Thursday, November 26, 2015

JANE X: PLUTON CARNAGE – CHAPTER 7 FINALE (ORIGINAL SERIES)

 

10

Fan fiction: Dave Cahyo

WARNING: UNTUK DAPAT MEMAHAMI CERITA INI, KALIAN HARUS TERLEBIH DAHULU MEMBACA SERI JEFF THE KILLER YANG MEMUAT TOKOH JANE THE KILLER, YAKNI “VOW OF REVENGE” DAN “TRIUMPH OF EVIL”

***

 

“Alaric! Alaric!” seru Marco ketika ia memasuki ruangan kokpit. Namun ia tak melihat siapapun di sana. aneh, padahal ia sudah mengatakan pada Nocturna untuk pergi ke sini mendahuluinya.

“Alaric?” panggil Marco, “Nocturna?”

Tiba-tiba seseorang memukul kepala Marco dari belakang. Pemuda itu langsung terjerembap dan terkejut melihat siapa yang telah menyerangnya.

Pertama ia mengira itu adalah Jane, namun ternyata bukan.

“Alaric?” tanya Marco keheranan, “Apa yang kau lakukan?”

“Aku melakukan ini demi kebaikanmu!”

“A ... apa maksudmu?”

“Aku harus membunuh Nocturna ... dan aku takkan membiarkanmu menghentikanku.”

“Kenapa, Ric” Marco tak mengerti, “Apa yang kau lakukan?”

Alaric tak menjawab dan berniat melumpuhkan Marco hingga pingsan.

“Alaric, kumohon ...”

Tiba-tiba sinar laser langsung mengenai tubuh Alaric hingga tubuhnya tersungkur ke lantai.

“Alaric! Tidaaak!!!!” seru Marco. Ia berusaha membangunkan sahabatnya tersebut, namun tubuhnya tak lagi bergerak.

“Maafkan aku, Marco.” ujar Nocturna yang tengah memegang pistol laser itu, “Aku melihatnya hendak membunuhmu.”

Marco berdiri dengan berurai air mata. Ia langsung memeluk tubuh Nocturna.

“Tak apa-apa, Nocturna.” bisik Marco, “Hanya kau yang kumiliki sekarang .... AAAAAAAAARGH!!!”

Tiba-tiba Marco berteriak kesakitan dan melepaskan dekapannya. Nocturna langsung menjerit begitu melihat pisau menancap di punggung Marco. Darah mengalir deras hingga membuat tubuhnya akhirnya ambruk tak bernyawa.

Setelah tubuh Marco limbung dan jatuh, akhirnya Nocturna bisa melihat sosok di belakangnya yang telah menusukkan pisau itu.

“Jane ...” ucap Nocturna dengan geram. “Kenapa ... kenapa kau lakukan ini padaku? Kau telah merenggut nyawa ibuku, ayahku, dan kini kekasihku!!!”

Amarah menggelora dalam hati Nocturna sehingga tanpa pikir panjang ia langsung menyerang Jane.

“Matilah kau!!!”

Namun gadis itu terkejut ketika ia malah berjalan menembus tubuh Jane.

“Apa?”

Ia menoleh ke belakang. Sosok Jane kini telah lenyap.

“A ... apa yang terjadi?”

“Tidakkah kau mengerti?”

Nocturna mendengar suara perempuan dan langsung menoleh. Wajah Jane yang sangar kembali terpampang di hadapannya.

“Kau adalah aku.”

“Apa? Apa maksudmu?”

“Lihatlah yang ada di tanganmu!”

Nocturna menunduk dan menjerit begitu menyadarinya.

Tangannya tengah memegang pisau berlumuran darah.

Pisau yang digunakannya untuk menusuk Marco tadi.

Nocturna langsung menjatuhkan pisau itu.

“Kau paham sekarang, Nocturna?” bisik Jane The Killer, “Sejak awal aku tak pernah ada. Kau-lah yang membunuh semuanya ...”

Nocturna tersentak. Hatinya serasa runtuh.

“I ... ini mustahil ...”

Nocturna harus membuktikannya.

“Mr. B! Lekas putarkan video kamera keamanan ruangan ini saat Marco terbunuh!”

Di depannya segera tampak hologram. Tak ada orang lain di ruangan itu selain dirinya, Marco, dan jenazah Alaric yang teronggok di bawah mereka.

“Maafkan aku, Marco. Aku melihatnya hendak membunuhmu.”

Marco memeluknya dan Nocturna menggunakan kesempatan itu untuk menusuk punggung Marco.

Dengan tangannya sendiri.

“Tidak! TIDAAAAAAK!!!!” jerit gadis itu.

Rekaman demi rekaman mulai diputarkan.

***

 

Nocturna dan Marco berada di depan lift dengan tubuh Talia yang terpotong-potong berceceran di lantai.

“Nocturna, cepatlah ke ruang kendali! Beritahu Alaric tentang hal ini!”

Nocturna sampai di ruang kendali. Namun begitu sampai di sana, ia mengatur suhu dan tekanan ruangan medis untuk membunuh Miranda.

Di depan layar monitor ia tersenyum melihat kematian dokter itu.

***

 

Nocturna dan Marco berjalan keluar lift. Tanpa seorangpun sadari, Nocturna menekan tombol pintu lift saat Talia masih berjalan keluar sehingga menjepitnya.

“Dokter, apa yang terjadi?” Marco berusaha membantu membuka pintu lift

“Entahlah ... aku tidak tahu. Bantu aku melepaskannya ...”

Nocturna menekan-nekan tombol lift, terlihat hendak membantu, namun sebenarnya ia memastikan pintu itu takkan pernah membuka.

Di belakang Marco, gadis itu menyeringai melihat kematian sadis Talia.

***

 

“Aku melihatmu membunuh ayahmu sendiri! Dasar perempuan gila!” Mara menodongkan senjatanya ke arah Nocturna, “Sekarang berikan tabung oksigenmu! Aku membutuhkannya!”

Mara merebut tabung oksigen Nocturna, namun Marco segera menembaknya dengan laser.

***

 

“Mara! Kau dengar itu! Ada langkah kaki!” bisik Nocturna yang kala itu berada di ruang kargo makanan

“Mana? Mana?” Mara yang tengah memegang senjata tampak ketakutan.

“Itu di sana! cepat tembak!”

Mara segera menembak bayangan itu. Tubuh Galanthis yang muncul dari balik kegelapan segera tersungkur ke lantai dengan tubuh hangus.

***

 

“Mana ... tak ada jejak kaki di sini.” Danis menatap salju di depannya, “Sudah sejaman aku mencarinya. Pasti gadis itu salah lihat.”

Tanpa ia ketahui, di belakangnya Nocturna dalam baju pelindung langsung menebas kepalanya hingga terpenggal.

***

 

“Tenanglah. Nocturna.” ujar Mara, “Danis pasti kembali.”

“Iya. Berhentilah mondar-mandir.” keluh Galanthis. “Aku pusing melihatmu.”

“Percuma jika aku terus menunggu di sini. Aku akan menyusul Danis memeriksa jejak kaki itu! Aku pinjam baju pelindung kalian!”

***

 

“Mustahil ... mustahil!” jerit Nocturna sambil memegangi kepalanya, “Mengapa aku melakukannya?”

“Apa kau tak ingat, Nocturna?” Jane tersenyum, “Ingatlah tentang apa yang dikatakan ayahmu saat sekarat.”

***

 

Mr. B memainkan rekaman kala Kapten Abram dan putrinya berada di kokpit.

“Ada yang ingin ayah katakan ... tentang ibumu ...”

Nocturna menangis ketika mengingat kematian ibunya.

“Nocturna, ayah tahu ini berat, tapi kau harus tahu kebenarannya ...”

“Aku sudah tahu, Ayah! Jane The Killer yang telah membunuhnya!”

Ayahnya menggeleng dengan sedih, “Bukan, Sayang ... melainkan kau. Kau yang telah membunuh ibumu sendiri …”

“Apa? Apa yang ayah katakan? Mustahil aku membunuh ibu!”

“Kalian terlibat pertengkaran dan kau gelap mata. Ayah tahu kau tak bermaksud begitu .... ayah tahu kau sangat menyesal ....namun sejak itu kau selalu stress ... kau, kau mulai kehilangan kewarasanmu ...”

***

 

Mesin scan itu bergerak menyinari seluruh tubuh Nocturna, memeriksa segala kondisi kesehatan dengan detail.

“Apa dia akan baik-baik saja?” tanya Marco cemas.

“Jangan khawatir. Ia hanya shock. Ia akan segera bangun.” ujar Dokter Miranda, “Tak ada masalah dengan fisiknya, namun psikologisnya ... sepertinya ia mengalami stress yang amat hebat.”

***

 

“Karena itulah ayah ingin membawamu ke Zarmina ... supaya kau bisa berobat ...” ujar Kapten Abram di dalam kokpit kapal Reconquista.

“Aku tidak gila! Tidak!!!” Nocturna segera menusukkan pisau yang dipegangnya ke perut ayahnya berkali-kali.

***

 

“Tak pernah ada Jane The Killer, Nocturna ...” Jane tertawa terbahak-bahak mengejeknya, “bahkan tak pernah ada Kapal Reconquista, tak pernah ada Lembah Anubis, tak pernah ada Pluto ... bahkan tak pernah ada kau! Tidakkah kau mengerti?”

Nocturna mendongak dan menatap sosok menakutkan itu, masih tak mengerti maksud ucapannya.

“Apa maksudmu?”

“Sekarang adalah saatnya ... ayo kita lakukan sekarang ...” terdengar suara Mr. B menggema di kepalanya.

“Mr. B! Hentikan! Ini bukan saatnya!” jerit Nocturna.

Gadis itu memejamkan matanya. Ia ingin berteriak. Ia tak mengerti apa yang terjadi.

“Ini sudah saatnya, Kate ... ayo minum obatmu.”

Terdengar suara lain. Itu bukan suara Mr. B. Itu suara seorang pemuda yang lain.

Nocturna membuka matanya.

Ia melihat wajah yang tak asing lagi.

“Marco?”

“Kate, sekarang saatnya minum obat.” kata pemuda itu.

“Iya, Kate.” kata seorang wanita berpakaian dokter di sampingnya. Nocturna membaca nama di tanda pengenal yang menempel di dadanya.

Dokter Miranda.

“Apa kau bisa menanganinya, Dokter Marco?” tanya seorang suster di belakangnya. Nocturna sangat mengenal wajahnya.

Talia.

“Ya, Suster Talia. Kurasa saya bisa. Dia sudah sering saya rawat kok.”

“Kuharap kondisi gadis itu mulai membaik setelah ayahnya menjenguknya kemarin.”

“Ayahnya adalah Abraham Johnson bukan? Mr. Abram? Mantan suami dari Dr. Melissa Gunther?”

“Ya, tragis sekali memang yang terjadi pada Dokter Gunther, tewas di tangan putrinya sendiri. Kalau begitu saya tinggalkan kalian ya.” ujar Dokter Miranda. Dokter wanita itu bersama Suster Talia pun meninggalkan kamar.

Gadis itu menoleh ke kaca yang menggantung di dinding sampingnya.

Ia melihat bayangan dirinya memakai gaun rumah sakit jiwa.

“Semuanya ... semuanya hanya terjadi di pikiranku?”

Ia menatap ke luar pintu. Dari kamarnya yang terbuka, ia bisa melihat sebuah tayangan televisi tahun 70-an. Suaranya terdengar hingga ke dalam kamarnya. Serial itu ... serial fiksi ilmiah.

“Kapal Reconquista akan segera tiba di Planet Zarmina, Komandan Alaric.”

“Terima kasih, Gordonus. Dengan begini misi kita untuk menangkap para pemberontak di Planet Pluto dan menyelamatkan Putri Nocturna telah berhasil.”

“Ya. Tiga penjahat itu: Danis, Mara, dan Galanthis sudah berada dalam pesawat Xibalba untuk menuju penjara berkeamanan maksimum di Eris.”

Film tersebut kemudian diselingi iklan.

“Acara ini disponsori oleh CORSPE ... harapan masa depan anda ... dapatkan makanan hasil bitoeknologi kami ....”

“Nah, Kate. Sekarang minum obatnya ya.”

Namun gadis itu terus menutup mulutnya.

“Kalau begitu, saya suntik saja ya dengan obat penenang biar kau bisa beristirahat.” psikiater muda itu mengeluarkan jarum suntik berisi peyote, obat penenang yang biasa ia gunakan pada pasiennya di asylum.

“Sekarang saatnya ... ayo lakukan ...” terdengar suara dari balik dinding.

Mr. B.

Kate langsung merebut jarum suntik itu dan menusukkannya ke leher Dokter Marco. Ia segera mengambil kunci yang berada di saku dokter itu dan keluar dari kamarnya.

Gadis itu membuka pintu di samping kamarnya.

“Akhirnya kau lakukan juga. Aku sudah menantinya sejak tadi ...” seorang pria dengan senyum lebar menyambutnya dari dalam kamar itu.

“Jadi kau Mr. B yang menjadi tetanggaku selama ini?” tanya Kate.

“Panggil aku Billy.” seringainya, “Dan kau pasti Kate. Aku sering mendengar mereka memanggilmu dengan nama itu.”

Kate tersenyum.

“Aku punya banyak nama. Krystabelle, Anne, Trisha, Emma, dan yang terbaru: Nocturna. Namun hanya satu nama yang paling kusukai.”

Ia menyeringai.

“Jane The Killer.”

“Nah, apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Bakar tempat ini.” senyum Jane, “Itu akan memancing Liu dan Jeff The Killer keluar.”

 

THE END

6 comments:

  1. oooh jadi ini sebenarnya terjadi sebelum Jeff the killer : the triumph of evil ya?

    ReplyDelete
  2. Wow chapter terakhir mengejutkan mirip identity

    ReplyDelete
  3. wow wow plot twist yang gak terdugaaaaaa! keren banget! :D

    ReplyDelete
  4. Kereeen Sekaleeee! Bang Dave! Keep posting original series lagi ya :D

    ReplyDelete
  5. keren woy plot twist-nyaa. bang dave q naksir qm/?

    ReplyDelete