Tuesday, September 3, 2019

RUDAPAKSA TRILOGY #1: THE LOST OF INNOCENCE – KASUS PENCULIKAN TRAGIS JAYCEE DUGARD




Hello guys, setelah bedah kasus sempat vakum selama sebulan, kali ini gue balik lagi dengan tiga kasus mencengangkan dan menorehkan luka pada sejarah. Kesamaan dari ketiga kasus ini adalah ketiganya menimpa perempuan dan melibatkan penculikan hingga pelecehan seksual. Well gue memutuskan memuatnya karena walaupun kasusnya mungkin cukup traumatis buat kalian yang membacanya, gue ingin meningkatkan awareness alias kesadaran tentang resiko yang dihadapi anak-anak di bawah umur serta perempuan yang rentan terhadap kekerasan seksual.

Oya, agak OOT nih tapi akhirnya gue menemukan judul yang pas buat artikel “bedah kasus” ini yakni “Dark Case” (kenapa nggak kepikiran dari dulu ya?). Trilogi kasus yang akan gue bahas di Bedah Kasus, eh salah, Dark Case adalah tragedi yang menimpa Jaycee Dugard (Amerika Serikat), Elizabeth Fritzl (Austria), dan Jyoti Singh (India). Jaycee Dugard pada usia 11 tahun diculik dan disekap bertahun-tahun oleh pasangan psikopat, bahkan diperkosa berkali-kali hingga melahirkan dua orang anak. Namun tragisnya, justru dia-lah yang paling beruntung di antara ketiga nama tersebut. Bagaimana kisahnya?

Readers, inilah “Dark Case” kali ini.


Jaycee Dugard adalah gadis cilik yang tumbuh di California, Amerika Serikat. Ia menyukai warna pink dan melalui masa kecilnya selama 10 tahun dengan bahagia. Satu-satunya masalah yang pernah ia temui adalah ketidaksukaannya pada ayah tirinya ketika ibunya memutuskan menikah lagi. Akan tetapi semua itu berubah drastis saat ia diculik. Pada 10 Juni 1991 pagi, gadis cilik berusia 11 tahun itu sedang berjalan kaki menuju ke halte bus untuk berangkat sekolah. Namun siapa sangka, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di dekatnya dan semenjak itu, Jaycee Dugard menghilang, seakan lenyap ditelan bumi.

Tragisnya, kasus penculikan itu terjadi tepat di depan mata keluarganya. Sang ayah tirinya, Carl melihat penculikan itu dari rumahnya dan berusaha menghentikannya, namun tak berhasil. Sepanjang hidupnya, tak ada yang mempercayai pengakuan Carl ini, bahkan tak sedikit yang menuduhnya sebagai dalang yang bertanggung jawab atas menghilangnya anak tirinya. Sebagai seorang ayah tiri yang tak pernah disukai oleh Jaycee, tentu saja dia menjadi tersangka utama atas penculikan itu.

Namun apa yang sebenarnya terjadi pagi itu?

Bus sekolah yang seharusnya dinaiki Jaycee Dugard pada pagi naas itu


Kita harus mundur ke masa lalu untuk benar-benar memahami kasus ini dan betapa “menyakitkan”-nya kasus ini jika kita mendalaminya lebih jauh. Kasus penculikan ini tak hanya sebuah kasus menghilangnya gadis cilik biasa. Kasus ini menjadi bukti bahwa tanggung jawab atas sebuah perbuatan kriminal tak hanya terletak pada sang pelaku saja, namun juga semua orang yang ada di sekitarnya ... pada semua orang yang seharusnya bisa menghentikan penderitaan itu dan menyelamatkan gadis cilik itu, namun nyatanya diam saja.

Kita harus mundur jauh hampir 20 tahun sebelum Jaycee cilik menghilang pada saat ia berangkat ke sekolah. Kita akan kembali pada tahun 1972, dimana seorang pria bernama Phillip Garrido ditangkap karena diduga melecehkan seorang gadis berusia 14 tahun. Akan tetapi, kasus itu gagal maju ke pengadilan karena sang korban terlalu takut bersaksi. Phillip pun bebas. Namun tak lama berselang 4 tahun kemudian, kasus pemerkosaan kembali terjadi di Lake Tahoe, California. Seorang gadis berusia 25 tahun bernama Katherine Callaway diculik dan diperkosa. Beruntung, kali ini bukti yang ada cukup untuk menjebloskan pelakunya, yakni Phillip Garrido yang sama, ke dalam penjara dengan hukuman selama 50 tahun. Karena Phillip dijatuhi hukuman pada 1977, maka seharusnya jika hukuman itu dilaksanakan, ia baru akan bebas pada 2027.

Namun kenyataan berkata lain, pada 1988, baru menjalani hukuman selama 11 tahun, ia dibebaskan secara bersyarat (dalam istilah hukum Amerika, mendapat “parole”). Ia bahkan menikah dengan seorang wanita bernama Nancy yang ditemuinya di penjara. Sebagai seorang yang menjalani hukuman “parole” ini, sesuai hukum yang berlaku ia mengenakan gelang kaki yang dilengkap dengan GPS dan juga dikunjungi secara rutin oleh pihak berwajib, seperti petugas pengawas “parole”, deputi sheriff, dan agen FBI. Semua ini bertujuan agar Phillip, walaupun telah lepas dari penjara, tidak melakukan kejahatan lagi.

Tapi tetap saja, pada pagi 10 Juni 1991, sebuah mobil berhenti di depan seorang gadis cilik bernama Jaycee Dugard, dimana lalu sang pengemudi menurunkan kaca mobilnya di depan gadis itu, menyetrumnya dengan stun gun hingga pingsan, lalu memasukkannya ke dalam mobil, dan melarikannya.

Pengemudi itu adalah Phillip Garrido.

Mugshot dari Phillip Garrido


Setelah tiga jam perjalanan, pria bejat itu membawanya ke sebuah gubuk di belakang rumahnya dan langsung merampas kegadisannya. Gadis berusia 11 tahun itu tak berani kabur, karena selain gubuk itu dikunci rapat, Phillip juga mengancam bahwa di luar ada anjing doberman yang siap mengoyaknya jika ia berani lari.

Seminggu setelahnya, Phillip akhirnya membawa gadis cilik itu ke ruangan yang lebih besar, namun masih dengan tangannya diborgol di ranjang untuk kembali diperkosa berkali-kali. Di sinilah Jaycee kecil mulai paham kenapa pria ini melakukan hal yang teramat keji ini.

Karena dia sakit jiwa.

Phillip mengaku bisa mendengar “suara-suara” dari dinding, suatu gejala skizofrenia. Jika itu belum cukup parah, ia juga mengkonsumsi narkoba jenis amfetamin. Kembali ke masa lalunya, Phillip sebenarnya adalah pemuda yang normal, namun kemudian setelah ia mengalami sebuah kecelakaan, ia menjadi kecanduan dengan narkoba untuk membunuh rasa sakitnya. Dua kombinasi ini membuat psikis Phillip amat labil. Kepada Jaycee, Phillip sesekali menyesal dan sembari menangis meminta maaf karena ia telah menculiknya. Namun “mood” itu dengan cepat akan berubah menjadi sisi beringas yang tak segan-segan mengancam gadis cilik itu.

Tujuh bulan berlalu dan akhirnya Phillip memperkenalkan gadis yang ia sekap kepada istrinya, Nancy. Namun bukannya rasa simpati dan sosok keibuan yang ia dapatkan, Nancy justru tak kalah kejam ketimbang Phillip. Walaupun sama-sama perempuan, Nancy tidak membelanya, bahkan justru menyalahkan Jaycee sebagai penyebab perilaku tak lazim suaminya. Perlakuan kejam Nancy konon karena didorong oleh rasa cemburu pada gadis cilik itu.

Jaycee Dugard sebelum diculik

Setelah 34 bulan setelah Jaycee disekap, akhirnya keluarga Garrido memberikannya sedikit “kebebasan” dengan melepaskan borgol yang selama ini menjerat pergelangan tangannya. Namun Jaycee yang kini berusia 14 tahun masih disekap dalam ruangan terkunci. Pada 1994, setelah melalui pemerkosaan selama tiga tahun, akhirnya Jaycee hamil dan melahirkan anak pertamanya. Tiga tahun kemudian, saat usianya genap 16 tahun pada 1997, ia melahirkan anak keduanya. Kedua anaknya tersebut adalah anak perempuan dan lebih kejamnya, Nancy menginginkan agar kedua anak perempuan itu menyebut dirinya sebagai “ibu” mereka dan Jaycee hanya diperkenalkan sebagai “kakak” mereka.

Untuk mengalihkan perhatiannya dari penderitaan yang menimpanya selama bertahun-tahun, Jaycee yang kini diijinkan untuk berjalan-jalan ke pekarangan rumah Garrido untuk berkebun. Pada suatu kesempatan, seorang tetangga melihatnya bahkan bercakap-cakap dengannya, namun dengan cepat Phillip memasukkannya kembali ke dalam rumah.

Yang mengejutkan, keluarga Garrido kemudian membuka rumah percetakan dimana Jaycee sesekali membantu sebagai pegawai dan bertemu dengan banyak orang sebagai pelanggan. Jaycee bahkan mendapat akses untuk telepon dan internet di kantor tersebut. Sebagai penjahat yang masih berstatus “parole”, Phillip juga dikunjungi oleh pihak berwajib, namun tak ada satupun yang memeriksa rumah mereka untuk menemukan tempat di halaman belakang pekarangan rumah mereka dimana Phillip menyekap Jaycee. Bahkan tetangga-tetangga juga sering melihat Jaycee menjawab pintu saat ada tamu berkunjung.

Inilah penyebab gue menjadi amat marah saat gue membaca detail tentang kasus ini. Ada banyak sekali orang ... banyak sekali, yang seharusnya bisa menyelamatkan Jaycee saat itu. Namun tak ada satupun yang berbuat sesuatu.


Jaycee Dugard sebelum diculik

Pertama, pihak berwajib harusnya bisa menghubungkan peristiwa penculikan pemerkosaan Katherine Callaway pada tahun 1976 (kasus yang menyebabkan Phillip dijebloskan ke penjara) dengan kasus penculikan yang menimpa Jaycee sebab keduanya berlokasi di tempat yang sama, yakni South Lake Tahoe. Namun tak ada yang menyadari kesamaan kasus itu.

Pada 2002, pemadam kebakaran datang karena sebuah insiden di rumah keluarga Garrido dan melihat Jaycee dan anak-anaknya di sana.

Pada 2006, seorang tetangga melaporkan kecurigaan mereka akan keberadaan Jaycee di sana dan mengaitkan Phillip sebagai predator seks. Namun laporan itu hanya ditanggapi dengan enteng oleh seorang deputi sherrif yang berkunjung ke depan rumah keluarga Garrido selama 30 menit dan sama sekali tidak masuk ke dalam rumah.

Salah satu petugas “parole” yang berkunjung bahkan melihat Jaycee, namun ketika ditanya tentang identitas gadis cilik itu, Phillip hanya menjawab bahwa dia adalah anak kakaknya. Padahal jika petugas itu mau menyelidikinya lebih jauh dan memastikan kebenarannya, dia pasti akan tahu bahwa kakak Phillip sama sekali tidak memiliki anak.

Semua kesempatan-kesempatan itu akhirnya berlalu hingga akhirnya pada 2009, Phillip yang terlalu “pede” bahwa kejahatannya takkan pernah terungkap, mengajak Jaycee dan kedua putrinya ke University of California di San Francisco. Di sana (mungkin karena tempat itu berisi orang-orang intelek), seorang manajer bernama Lisa Campbell merasa curiga. Dia kemudian menyelidiki nama Phillip Garrido dan mendapatkan informasi bahwa ia adalah mantan napi yang pernah ditangkap karena penculikan dan pemerkosaan. Ditambah lagi, disebutkan bahwa keluarga Garrido seharusnya tak pernah memiliki anak perempuan. Informasi ini akhirnya diteruskan ke pihak berwajib.

Petugas parole kemudian menginterogasi Jaycee yang kala itu mengaku sebagai “Alissa” . Namun ketika ditanya tentang identitas aslinya, Jaycee justru menjadi marah dan defensif. Ketika Garrido mengaku kepada petugas bahwa ia yang menculik Jaycee, barulah gadis itu mengaku kepada pihak berwajib bahwa dia-lah Jaycee Gudard, gadis yang diculik pada usia 11 tahun yang telah diperkosa berkali-kali hingga melahirkan dua anak dan ia telah disekap selama 18 tahun.

Delapan

Belas

Tahun.


Jaycee Dugard sebelum diculik

Ketika kasusnya terkuak ke media, tentu saja rakyat Amerika marah besar saat itu. Bagaimana bisa seorang gadis disekap selama 18 tahun oleh seorang pria yang jelas-jelas seorang penjahat yang seharusnya mendapat kunjungan rutin di rumahnya oleh pihak berwajib? Ada banyak kesempatan dimana Jaycee sebenarnya “hampir” diselamatkan, namun penyelamatan itu baru datang hampir dua dekade setelah dia disekap.

Namun kalian mungkin juga bertanya, mengapa Jaycee sendiri selama kurun waktu selama itu tak berusaha kabur dan menyelamatkan diri? Kenapa walaupun ia berjumpa dengan banyak orang, beberapa di antaranya bahkan penegak hukum, namun tak pernah ia mencoba meminta pertolongan?

Jawabannya karena gadis malang itu menderita Stockholm Syndrome. Perlu diingat bahwa Jaycee diculik sejak dia berumur 11 tahun dan semenjak itu dia selalu dicekoki ancaman bahwa ia akan mendapat perlakuan yang lebih mengerikan ketimbang “hanya” diperkosa jika ia berani macam-macam, apalagi kabur. Ia belajar bahwa satu-satunya cara agar ia bisa melalui hari-harinya dengan selamat adalah dengan bersikap kooperatif pada penculiknya. Belum lagi ia memiliki dua anak sekarang yang kini berada di tangan Garrido. Ia lebih mengkhawatirkan nasib kedua anaknya ketimbang nyawanya sendiri. Oleh sebab itu, ia memilih tunduk.



Rumah keluarga Garrido dimana Jaycee dan anak-anaknya disekap. 
Jayce tinggal di gubug di halaman belakang rumah tersebut

Beruntung, kisah Jaycee Gudard, walaupun melalui penderitaan tak terperikan selama 18 tahun dan harus melalui hari-harinya penuh rasa takut, akhirnya menemui akhir yang bahagia. Ia berkumpul lagi dengan orang tua dan keluarganya. Negara Bagian California yang kala itu dibawah kepemimpinan gubernur Arnold Schwarzenegger mengakui kelalaian para pihak berwajib yang pada berbagai kesempatan seharusnya berhasil menyelamatkan Jaycee lebih dini. Pemerintah California-pun memberikan kompensasi sebesar 20 juta dollar. Jaycee kemudian menjadi penulis dan menerbitkan buku “A Stolen Life” yang merupakan memoir masa lalunya yang kelam. Ia juga aktif menjadi relawan untuk mendampingi para korban pelecehan dan kekerasan seksual.


Jaycee Dugard kini

Bagaimana dengan para pelakunya? Nancy Garrido, sang istri, dianggap sebagai ko-konspirator dan diganjar dengan 36 tahun hukuman penjara. Phillip Garrido sementara itu mendekam di penjara dengan hukuman 431 tahun penjara. Kali ini bahkan parole-pun takkan bisa menyelamatkannya.



13 comments:

  1. Itu foto Jaycee Dugard saat ini itu dari tahun berapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu sih diambil dari wawancara tahun 2016

      Delete
    2. Bang coba bahas pembunuh berantai inggris Fred dan Rose West kayak cocok buat jadi bahan postingan dark case abang

      Delete
    3. Bang coba bahas pembunuh berantai inggris Fred dan Rose West kayak cocok buat jadi bahan postingan dark case abang

      Delete
  2. Replies
    1. kalo anak korban perkosaan gitu biasanya sih identitasnya dilindungi. di foto aja wajahnya di blur semua

      Delete
  3. Bang, ngga minat bahas dark case soal junko furuta? Kan sadis banget juga tuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah itu mah terlalu sadis, kasian readers gue. gue aja yg pernah baca kasusnya jadi trauma sampai sekarang

      Delete
    2. Skip ah kalo itu. Ga ngotak pelakunya.

      Delete
    3. Kasusnya rada mirip hello kitty murder...

      Delete
  4. Bagus pembahasan dark case nyaa, lanjutkan bang

    ReplyDelete
  5. Greget sama para penegak hukumnya 😒

    ReplyDelete
  6. "Inilah penyebab gue menjadi amat marah saat gue membaca detail tentang kasus ini. Ada banyak sekali orang ... banyak sekali, yang seharusnya bisa menyelamatkan Jaycee saat itu. Namun tak ada satupun yang berbuat sesuatu"

    baca2 post sebelumnya, mungkin inilah efek dari "bystander effect"

    ReplyDelete