA AKAN MENGANDUNG INFORMASI YANG BERBAHAYA BUAT KALIAN! JANGAN BACA ARTIKEL SELANJUTNYA!




7 comments:

  1. Rilis roko basilisk nya kapan dah bang?

    ReplyDelete
  2. Jadi inget kartun Rick and morty, pas morty main game "Roys: a life well lived",
    Dalam waktu sekian detik, morty menjalani game simulasi kehidupan sbg seorang penjual karpét, mantan pemain rugby, dan sampai punya istri sampai cucu, ketika game over dan kembali ke dunia nyata (masih seorang bocah), ia masih punya ingatan di kehidupan palsunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Atau pas Rick diculik sama alien buat dijadikan simulasi

      Delete
    2. Hmm... Jadi inget pas Itachi nge-genjutsu ceweknya(?), biar ceweknya bisa ngerasain kehidupan sebagai sepasang kekasih (kenyataannya cuma berlangsung beberapa detik)

      Delete
  3. Jadi inget salah satu eps Black Mirror, dimana kalau sudah mau tutup usia bisa pilih mau hidup abadi di sistem (dunia baru dalem komputer) dan hidup bebas as their wish. Cool, ternyata udah ada penelitiannya.

    ReplyDelete