Sunday, December 8, 2019

RADIOACTIVE SERIES #4: TOKAIMURA NUCLEAR ACCIDENT


Jika kita ditanya, apa insiden nuklir mematikan yang pernah terjadi di Jepang, mungkin pikiran kita akan melayang ke Tragedi Fukushima yang pernah terjadi tahun 2011 lalu. Namun tragedi yang lebih mematikan ternyata pernah terjadi pada 30 September 1999 di Tokai, Prefektur Ibaraki, Jepang. Jika Insiden Fukushima terjadi karena dipicu gempa yang tentunya di luar jangkauan manusia, Insiden Tokaimura disebabkan oleh kelalaian manusia, dan yang lebih buruk lagi, keserakahan. Tak hanya itu, insiden kecelakaan nuklir di Tokaimura terjadi hingga dua kali!

Dear readers, inilah Dark Case kali ini.

JCO (Japan Nuclear Fuel Conversion Corporation) merupakan perusahaan pengolah bijih uranium asal negara matahari terbit. Di sana, uranium mentah hasil penambangan diolah atau dimurnikan menjadi uranium murni yang siap ditransportasikan ke berbagai fasilitas PLTN yang tersebar di Jepang. Walaupun negara tersebut pernah dibayang-bayangi mimpi buruk akibat ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, namun Jepang nyatanya cukup percaya diri dalam menggunakan nuklir sebagai sumber energi alternatif.

Akan tetapi JCO sebagai sebuah perusahaan korporat ternyata bermain-main dengan nyawa manusia. Walaupun sudah ada legislasi ketat untuk mengatur pengolahan bijih uranium untuk meredam dampak radioaktivitasannya bagi manusia, ternyata JCO memilih untuk “mempersingkat” proses itu demi keuntungan finansial.

Hasilnya, bisa ditebak, berujung pada bencana.

Ilustrasi PLTN

Seperti sudah gue singgung sebelumnya, ada dua kecelakaan yang terjadi di pabrik pengolahan nuklir milik JCO tersebut. Insiden pertama terjadi pada 11 Maret 1997 di pabrik mereka yang terletak di Dōnen. Kala itu terjadi sebuah ledakan kecil yang cukup untuk memecahkan 30 jendela di pabrik itu. Kita sedang membahas ledakan nuklir di sini, jadi ledakan yang “kuat” sudah pasti akan membumihanguskan seluruh kota. Akibat pecahnya kaca jendela tersebut, radiasi nuklir pun lepas ke udara. Sekitar 37 pekerja mengalami luka-luka dan udara di radius sekitar 40 kilometer dari pabrik tersebut diketahui terkontaminasi radioaktif.

Apakah insiden tersebut membuat JCO belajar dari pengalaman mereka? Ternyata tidak. Alih-alih beralih ke bisnis donat yang lebih aman dan mungkin lebih menguntungkan, mereka justru hanya menempelkan kembali kaca-kaca yang pecah itu dengan selotip (serius!) and then call it a day.

Akibat tidak berkaca dari insiden tersebut, kecelakaan kedua, kali ini lebih parah, terjadi dua tahun kemudian. Pada 30 September 1999, kecelakaan di pabrik lain, kali ini terletak di desa bernama Tokai, pun tak terhindarkan.

Pada 1988, JCO mendapat komisi untuk memproduksi uranium sebagai bahan bakar PLTN sebanyak 3 ton per tahun. Dengan target sebesar itu, tentu sebagai perusahaan yang juga mengejar laba, mereka harus bekerja seefisien mungkin. Bahan mentah yang mereka gunakan adalah senyawa uranium oksida, dimana sesuai dengan regulasi yang gue baca di World-Nuclear.org, serbuk senyawa tersebut dilarutkan ke dalam senyawa asam nitrat untuk menghasilkan senyawa uranil nitrat. Proses pelarutan tersebut harusnya dilakukan di dalam sebuah tangki bernama “dissolution tank” yang tentunya pasti memiliki spesifikasi khusus demi keamanan.

Langkah berikutnya adalah menyimpan uranil nitrat tersebut di tangki berdua bernama “buffer tank” untuk sementara. Langkah ini penting karena reaksi antara uranium oksida dan asam nitrat adalah reaksi eksotermik, artinya menghasilkan panas. Sebelum berlanjut ke tahap pengolahan yang lain, senyawa uranil nitrat yang dihasilkan haruslah didinginkan dulu di tangki tersebut. Barulah, tahap terakhir yakni memindahkan larutan tersebut ke tangki ketiga bernama “precipitation tank”, bisa dilakukan.


Akan tetapi, tanpa persetujuan badan nuklir dunia, JCO mempersingkat prosedur itu tanpa memperhatikan sisi keamanan sama sekali. Alih-alih menggunakan “dissolution tank”, pihak JCO menyuruh karyawannya untuk melarutkan uranium oksida secara langsung di sebuah ember stainless steel biasa. Tak hanya itu, bukannya disimpan dulu di “buffer tank” agar dingin, larutan uranil nitrat yang masih panas itu langsung disiramkan ke dalam “precipitation tank”. Prosedur itu yang dilakukan saat Insiden Tokaimura terjadi.

Lokasi insiden tersebut di peta Jepang

Tragedi akhirnya terjadi saat tiga pekerja, Hisashi Ouchi, Masato Shinohara, and Yutaka Yokokawa mempersiapkan uranium dengan cara tersebut. Ketika ketiga pekerja itu menuangkan ember uranil nitrat ketujuh ke dalam “precipitation tank”, mereka melihat cahaya biru keluar dari tangki tersebut.

Jika kalian sudah membaca “Radioactive Series” gue tentang Bencana Goiania di Brazil, kalian pastilah sudah tahu cahaya biru itu disebut “Radiasi Cherenkov” yang amatlah berbahaya. Jumlah manusia yang melihat cahaya tersebut dan masih hidup bisa dihitung dengan jari.

Tanpa mereka sadari, uranium dalam tangki tersebut telah mencapai massa kritis dan mengeluarkan radiasi berbahaya. Di dalam “precipitation tank” sebenarnya sudah terdapat air yang bertugas menekan reaksi nuklir dalam tangki tersebut. Uranium menghasilkan radiasi neutron sebagai hasil reaksi berantainya. Molekul air akan menghambat neutron sehingga partikel tersebut akan bergerak lebih pelan, sehingga reaksinya pun bisa diperlambat. Akan tetapi saat itu, sudah terlalu banyak kandungan uranium dalam tangki itu.

Tangki itu hanya bisa menahan 2,4 kg uranium, sedangkan ember ketujuh itu menambahkan total uranium dalam tangki itu hingga berjumlah 16 kg.

Segera, setelah menyaksikan cahaya biru mematikan itu, ketiganya langsung merasakan gejala sakitm yakni mual dan sulit bernapas. Walaupun sudah dibawa ke ruang dekontaminasi, namun semua telah terlambat. Ketiganya mulai muntah dan akhirnya kehilangan kesadaran.

Tubuh mereka kini telah terpapar radiasi yang amat berbahaya dengan konsekuensi yang amat mengerikan.

Lima jam setelah insiden itu, seluruh pekerja dievakuasi. Celakanya, pabrik itu berdiri di dekat sebuah pedesaan sehingga ratusan penduduk desa tersebut kemudian diungsikan. Yang tidak sempat mengungsi atau berada dalam radius yang dianggap aman diperingatkan untuk tidak keluar rumah.

Bagaimana dengan para korban yang terpapar radiasi langsung? Hisashi Ouchi terekspos radiasi sebesar 17 sieverts (Sv), Masato Shinohara menerima 10 Sv, dan Yutaka Yokokawa mendapat 3 Sv. Sebagai perbandingan, batas maksimal radiasi yang diperbolehkan terkena manusia adalah 0,05 Sv saja! Dosis 8 Sv sudah dipastikan akan berdampak fatal dan berujung pada kematian.

Dua pekerja yang menerima dosis tertinggi kala itu, Hisashi dan Masato meninggal beberapa bulan kemudian. Seperti apa dampak radioaktif tersebut pada tubuh mereka, mungkin kalian bertanya. Well, seluruh tubuh Hisashi terbakar, hampir semua organ dalamnya rusak, dan jumlah sel darah putih dalam tubuhnya nyaris nol. Dampak langsung radioaktif biasanya menimpa organ yang sel-selnya mudah membelah, dalam hal itu adalah sel kulit dan sel darah putih. Sel kulit membelah setiap saat untuk menggantikan lapisan kulit atas, sedangkan sel darah putih penting untuk pertahanan tubuh, sehingga setiap kali tubuh mengalami infeksi, sel darah putih dengan cepat membelah menjadi berlipat ganda.

gambar sel darah putih

Radoaktif bekerja bagai peluru (pasti kalian sudah nggak asing dengan istilah ini kalo udah nonton miniseries “Chernobyl”), dimana “peluru-peluru” itu akan menghujam inti sel dan merusak kromosomnya. Dengan kromosom yang rusak, sel takkan mampu membela. Atau jikapun bisa, akan dihasilkan sel mutan yang tidak berfungsi seperti sel normal. Karena itulah, biasanya korban radiasi nuklir umumnya akan mengalami kanker darah (leukimia).

Dokter berusaha menyelamatkan nyawa Hisashi dengan transplantasi stem cell, yang kala itu merupakan teknologi baru. Pada awalnya, perawatan itu terlihat berhasil. Namun para dokter kemudian menyadari bahwa leukosit “baru” yang dihasilkan transplant itu juga berubah menjadi mutan akibat radiasi yang tersisa di tubuh Hisashi. Lebih parah lagi, sel darah putih “baru” itu malah menyerang sel-sel lainnya sehingga iapun malah terinfeksi penyakit baru, yakni autoimun.

Akibat kondisinya yang luar biasa parah, jantung Hisashi berhenti beberapa kali. Namun atas desakan keluarganya, para dokter kembali “membangkitkannya” setiap kali hal itu terjadi. Masato sendiri mengalami nasib yang tak kalah naas. Sudah hampir “tak berbentuk lagi” karena kulitnya terbakar parah, ia menerima transplantasi kulit hampir di sekujur tubuhnya. Namun lagi-lagi kerusakan tubuhnya tak dapat ditanggulangi dan karena sistem imunnya terus menurun hingga iapun mengalami infeksi parah.

Pada 21 December 1999, Hisashi akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Sementara Masato menyusulnya pada musim semi berikutnya, 27 April 2000.

Kisah Hisashi Ouchi sudah melegenda menjadi Creepypasta. Di kisahnya diceritakan, ia terus meminta agar ia dibunuh agar terhenti dari penderitaannya. Namun para dokter menolak. Selain karena pada masa itu euthanasia masih dianggap tabu, para dokter juga yakin mereka bisa menyembuhkannya. Mereka bahkan menggunakan tubuhnya sebagai “kelinci percobaan” untuk melakukan berbagai metode-metode baru, kendati Hisashi tak menginginkannya.

Entah kisah itu memang benar atau hanyalah bumbu rekaan belaka, yang pasti foto kesakitan Hisashi banyak beredar di internet, bahkan banyak dicari. Gue rasa tindakan mencari foto-foto korban seperti itu benar-benar memuakkan.

Bagaimana dengan akhir kisah ini? Pada September 2000, JCO akhirnya setuju untuk membayar ganti rugi sebesar 121 juta dolar sebagai kompensasi kepada 6.875 penduduk yang terekspos radiasi mematikan akibat kelalaian dan keserakahan mereka. Pada April 2001, presiden direktur JCO President juga mengaku bersalah di pengadilan atas bencana yang ditimbulkannya. Akan tetapi sayang, seperti yang kita ketahui, insiden tersebut bukanlah yang terakhir di Jepang.

Dan pastinya masih akan ada insiden-insiden lain jika manusia masih menggantungkan diri pada kekuatan yang ternyata tidak mampu mereka tundukkan.

SUMBER: Wikipedia

2 comments:

  1. Yutaka Yokogawa gimana kabarnya? Kok ngga disebut lagi?
    Tapi, ngeri banget tuh proses meninggalnya Hisashi sama Masato. Daripada begitu, mendingan langsung mati kena ledakan or something.
    Jsdi keinget quotesnya Albus Dumbledore di Harry Potter and the Order of the Phoenix, "there's things that much worse than death" (ato kira2 gitu deh, ga inget kata per kata nya)

    ReplyDelete
  2. bang dave kalo nulis penutupan kalimat pasti keren" banget sampe bikin hela napas wkwkwk

    ReplyDelete