Wednesday, June 10, 2020

JUPITER BRAIN: LEGENDA KOMPUTER HYPER-INTELLIGENT DARI MASA DEPAN


Bayangkan kita membangun sebuah komputer sebesar planet Jupiter, planet terbesar di tata surya kita

Seri kedua “Existential Crisis” kali ini akan membicarakan sebuah komputer raksasa yang kemungkinan menjalankan simulasi hidup kita, jika kalian percaya pada Teori Simulasi atau Matrix Theory yang gue paparkan di artikel sebelumnya. Vlog milik Kyle Hill (seorang vlogger yang menawarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan fisika paling menggelitik dalam bentuk humor yang menghibur) mencetuskan tentang “Jupiter Brain”, yakni super-komputer raksasa seukuran planet Jupiter. Mungkinkah kita membangunnya? Dan jika sudah, untuk apa?

Welcome to another episode of Existential Crisis.

PERINGATAN: DUA EPISODE LAGI SEBELUM KALIAN SAMPAI DI EDISI TERAKHIR “EXISTENTIAL CRISIS” BERJUDUL “ROKO'S BASILISK” JANGAN BACA ARTIKEL TERSEBUT! GUE PERINGATKAN, JANGAN BACA ARTIKEL TERAKHIR!


Jika kita sebelumnya membahas tentang Matrix Theory, maka pertanyaannya adalah, siapa atau apa yang sebegitu canggihnya bisa menjalankan simulasi, tak hanya kehidupan kita, namun kehidupan seluruh manusia di dunia ini? Jawabannya mungkin terletak di sebuah ide gila untuk membangun sebuah komputer raksasa seukuran planet Jupiter. Pada tahun 1999,seorang ahli “computational neuroscience” (makanan apa lagi itu) bernama Anders Sandberg mengemukakan ide tersebut.

Ia berpendapat bahwa dengan teknologi dan keingintahuan kita sekarang, maka manusia tentu ingin menciptakan sebuah komputer sempurna (“the perfect computer”). Komputer ini tentu akan sangat bermanfaat bagi kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kini tak kita miliki jawabannya. Anggap saja begini, ketika kita memiliki sebuah kalkulator, tentu alat tersebut amat berguna buat kita, terutama pas ulangan matematika, untuk menjawab soal yang tak bisa kita hitung sendiri, semisal berapa 736246327:3363. Lalu lu kerja jadi ahli meteorologi semisal dan lu ingin memperkirakan, apa akan badai menyerang pulau Jawa. Maka lu menjalankan simulasi cuaca di komputer lu dengan memperhitungkan berbagai faktor seperti kecepatan angin, kelembapan udara, dan lain-lain.

Bayangkan sebuah super-komputer di masa depan yang mampu memprediksi bencana seperti meletusnya Gunung Sinabung ini sebelum terjadi

Bayangkan hal yang lebih berat lagi, semisal lu suatu saat bisa membuat sebuah super-komputer yang bisa meramalkan kapan terjadinya gempa atau kapan gunung berapi akan meletus. Tentu hal itu akan amat berguna dan bisa menyelamatkan banyak nyawa. Tapi bagaimana caranya membangun komputer sempurna tersebut? Trend teknologi saat ini cenderung ke arah “smaller is better”. Kita lebih berambisi, bahkan berlomba-lomba, membangun komputer sekecil mungkin, dengan alasan kepraktisan. Namun bagaimana jika itu adalah arah yang keliru?

Anders (ahli neuro apa tadi) berpendapat jika kita membuat komputer menjadi makin kecil dan makin kecil, maka kita akan terbentur oleh hukum fisika. Membuat komputer yang sempurna berarti kita harus meningkatkan kemampuan “processing”, kecepatannya, hingga menampung lebih banyak memori. Jika kita semakin menyusutkan ukuran komputer, yang ada kita justru semakin “terbatas”. Hal ini karena dalam fisika, ada ukuran terkecil yang disebut unit Planck length (1,6x10-35 meter), dimana mustahil bagi kita membangun sesuatu lebih kecil dari itu (karena tak ada sesuatupun di alam semesta ini yang lebih kecil ketimbang Planck length). Maka jawabannya, kita harus membangun komputer menjadi semakin besar dan besar.

Bahkan seukuran planet Jupiter.

Ilustrasi sebuah super-komputer berukuran planet

Hmmm ... tapi kalopun kita bisa membangun komputer seukuran Jupiter (kita sebut dengan nama “Jupiter Brain”) gimana cara kita membuatnya? Sapa yang mau dibayar melayang-layang di luar angkasa bikin komputer segede gaban begini? Well, di masa depan mungkin kita bisa menemukan “self-replicating nano-machine” atau robot berukuran mini yang bisa memperbanyak dirinya sendiri. Tapi khan ... ukurannya segede Jupiter? Mana bisa? Jupiter aja 300x lebih gede ketimbang Bumi?

Jika kita sudah bisa menciptakan satu robot “self-replicating nano-machine”, itupun sudah cukup.

Kalian mungkin masih ingat dengan anekdot “beras dan papan catur”. Jika di kotak pertama papan catur kita taruh 1 butir beras; lalu di kotak kedua 2 kalinya, yakni 2 butir beras, lalu di kotak ketiga 4 butir beras, kotak keempat 8 butir beras, kotak kelima 16 butir beras, maka di kotak terakhir (kotak ke-64) akan terdapat 9 ribu triliun butir beras. Sekarang ganti analogi butir beras itu dengan satu robot nano yang namanya panjang tadi. Jika dalam satu hari robot nano itu bisa memproduksi satu dirinya dalam satu hari, maka di hari ke-2 akan ada 2 robot, hari ke-3 ada 4 robot, hari ke-4 ada 8 robot dan seterusnya, bayangkan betapa banyak robot yang dihasilkan dalam setahun, 2 tahun, .5 tahun, 10 tahun! Bayangkan ukurannya ketika robot-robot itu bergabung menjadi sebuah komputer raksasa!

Perhitungan matematis dalam anekdot "beras dan papan catur" ternyata bermanfaat dalam pembuatan sebuah super-komputer sebesar Jupiter

Satu masalah terselesaikan. Namun muncul masalah lain, yakni energinya. Mau dicolokin dimana coba? Stop kontaknya segede apa? Kyle Hill dalam vlog-nya berpendapat bahwa super-komputer ini bisa disetrum dengan energi nuklir. Tapi sesungguhnya ada sumber energi lain yang lebih masuk akal yang nanti akan gue jelaskan ketika kita tiba di pembahasan tentang Mathrioska Brain.

Eng in eng ... Jupiter Brain akhirnya selesai dan siap digunakan! Tapi kini setelah kita berhasil menciptakan Jupiter Brain, pertanyaannya bukanlah untuk apa komputer hyper-intelligent itu kita gunakan, namun apa yang ia bisa lakukan!

Oke, untuk membayangkan kemampuan sesungguhnya Jupiter Brain, kita perlu mendalami dulu apa yang manusia bisa lakukan. Otak manusia jelas merupakan bagian tubuh kita yang paling rumit sekaligus didesain paling canggih. Mata kita memiliki resolusi 576 MP (jauh lebih besar dari kamera apapun, bahkan bikinan Oppo) dan semuanya itu diproses di otak. Secara singkat, seluruh sinapsis (persambungan sel saraf di otak) mampu memproses 1016-1017 operasi/detik. Sedangkan super-komputer semacam Jupiter Brain diharapkan akan bisa memproses 1042 operasi/detik. Seberapa signifikannya itu? Well ...

Satu komputer seukuran laptop ini saja sudah kita anggap sedemikian canggih hingga bisa membantu kehidupan kita. Bayangkan apa yang bisa dilakukan oleh komputer seukuran planet.

Oke, kita bayangkan seluruh manusia di Bumi ini. Ada sekitar 7,5 miliar manusia yang saat ini hidup di Bumi. Bagaimana sejak permulaan zaman? Ada berapa banyak manusia yang pernah hidup di dunia ini? Diperkirakan ada 107 miliar manusia yang pernah dan sedang hidup di dunia ini (kita bulatin aja jadi 100 miliar deh biar nggak ribet). Anggap saja lifespan atau rentang umur mereka rata-rata 50 tahun. Dengan perhitungan itu, kita bisa memperkirakan bahwa semenjak manusia ada hingga saat ini, sudah terjadi 1036 operasi dalam otak manusia, baik yang sudah mati hingga yang masih hidup saat ini.

Semua yang pernah kita pikirkan dan akan kita pikirkan, digabung dengan semua pikiran dari semua orang yang tinggal di Bumi ini saat ini, ditambah pikiran semua orang yang pernah hidup di dunia ini dan kini sudah mati, di keseluruhan 5 benua selama ratusan ribu tahun, semua pikiran tersebut, baik yang dikatakan maupun tidak, adalah 1036 operasi, jauh lebih kecil dari kemampuan Jupiter Brain untuk bekerja selama sedetik.

Jadi bisa kalian bayangkan, Jupiter Brain akan mampu mensimulasikan kehidupan dari semua orang yang pernah tercipta di dunia ini hanya dalam waktu kurang dari satu detik.

Bayangkan jika ia diberi semenit saja, ia mampu melakukan simulasi tak hanya kehidupan semua orang yang pernah terjadi, namun juga semua kemungkinannya apabila seseorang melakukan sesuatu yang di dalam kehidupannya tak pernah ia lakukan. Bayangkan, ia mampu mensimulasikan semua kehidupan di dunia paralel yang bisa ada, semuanya hanya dalam hitungan menit.

Lalu bagaimana jika ia kita beri satu jam? Satu hari?

Bayangkan sebuah super-komputer yang bisa mesimulasikan kehidupan tiap orang di kerumunan ini, mulai dari mereka lahir hingga meninggal, bahkan semua pikiran yang pernah terbersit di benak mereka, hanya dalam waktu kurang daru satu detik. Itu hanya sedikit dari kemampuan Jupiter Brain ...

Maka sangatlah mungkin, jika kehidupan kita saat ini adalah simulasi seperti bunyi Matrix Theory, Jupiter Brain ini-lah yang sedang menjalankan simulasi tersebut.

Keberadaan Jupiter Brain di masa depan jelas memiliki banyak manfaat bagi kita. Jupiter Brain akan mampu “membaca” masa depan. Tak hanya ia bisa memperingatkan kita akan bencana di Bumi, melainkan bencana dan ancaman kosmis yang datang dari luar angkasa pun bisa ia perkirakan. Ia akan tahu men-scan dan mendeteksi kehidupan di galaksi lain. Ia bisa memperkirakan akan adanya serangan ras alien lain (jika ada) terhadap Bumi. Ia akan punya solusi dari semua permasalahan yang kita miliki.

Namun pertanyaan yang paling menakutkan adalah, apakah realita kita saat ini sebenarnya hanyalah simulasi di dalam benak Jupiter Brain. Seperti kata Kyle Hill di akhir videonya, apakah saat ini kalian sedang memikirkan Jupiter Brain? Ataukah Jupiter Brain sedang memikirkan kalian, yang sedang memikirkan dirinya?

Keberadaan Jupiter Brain seolah memang menantang eksistensi kita, namun jangan khawatir. Masih ada super-komputer lain yang lebih canggih dengan kemampuan lebih dahsyat ketimbang Mathrioska Brain.

Yakni bagaimana jika kita mengubah seluruh tata surya kita menjadi sebuah komputer?



BERSAMBUNG KE ARTIKEL “MATHRIOSKA BRAIN”

2 comments:

  1. Komen pertama setelah silent reading selama 5 tahun...wooooih abang memang pintar������������ dan dapat digunakan untuk berubah menjadi lebih besar untuk berubah menjadi lebih baik dari➡

    ReplyDelete
  2. "Masih ada super-komputer lain yang lebih canggih dengan kemampuan lebih dahsyat ketimbang Mathrioska Brain."

    Uh... mungkin kamu mau menulis Jupiter Brain....

    ReplyDelete