Sunday, November 2, 2014

CREEPYPASTA #17: WORLD’S BEST SCHOOL PSYCHOLOGIST

 

“PSIKOLOG SEKOLAH TERHEBAT DI DUNIA”

Penulis: CreepyCarbs

  world_s_best_school_psychologist_by_charcoalman-d6qzm0f

Creepypasta ini bercerita tentang seorang anak yang mengeluhkan perilaku orang tuanya kepada seorang psikolog yang bekerja di sekolahnya. Sang psikolog pun membereskan masalah sang anak dengan cara yang tidak biasa ... bahkan bisa dibilang mengerikan.

Ketika aku berumur 12 tahun, aku mengambil kesimpulan, bahwa seluruh orang di dunia, termasuk keluargaku sendiri, membenciku. Aku bukanlah anak yang bermasalah, namun orang tuaku memperlakukanku seolah aku anak yang nakal.

Sebagai contoh, aku harus tiba di rumah pukul 5 sore setiap hari. Ini jelas mengekang waktu bermainku di luar rumah. Teman2ku tak boleh berkunjung ke dalam rumah dan aku juga tak boleh berkunjung ke rumah temanku. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaan rumahku begitu aku tiba di rumah. Orang tuaku juga menolak membelikanku video games dan memaksa aku membaca buku dan kemudian menulis laporan resensi buku itu untuk membuktikan aku benar2 membacanya!

Walaupun semua aturan itu membuatku frustasi saat aku kecil, bukanlah itu yang membuatku merasa sedih. Yang benar2 menyakitiku adalah kurangnya cinta kasih yang ditunjukkan oleh kedua orang tuaku. Ibuku adalah wanita bermulut pahit yang hanya bisa membuatku merasa bersalah atas semua kesalahan yang aku lakukan. Ayahku hanya mengenal satu emosi: frustasi. Satu2nya saat dimana ia berbicara padaku adalah saata ia berteriak kepadaku karena nilai jelek yang kuperoleh.

Cukup tentang mereka, sekarang mari bicarakan psikolog sekolahku. Untuk menjaga privasinya, marilah kita sebut dia Mr. Tanner. Seperti SMP kebanyakan di Amerika, seorang psikolog selalu disediakan pada jam sekolah untuk mendampingi monseling bagi para murid, baik karena masalah emosi, akademis, sosial, perilaku, dan lainnya.

Jujur, aku tak pernah melihat ada murid yang berbicara dengan Mr. Tanner. Setiap hari, aku akan melewati kantornya ketika aku dalam perjalanan ke kantin dan mengintip melalui kaca jendelanya. Ia selalu sendiri di sana, dengan kertas2 pekerjaannya.

Aku menduga anak2 lain terlalu takut untuk membicarakan masalah mereka dengan seorang dewasa yang asing bagi mereka. Untuk alasan ini, butuh 3 minggu bagiku untuk mengumpulkan keberanian untuk menemuinya di kantornya. Pada 2 Maret 1993, akhirnya aku memutuskan untuk membicarakan masalahku pada Dr. Tanner. Selama istirahat makan siang, aku berdiri di depan pintu kantornya dan mengetuk.

Melalui jendela, aku bisa melihatnya mendongakkan kepalanya, tersenyum, dan melambaikan tanganku untuk memanggilku masuk.

Ia menyambutku dengan memperkenalkan dirinya dan menanyakan namaku. Dr. Tanner adalah seorang pria bersuara lembut yang tampaknya selalu memancarkan kebaikan. Kurang dari 30 menit, aku curhat bertele-tele tentang betapa kejam perlakuan orang tuaku dan bagaimana mereka tidak memperdulikanku sama sekali. Setelah beberapa lama, suaraku mulai gemetar dan aku berhenti berbicara. Sang psikolog mendengarkan dengan sabar atas segala perkataanku dengan tangan terlipat sambil sesekali mengangguk. Aku mengira ia akan mulai berbicara bahwa aku salah dan orang tuaku mencintaiku dan bla bla bla .... namun tidak.

Dr. Tanner mencondongkan tubuhnya ke arahku sambil tersenyum dan berkata, “Kau tahu ... aku adalah psikolog sekolah terbaik di dunia. Aku berjanji akan memperbaikinya untukmu.

“Oke, tapi bagaimana caranya?” tanyaku.

“Aku punya caraku sendiri,” jawabku, “Aku memegang teguh kata-kataku tadi. dalam sebulan, aku berjanji hubunganmu dengan orang tuamu akan berubah, lebih baik. Selamanya.”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Namun, terlebih dahulu kau harus berjanji padaku. Kau harus berjanji bahwa kau akan kembali ke kantorku besok sepulang sekolah dan jangan katakan pada siapapun tentang percakapan kita hari ini. Ini akan menjadi rahasia kecil kita.”

Aku berjanji.

Hari berikutnya, aku kembali ke ruangan Dr. Tanner sepulang sekolah. Saat itu sudah sekitar jam 4 sore ketika aku memasuki kantornya. Setelah menyambutku dengan hangat, ia memintaku untuk duduk di depan mejanya lagi.

Setelah duduk, aku melihat Dr. Tanner menutup tirai jendela kantornya. “Nah,” ia tersenyum, “sekarang kita memiliki semua privasi yang kita butuhkan.”

Kami mulai berbincang mengenai hobiku, mata pelajaran kesukaanku di sekolah, guru yang paling kubenci, dan lain-lain. Setelah sejam bercakap-cakap, Dr tanner menawariku soft drink.

Aku dengan gembira menerima tawarannya, menimbang bahwa orang tuaku takkan pernah membiarkanku minum soda. Dr. Tannner menjangkau lemari es kecilnya dan menjentikkan jarinya sebentar sebelum menaruh dua kaleng soda dalam keadaan terbuka ke hadapanku.

Sesudahnya, kami melanjutkan percakapan mengenai keseharianku. Namun tidak lama kemudian aku pingsan karena obat yang dimasukkan Dr. Tanner ke dalam minumanku.

Membutuhkan waktu semenit untuk membiasakan pandanganku yang kabur begitu terbangun.

Dan ketika aku telah dapat melihat dengan lebih jelas, aku sama sekali tak menduga hal yang telah terjadi.

Aku diborgol ke sebuah ranjang dan mulutku tertutup oleh lakban. Aku mulai segera panik dan mencoba melepaskan tanganku dari borgol itu, namun percuma.

Mataku membuka tak percaya ketika melihat ke sekeliling ruangan. Ada banyak poster superhero tertempel di dinding, begitu juga foto2 dari atlit terkenal. Di tengah ruangan terdapat sebuah televisi tua dan Super Nintendo, juga berbagai macam kaset video games tertumpuk di sekitarnya.

Aku tak tahu apa yang harus kupikirkan. Di sini aku berada, dikelilingi semua benda yang setengah mati diinginkan anak2 seumuranku. Aku mungkin akan menangis bahagia jika saja aku bisa melupakan sejenak kenyataan bahwa aku tengah dirantai di sini.

Perutku bergejolak ketika pintu terbuka dan Dr. Tanner masuk ke dalam. Ia kemudian duduk di tepian tempat tidur.

“Sekarang dengarkan,” katanya, “ingat bahwa aku ada di sini untuk menolongmu dan aku takkan pernah menyakitimu, oke?” Dr. Tanner dengan lembut melepaskan lakban dari mulutku dan kemudian membuka borgol di tanganku.

Insting pertamaku adalah mulai menangis, namun ada sesuatu mengenai Dr. Tanner yang membuatku merasa aman. Ia tersenyum kepadaku, “Kamu akan tinggal di sini untuk beberapa lama.” Ia melanjutkan, “Dan selama itu, kamu diperbolehkan untuk memainkan semua permainan yang ada di dalam ruangan ini, namun hanya ketika aku ada di rumah.”

“Ketika aku meninggalkan rumah, aku perlu untuk memborgol salah satu tanganmu di tempat tidur. Kamu masih bisa melihat televisi, namun aku ingin kau hanya menonton channel berita ketika aku tidak ada.”

Aku duduk membisu, masih mencoba memproses semua informasi yang ia berikan kepadaku.

“Jadi,” kata Dr. Tanner sambil menepuk lututku, “Bersantailah, aku akan datang kembali saat sudah tiba waktunya makan malam.”

Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke tengah ruangan, dan menyalakan televisi sebelum mengunci pintu di belakangnya.

Beberapa menit berlalu sebelum aku menyadari abhwa Dr. Tanner sama sekali tidak bercanda. Yang bisa kulakukan saat itu hanyalah bermain Nintendo dan bermain Mario hingga malam.

Sekitar pukul 7, ia kembali ke kamar membawa dua piring kentang tumbuk dan potongan ayam. Aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk bertanya berapa lama aku akan ada di sini.

“Well, sekitar sebulan.” jawabnya, “Harus ada yang kulakukan terlebih dulu.”

Pagi berikutnya, aku terbangun karena tangan Dr. Tanner mengelus kepalaku. “Hei, teman ... kau tak perlu bangun sekarang jika kau tidak mau, namun aku harus memakaikan ini lagi,” bisiknya sambil memakaikan borgol di pergelangan tanganku dan menguncinya di jeruji tempat tidur.

Aku mendongak menatapnya. Ia mengenakan kemeja dengan jas sambil membawa tas koper. Ia tampak seperti akan berangkat kerja ke sekolah. Sebelum pergi, ia menempatkan remote televisi di dekatku dan menyuruhku untuk menyalakannya dan melihat acara berita.

Hal pertama yang kulihat adalah segmen “Breaking News” dimana beberapa polisi yang tampak berpangkat tinggi berdiri di podium dikelilingi wartawan. Salah seorang di antaranya mulai berpidato.

“Kondisi darurat telah diberlakukan di seluruh penjuru negara bagian pagi ini. Kami telah menempatkan beberapa penyelidik lapangan untuk menangani kemungkinan kasus penculikan. Namun hingga saat ini, belum banyak bukti yang berhasil dikumpulkan. Saksi mata menyatakan bahwa anak ini terkahir terlihat pukul 5 sore kemarin ...”

Aku mulai merasa mual ketika melihat fotoku terpampang di layar. Itu adalah fotoku yang diambil dari buku tahunan sekolahku tahun kemarin. Tulisan pada foto tersebut menunjukkan nama, umurku, sekolah, hingga nama kota tempat tinggalku. Di bawah fotoku tertulis judul “FBI MEMULAI PENCARIAN KORBAN dan PELAKU PENCULIKAN MASIH MISTERIUS.

Tayangan langsung berlanjut dan dua sosok yang langsung kukenali sebagai ayah dan ibuku menanjak naik ke atas podium. Mata keduanya tampak merah. Air mata mengalir deras dari wajah ibuku ketika ia berbicara di depan mikrofon.

Aku tak pernah melihat sebegitu besar emosi mengalir dari dalam ibuku sebelumnya. Ia terisak di depan kamera, terbata-bata saat mengucapkan kalimat seperti, “Tolong kembalikan anakku padaku,” dan “Maafkan aku”, serta “Kembalilah pulang kepada kami.”

Ketika ayahku mengambil mikrofon, aku berpikir ia masih akan sedingin batu, namun air mata juga mengalir dari matanya. Ia memohon kepada dunia agar membawa anaknya pulang dengan selamat dan memohon pengampunanku, “Aku tahu aku tak pernah menjadi ayah yang baik, demi Tuhan aku sangat menyesal. Tolong kembalikan putraku kepadaku!”

Aku mematikan televisi saat itu. Emosiku campur aduk karena tak pernah sebelumnya aku melihat ayahku menangis.

Aku merasa menderita melihat orang tuaku mengalami cobaan seberat itu, namun di saat yang sama, aku merasa lega. Aku sekarang tahu betapa dalam ayah dan ibuku mencintaiku.

Hampir empat minggu berlalu dan Dr. Tanner memperlakukanku sebaik mungkin. Ia meninggalkanku dalam keadaan terborgol sebelum berangkat kerja, namun kembali saat siang untuk makan siang. Ia juga akan menikmati makan malam bersamaku, bahkan bermain games bersama-sama.

Namun pada suatu pagi, saat Dr. Tanner membangunkanku, ia tak tampak seperti biasanya. Wajahnya tampak tegang. Selain itu, aku juga menyadari bahwa ia membangunkanku tiga jam lebih awal ketimbang biasanya.

“Kamu harus melihat berita hari ini, Nak. Tak ada pengecualian. Aku ingin kau memperhatikan televisi seharian dan memperhatikannya!” katanya dengan nada serius.

Tentu tak ada yang bisa kulakukan kecuali melihatnya berjalan keluar ruangan.

Setelah dua jam kemudian, sebuah segmen “Breaking News” memotong sebuah iklan pasta gigi yang kusaksikan. Judulnya.

“JENAZAH DITEMUKAN”

Seorang pembawa acara berwajah tegang ketika ia menyampaikan beritanya.

“Kami dengan sedih memberitakan bahwa pagi ini ditemukan kemajuan dalam kasus penculikan anak sebulan lalu.”

Pembawa berita itu menganggukkan kepalanya dengan sedih sambil membaca kertas-kertas di hadapannya.

“Sisa-sisa jenazah telah ditemukan di dalam kantong sampah di bawah jembatan tol. Diperkirakan bahwa itu adalah jenazah seorang anak, walaupun tak banyak yang tersisa untuk bisa benar2 dipastikan. Kepalanya telah dipenggal sementara sisa-sisa tubuhnya telah dibakar dan hanya menyisakan abu dan tulang.

Gambar beralih ke helikopter, tampak di bawah jalan raya dengan lusinan polisi berkumpul di bawah jembatan. Suara sang pembawa berita masih terdengar,

“Dalam tas polisi menemukan sebuah kartu pelajar berikut ini,”

Layar menunjukkan kartu pelajarku yang selalu kubawa di dalam ranselku. Plastik pembungkusnya tampak meleleh, namun foto dan namaku masih utuh.

Kamera berganti menunjukkan wajah orang tuaku, diapit dua reporter. Wajah ibuku tampak menahan kesakitan yang amat dalam sedangkan ayahku membenamkan kepalanya ke atas kedua lututnya.

Aku mematikan televisi itu.

Dr. Tanner kembali sangat terlambat. Ia segera masuk ke kamarku, membuka borgolku, dan memberikanku sebotol minuman bersoda.

Ia menempatkan kedua tangannya ke pundakku dan tersenyum.

“Aku sudah berjanji kan?”

Aku mengangguk, air mata keluar dari pelupuk mataku.

“Kamu harus berjanji lagi kepadaku,” bisiknya.

Ia mengatakan padaku untuk meminum seluruh isi botol itu – itu akan membantuku tertidur – dan bahwa aku takkan mengatakan apapun, bahkan menyangkal pertemuanku dengannya. Aku setuju.

“Sudah kukatakan, aku adalah psikolog sekolah terbaik di dunia, ya kan?”

Dan ia memang benar.

Aku terbangun malam itu, menemukan diriku terbaring di atas rumput. Bintang bersinar dengan cerah di atas langit malam. Aku mengenali bahwa aku berada di sebuah taman yang tak jauh dari sekolahku.

Aku kemudian mulai berjalan dan menemukan rumahku. Lampu di dalam rumah padam, namun aku masih bisa melihat bayangan ayahku duduk di tangga di depan pintu masuk.

Dengan ragu, aku memanggilnya. Ayahku mengangkat kepalanya dengan perlahan dan begitu melihatku, ia langsung berlari memelukku sambil meneriakkan namaku. Ibuku melakukan hal yang sama begitu keluar dari dalam rumah.

Dr. Tanner benar. Segalanya berubah menjadi lebih baik semenjak itu. Orang tuaku tersenyum setiap saat dan memperlakukanku penuh kasih sayang. Aku tak bisa meminta akhir yang lebih bahagia dari ini.

Sejak hari itu, aku masih sering melihat Dr. Tanner di sekolahku. Kami jarang berbicara, bahkan untuk bertukar pandangan sekalipun. Namun kadang kala, ia akan tersenyum ke arahku.

Aku selalu memegang janjiku padanya dan berpura-pura tak pernah bertemu dengannya. Namun ada satu pertanyaan yang selamanya akan selalu terngiang dalam benakku.

Siapa anak yang Dr. Tanner penggal?

26 comments:

  1. iya siapa anak yang dr tanner penggal ? ~ali~

    ReplyDelete
  2. Nach itu dia yg jdi prtanyaan besar...!!! Jgn2 tiap ad yg konseling mslh kyk gitu, Dr. Tanner bakalan ngorbanin anak laen buat dpt gelar psikolog trbaik di dunia... Jgn2... Jgn2... Kbnykan jgn2...

    ReplyDelete
  3. sekarang, Dr. Tanner berubah mjd pahlawan yg bisa berubah mjd raksasa hijau. eh, salah orang, ya?

    ReplyDelete
  4. Keren coy Ceritanya

    ReplyDelete
  5. Psikolog sekolah terbaik di dunia.. hmm

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah ye, guru BK gue cuman serem badan kagak picik pikiran *lah -_-

    ReplyDelete
  7. Gokil tuh orang
    Boleh ketemuan kalo bener

    ReplyDelete
  8. a sacrifice for happiness << bener ga ya ini
    humz jgn" itu anak yang jdi kliennya dia juga perbedaannya, tu anak mintanya gmna caranya buat hilang dari dunia skaligus menlong orang lain << again mengarang bebas kkkke mian
    tpi ceritanya mmg gmna gtu, soalnya awalnya aq malah mikir tu anak emang udh mati cmn ga sadr aj klo dianya hantu ahihihi

    ReplyDelete
  9. Jangan" yang dia penggal anaknya sendiri, lah itu kamar punya siapa coba -.-

    ReplyDelete
  10. hmp... Ini mah si Dr.Tannernya yang Gila -_-

    ReplyDelete
  11. Jadi anak yg dipenggal sama Dr. Tanner nya siapaaa?! ._.

    ReplyDelete
  12. Yang dipenggal sama dia itu sbnrnya anak lain apa anak itu sendiri sih? Terus ortunya gimanaa, padahalkan mereka udh tau anak mereka udh meninggal tp kok pas anaknya dateng lagi mereka engga curiga?

    ReplyDelete
  13. ini apa jawabanya sih

    ReplyDelete
  14. Mungkin yg dipenggal Dr. Tanner itu kliennya sebelum "aku" ini, dan mungkin "aku" bakal dipenggal buat kliennya yg selanjutnya

    ReplyDelete
  15. Coba dr.tanner guru bk ane :v
    Nanti ane curhat nya bilang "pak si cowo itu ga suka sama saya pak " :v

    ReplyDelete
  16. Kayaknya sih yang dipenggal sama Dr. Tanner itu anaknya sendiri...

    ReplyDelete
  17. Mungkinkah anak itu sudah mati ? jadi kepala yg ditemukan itu memang jasad anak itu, lalu Dr. Tanner membunuh juga kedua orang tuanya ? sehingga dia memenuhi janjinya kalau akan menjadikan hubungan dengan orang tuanya akan menjadi lebih baik..... SELAMANYA....... sehingga pertemuan terakhir dengan orang tuanya sebenarnya itu sudah menjadi arwah semua. (Kebiasaan solving riddle jadi pemikirannya suka begini)

    ReplyDelete
  18. HMMZHH, susah juga y?
    tolong jelaskan mas :v

    ReplyDelete
  19. Mgkn itu jenazah dr anak lain yang baru dimakamkan kalau diteliti dr mayat yg segar dgn bekas terbakar,seandainya dia udah koit alias dead n jd arwah, masa si aku msh pergi ke sekolah dan si tenner kadang2 senyum ke dia,dan jika si tenner jg arwah,koq britanya tersebar di televisi,menurut gua gitu gan,bener gxnya kita kembalikan pd Allah

    ReplyDelete
  20. Dr.Tanner itu gak pernah dihargai sama murid lain sebelumnya, dan dia merasa kesepian, di rumah juga dia hanya menghabiskan waktu untuk bermain game. sehingga waktu si aku dateng buat konsultasi, Dr.Tanner ngerasa seneng krna ngerasa baru kali ini d anggep ada sama seseorang. oleh karna itu dia mau ngelakuin hal sejauh itu buat bantu si aku ini. itu mnurut pendapat sy sih, meski sy masih gak tau siapa anak yg mati itu. kalok d bilang murid lain yg pernah konsultasi sebelumnya, kok gak ada brita ato kehebohan d skolah atas hilangnya salah 1 murid. jadi...hmmmmmm bingung ._.

    ReplyDelete
  21. Wahh bner2 bingung nih tp ada yg ganjil.
    Pertama si Aku bilang kalau dia gk pernah liat murid lain ngbrol dgn psikolog. Nah di sini ckup aneh karena nantinya si aku pun janji lupain kalau dia pernah ketemu dan mengindari kontak dgn sang psikolog. Artinya sebelum si aku konsultasi sdh ada beberapa murid yg melakukan kontak dan itu di rahasiakan.
    Kedua,di terakhir cerita knpa si psikolog pulangnya telat, apa mungkin dia terlibat di TKP saat mayat d temukan?
    It's just my opinion

    ReplyDelete