Saturday, December 7, 2019

FENOMENA “KUDOKUSHI”: KALA KAUM LANSIA MENINGGAL DALAM KESENDIRIAN



Bayangkan kau adalah seorang pemilik sebuah rumah kontrakan di Jepang. Ada satu tenant yang selalu rajin mentransfer uang sewa maupun biaya tambahan seperti listrik dan ledeng. Ia tak pernah sekalipun terlambat. Namun entah kenapa, bulan ini ia terlambat, bahkan belum membayarnya. Merasa penasaran, iapun pergi ke kontrakan miliknya tersebut untuk menagihnya.

Namun apa yang dilihatnya akan menghantuinya seumur hidupnya.


Kondisi rumahnya kini berbau tak sedap, seolah telah lama terbengkalai. Segalanya terlihat membusuk dan tak pernah dirawat. Ketika ia berjalan memasuki kamar tidur, iapun terhenyak. Di atas kasur terbaring sesuatu, sebuah siluet hitam yang mirip dengan kontur tubuh seorang laki-laki. Bak sebuah film horor Jepang, “noda” hitam itu adalah sisa-sisa tubuh seorang pria yang telah mati dan membusuk.

Ya, lansia itu ternyata sudah meninggal selama tiga tahun.

Pria itu adalah penghuni kontrakannya itu, seorang pria berusia 69 tahun yang selama 3 tahun, kematiannya tak diketahui karena ia hidup sendiri. Selama 3 tahun pula, uang sewa kontarakannya dipotong secara otomatis melalui rekeningnya. Sehingga baru ketika uang tabungannya itu habis, seseorang akhirnya curiga dan menemukan jenazahnya.

Ngerinya, apa yang dialami pria tua malang itu merupakan hal yang umum terjadi di Jepang, bahkan memiliki istilah sendiri, “kudokushi” atau" mati dalam kesendirian".

Kodokushi” atau “lonely death” merupakan fenomena dimana seseorang, umumnya lansia, meninggal sendirian tanpa ada seorangpun tahu dan kematiannya tidak disadari siapapun hingga dalam jangka waktu yang lama. Setragis apapun kedengarannya, fenomena ini benar-benar terjadi di Jepang modern. Lunturnya rasa kekeluargaan dan meningkatnya budaya kemandirian menyebabkan banyak kaum lansia yang tinggal sendiri. Mungkin kalian berpikir, lalu dimana anaknya? Apa anaknya nggak mau merawat?

Semenjak ekonomi Jepang booming, muncul trend (yang lazim di negara maju) bagi laki-laki dan wanita untuk tetap single seumur hidup dan tidak menikah. Ada banyak faktor yang menyebabkannya, mulai dari konsen mengejar karier hingga tak memperdulikan kehidupan pribadi ataupun biaya hidup yang semakin tinggi, sehingga menurut mereka “tidak masuk akal” untuk menikah dan menambah biaya hidup dengan memiliki istri dan anak.

Trend ini mengakibatkan bahwa pria tetap menjadi lajang hingga mereka sepuh. Secara langsung pula hal ini menyebabkan tingkat kelahiran menurun sehingga di Jepang dan banyak negara maju lain, populasi penduduk kebanyakan didominasi orang tua. Banyaknya popualsi kaum lansia di Jepang membuat pemerintah kewalahan, masih ditambah lagi sedikitnya pekerja bidang sosial yang mampu menangani mereka.

Stasiun TV terkemuka di Jepang, NHK, memperkirakan sekitar 32.000 lansia di Jepang meninggal secara “kodokushi” hanya di tahun 2009 saja. Diperkirakan di kota Tokyo saja, ada 1.000 lebih kasus kodokushi yang tentu berakhir tragis.

Akankah para lansia di negara semaju Jepang akan berakhir sebagai kodokushi?

Para lansia yang mati kesepian ini umumnya hidup dalam isolasi sosial. Dengan usia mereka yang senja, mereka tak bisa banyak melakukan aktivitas ataupun berpergian, sehingga tak mampu bersosialisasi. Mereka juga kebanyakan tak memiliki anak sehingga tak ada yang merawat atau paling tidak memeriksa kondisi mereka. Selain itu, penduduk Jepang yang memiliki etos kerja yang teramat tinggi juga terbiasa “tidak mengeluh”, sehingga mereka jarang mengatakan pada keluarga atau tetangga mereka jika mereka kesepian atau butuh bantuan.

Kodokushi umumnya menimpa lansia berumur 50-an hingga 65 tahun. Uniknya, hampir 90% lansia yang mengalami fenomena ini adalah pria. Lah, kenapa bukan wanita? Konon, kebiasaan bergosip dan “ghibah” ternyata cukup membantu wanita untuk bersosialisasi, minimal dengan tetangga mereka. Sehingga jika mereka tidak terlihat melakukan aktivitas rutin mereka, tentu akan mengundng kecurigaan tetangga mereka.

Kodokushi hanya merupakan contoh lain “keterasingan” yang dirasakan warga Jepang dari segala umur. Bahkan kaum mudapun tak lepas dari fenomena ini. Tak jarang terjadi kasus dimana mereka menjadi “hikokomori”, yakni mereka akan memutus semua interaksi sosial dengan teman-teman mereka dan hidup mengasingkan diri di dalam kamar, bahkan mungkin tak pernah keluar rumah seumur hidup. Tragisnya, tak sedikit kasus hikokomori yang berakhir dengan bunuh diri.

Apakah ada yang salah dengan Jepang? Jawabannya bisa ya atau tidak. Jujur saja, kasus para lansia ini meninggal tanpa ada seorangpun peduli mengingatkan gue sama “ubasute”, yakni tradisi mengerikan kuno dari Jepang dimana seorang anak akan menelantarkan orang tua mereka yang sudah lansia di dalam hutan agar mereka mati. Apakah generasi lansia yang menerima nasib sebagai kodokushi ini sebenarnya menerima karma karena mereka dulunya adalah pelaku ubasute? Ataukah ini justru salah generasi modern yang semakin independen dan individualistis, sehingga tak peduli pada sekitar kita?

Kasus kodokushi paling tragis, bahkan lebih terkesan mirip kisah Creepypasta, terjadi pada 2010 di Tokyo. Kala itu pihak pemerintah kota Tokyo hendak memberi selamat pada Sogen Kato, seorang lansia yang menurut catatan mereka pada hari itu berulang tahun yang ke-111. Namun begitu tiba di rumahnya, begitu terkejutnya mereka ketika menemukan jenazah pria tersebut sudah mengering menjadi mumi. 

Pemeriksaan forensik mengungkap data yang lebih mencengangkan lagi. Sogen Kato sudah meninggal sekitar 30 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1978 di usia 79 tahun! Anak-anaknya telah menerima uang pensiun dari lansia tersebut dengan total mencapai 9,5 juta yen (setara 1,5 M IDR), sehingga diduga mereka menyembunyikan kematiannya untuk menerima kucuran dana tersebut.

So, maybe having a son is not a healthy option either.

Sumber: Wikipedia, BBC



3 comments: