Monday, December 9, 2019

THE PURGE: MALAM PERTAMA – EPISODE 8




“Astaga, siapa pria itu?” jerit Cicil, “Kenapa dia menghabisi teman-temanmu?”

“En … entahlah …” jantung Bagus berdegup amat kencang, terutama setelah ia menyaksikan kematian sahabat-sahabatnya.

Tiba-tiba seutas tangan langsung merengkuh tubuh Cicil.

“AAAAAAAAAA!!!” jerit gadis itu.


“HAHAHAHA! AKHIRNYA TERTANGKAP JUGA KAU! DASAR MANTAN BIADAB!” pria berpakaian Happy Tree Friends itu menyandera Cicil sambil mengulurkan pisau ke arah lehernya.

“A … Adit hentikan!” jerit Cicil, “Ka … kau harus move on!”

“Huh, seenaknya saja kau bicara!” Adit justru semakin geram, “Kau harus merasakan pelampiasan dendam kesumatku!”

“Tu … tunggu!” cegah Bagus. Namun tiba-tiba saja, semprotan busa putih yang datang entah darimana segera menutupi pria itu hingga ia kehilangan konsentrasi.

“AAAAAAARGH!!! APA-APAAN INI???”

Cicil segera menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri.

“Ayo cepat ke sini!” seru seorang pria.

Bagus menoleh dan melihat seorang pria tua memegang sebuah tabung pemadam kebakaran. Rupanya itulah yang tadi disemprotkan ke arah Adit untuk mengalihkan perhatiannya.

Bagus segera mengenali siapa pria itu.

“Oom Foo?”

***

“TIDAK! TIDAAAAAK!!!” Shalsa menangisi kematian kekasihnya yang kini terbujur lemas dalam dekapannya.

“Kurang ajar!” Sandi menatap para anggota geng itu dengan murka. Namun ia juga tahu, kini ia, Aulia, dan Shalsa tak mampu lari karena geng itu telah mengepung mereka.

“Akhirnya ketemu juga kau!” ujar pemimpin mereka yang memakai topeng bertanduk. “Kalian pikir kalian bisa lolos ha? Beberapa anggota kami terbunuh gara-gara roketmu tadi. Kini kalian akan mendapat balasannya!”

“TUNGGU!”

Tiba-tiba cahaya yang amat terang menerangi mereka.

“SIAPA DI SITU?”

Muncul sepasukan berpakaian jas seperti dalam video klip boyband Korea. Jumlah mereka amat banyak sehingga mengalahkan jumlah para anggota geng itu. Tak hanya itu, gerakan mereka amat kompak, nyaris seperti tentara, dan mereka juga memegang berbagai macam senjata di tangan mereka.

Di depan mereka, seorang gadis berpenampilan ala Jang Geum dengan kostum khas Korea, yakni hanbok pink, memegang sebuah bazooka, kali ini senjata sungguhan.

“Lepaskan mereka! Jangan membuat onar di sini, atau …” ia mengarahkan bazooka itu ke arah para anggota geng itu, “Kalian akan merasakan akibatnya!”

Serempak, anak buahnya yang berpakaian jas tersebut siap sedia mengambil ancang-ancang untuk menyerang mereka menggunakan senjata di tangan mereka.

“Si … sial!” tahu bahwa ia kalah jumlah, sang pria bertanduk itu segera menyuruh anak buahnya untuk mundur. Mereka pun kabur, tak terlihat lagi.

“Te … terima kasih …” ujar Sandi.

“Siapa sebenarnya kalian?” tanya Lia heran.

“Kau anggota EXO-L kan?” gadis itu menatap ke arah Shalsa.

Iapun menyeka air mata di pipinya, “I … iya … benar …”

“Sebagian dari kami adalah Shawol dan sebagian lainnya adalah ARMY. Ada pula ELF, VIP, hingga Cassiopeia di sini. Kami semua bergabung untuk melindungi sesama fandom, terutama EXO-L. Kami tahu kalian tak mau berpartisipasi ke dalam Purge untuk menghormati permintaan Batara EXO. Karena itu kami khawatir kalian akan jadi target empuk bagi peserta Purge.”

Sandi pun akhirnya bisa melihat dengan jelas siapa mereka sebenarnya. Walaupun memakai jas bak laki-laki, kebanyakan dari mereka adalah gadis-gadis muda. Penampilan mereka yang androgyny itu memang menipu.

“Jadi … kalian adalah sesama fandom K-Pop?” tanya Sandi heran.

“Kenapa kau heran?’ tanya gadis itu, “Sesama fandom sudah selayaknya kami saling mendukung.”

“Tunggu, aku sepertinya kenal kau.” Aulia menaikkan alisnya, “Kau Naura kan? Kakak kelas kami?”

Dia mengangguk.

“Apa kau tahu tempat yang aman bagi kami? Kami terjebak di dalam The Purge ini dan kami tidak bisa pulang.”

“Mungkin kalian bisa ke sekolah. Aku melihat Pak Yuga dan guru-guru lainnya berkumpul di sana sebelum The Purge dimulai. Kalian mungkin bisa meminta perlindungan di sana.”

“Baiklah kalau begitu,” ajak Sandi, “Ayolah, Shalsa. Kita harus segera ke sana. Geng itu bisa kembali kapan saja.”

“Nggak!” Shalsa menggeleng sambil menyeka air matanya, “Gue ingin ikut The Purge aja. Gue juga ingin melindungi yang lain serta membalas dendam atas kematian Fajar.”

“Apa?” tanya Aulia, “Apa lu yakin?”

“Tak apa,” kata Naura, “Kami akan menjaganya.”

Sandi sebenarnya berat untuk melepaskannya, namun akhirnya ia memaklumi keinginan Shalsa itu.

“Baiklah, tapi berhati-hatilah. Sampai ketemu di sekolah besok, oke?”

Kini hanya Sandi dan Lia yang tersisa. Merekapun segera berjalan menuju ke sekolah mereka.


***

Suara tembakan terdengar dimana-mana. Tara dan Egi sedang sibuk memerangi para zombie. Sementara itu, pemimpin para zombie dancer itu, yakni seorang gadis berpakaian seperti Jill Valentine murka melihatnya dan mencoba membunuh kedua anak berseragam SMA itu.

Sementara itu di studio, Darmas dan Yuli kebingungan. Acara reka ulang video klip Thriller yang sudah disiapkan menggunakan dandanan zombie dari darah sungguhan dan bagian-bagian tubuh korban The Purge menjadi kacau gara-gara kedatangan Tara dan Egi.

“Astaga, siapa mereka? Apa mereka Dilan dan Milea yang sedang viral itu?” tanya Yuli.

“Cut acaranya! Cut!” perintah Darmas. Seketika itu juga, acara di studio itu berubah menjadi iklan.

Ingin berpartisipasi di Malam The Purge? Supaya tidak masuk angin, jangan lupa minum Tolak Angin!” atlet sepakbola Marko Simic menawarkan sebungkus Tolak Angin, “Wes ewes ewes … bablas angine …”

Jaga kesehatan dan stamina selama The Purge! Agar tubuh kuat dan tak mudah lelah, minum Kuku Bima Energi!” ujar Mbah Maridjan sembari menyiksa para pendaki gunung yang membuang sampah sembarang serta selfie sambil menginjak-injak bunga edelweis dengan alat-alat ala SAW, “ROSO!”

Untuk memeriahkan The Purge, hanya selama 12 jam Kopi Kapal Api akan menawarkan varian rasa baru, yakni Kopi Rasa Sianida. Cocok buat situ yang dikhianati si dia! Segera dapatkan di Indomaret dan Alfamart terdekat!”

Gojek sangat mendukung program pemerintah.” artis duta Go-Jek yang selama The Purge berlangsung mengubah namanya menjadi Luna Mayat memamerkan kostum Maleficent-nya, “Jika anda ingin membalas dendam tapi mager ikut The Purge, jangan khawatir! Gojek kini menawarkan jasa Go-Kill! Driver kami siap dengan alat-alat penyiksaan terbaru sesuai dengan keinginan Anda! Dapatkan promo bayar pake Ovo cuma satu rupiah lho!”

***

“Lia! Berlindung!” Sandi segera menyuruh Aulia menunduk. Di depan mereka, tampak dua kelompok berbaju jersey biru dan merah. Sandi langsung mengenali mereka sebagai fans Arsenal dan Chelsea.

“Huh, memalukan!” bisik Sandi, “Fans K-Pop aja bisa rukun, tapi mereka yang harusnya sportif malah saling membunuh seperti itu!”

“San, gue rasa kita nggak aman di sini. Kita harus mendapatkan senjata untuk menjaga diri.” Usul Aulia.

“Bagaimana jika kita beli di sana?” Sandi menunjuk ke Indomaret yang buka di dekat mereka.

“Apa? Kenapa toko itu masih buka?” tanya Aulia heran. “Apa mereka tidak takut dengan rampok?”

Akhirnya mereka berduapun memutuskan pergi ke sana.

Tiba-tiba saja, sebuah letusan senjata memecahkan kaca di dekat mereka. Seorang pria lari terbirit-birit keluar dari dalam toko, sementara di dalam tampak seorang pegawai tampak marah sambil mengokang senapan.

“Hei jangan kembali lagi, dasar pencuri!”

Dengan ketakutan, Sandi dan Aulia masuk ke dalam toko.

“Halo, selamat datang di Indomaret! Selamat berbelanja!” pegawai toko itu langsung berubah menjadi ramah.

“Hei, sepertinya ini bisa dipakai sebagai senjata.” Sandi melihat-lihat alat pel yang dipajang di rak, “Sepertinya ini gagang kayunya cukup kuat …”

“Gue beli ini …” Aulia langsung menggelontorkan pisau, nail gun, dan gergaji mesin yang ia temukan di rak peralatan dapur dan pertukangan.

“Oke …. Itu juga bisa.”

“Total belanjaannya 15 juta.” ujar sang penjaga kasir dengan santai.

“APAAA??? MAHAL SEKALI???”

Sang pegawai toko mengangkat bahunya, “Ini kan malam The Purge. Kami bebas melanggar hukum dan menaikkan harga.”

“Dasar sial!” dengan terpaksa Aulia mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya.

Namun tiba-tiba saja suara tembakan menggelegar. Kasir itupun langsung ambruk berlumuran darah.

“Aulia! Awas!!!” Sandi segera menyuruhnya menunduk. Sekelompok pria berseragam Alfamart masuk membawa berbagai senjata api. Tak mau kalah, pegawai Indomaret lainnya muncul dari belakang toko dan membalas tembakan mereka.

Baku tembak pun terjadi, sementara Aulia dan Sandi berlindung di belakang kasir.

“Sial! Sepertinya terjadi Civil War antara Indomart dan Alfamart!” seru Aulia panik.

“Ini,” Sandi segera meraih senapan yang tadi dipegang sang penjaga kasir, “Bawa ini dan cepat pergi dari sini!!!”

***

“Minggir kau! Dasar Tomb Raider!” seru Tara.

“Gue Jill Valentine tauk!” ia menembakkan pistolnya ke arah mereka. Namun Egi melemparkan trisulanya ke arahnya dan melukai tangannya.

“AAAARGH!” pistol di tangannya terjatuh. Tara segera menerkamnya dan memberinya bogem mentah.

“KATAKAN! DIMANA RATU ILMU HITAM!” seru Tara, “KAMI TAHU DIA YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEMUA INI!”

“Kau mencariku?”

Suara menggelegar itu membuat nyali kedua remaja itu turun.

Dari kejauhan, tampak sosok putih melayang. Wajahnya dibalut kain berenda hitam. Kedatangannya diiringi lagu retro ala 80-an.

“Ratu Ilmu Hitam!” Tara tersenyum. “Akhirnya kutemukan juga kau!”

BERSAMBUNG

2 comments:

  1. Go kill driver
    Civil war antara alfamart sm indomaret
    The purge versi negara berflower
    😂😂😂

    ReplyDelete
  2. Civil war-nya bikin ngakak

    Lanjutkeun bang

    ReplyDelete