Monday, December 16, 2019

MERRY CHRISTMAS HO HO HO: 8 FILM HOROR SPECIAL NATAL



Merry Christmas buat kalian yang merayakan! Mau tahu gimana cara admin Mengaku Backpacker habisin liburan Natal? Mungkin banyak di antara kalian yang nonton “Home Alone” atau film-film Natal wajib lainnya. Tapi kalo gue pastinya beda dong, yakni dengan nonton film-film horor hehehe. Di bulan Desember ini gue kembali mereview film-film horor yang pantas untuk kalian saksikan. Beberapa bahkan “khas” Natal banget. Kebanyakan adalah film “mindf*ck” dengan twist yang mencengangkan. Mau tahu film apa aja? Simak review gue kali ini.


1. MIRAGE (2018)


Kita mulai dengan yang ringan dulu. Kalo kalian rajin baca review-review film gue, pastinya kalian udah sering denger saran gue untuk menonton film-film berbahasa Spanyol. Ada banyak banget emang film horor berbahasa Spanyol yang berkualitas. Salah satu sutradara dengan jaminan mutu tersebut adalah Oriol Paulo, terbukti dengan film-film besutannya seperti “Julia's Eyes” (dimana dia berkolaborasi dengan sutradara kawakan Guilermo del Toro), “The Body”, dan “Invisible Guest”. Semuanya adalah film-film “mindfuck” abis alias mengandalkan plot twist yang dijamin membikin kalian menganga. Maka nggak heran, gue suka menyebut sutradara asal Barcelona ini sebagai “M. Night Syhamalan-nya Spanyol”

Film terbaru yang dibesut Oriol Paulo ini berjudul “Mirage”. Berbeda dengan film-filmnya yang lain yang bergenre crime thriller, kali ini filmnya lebih condong ke “sci-fi”. Film ini mengisahkan sebuah badai listrik misterius yang menyebabkan seorang wanita mampu berkomunikasi dengan seorang bocah dari masa lalu. Sang wanita menggunakan kekuatan misterius ini untuk mencegah kematian sang bocah, namun dengan konsekuensi yang sama sekali tak ia sangka.

Melirik sinopsisnya, film ini nggak beda-beda jauh dengan tema yang diangkat “Frequency” atau film seri Korea “The Signal”. Beda dengan film-film Oriol lain yang biasanya bertema detektif, film ini tak terlalu dalam mengangkat tentang misteri (walaupun di sini ada kasus pembunuhannya). Tetap ada nuansa “whodunnit” di sini, namun bukan untuk mengungkap siapa pembunuhnya. Plot twist yang dihadirkan pun cukup memukau. Namun jika dibandingkan film-film Oriol lain yang lebih kelam, filmnya kali ini terasa lebih “ringan” dan kurang berdarah aja.

Gue kasi film ini skor 3,5 CD berdarah.



2. TRIANGLE (2009)


Salah satu film dengan ending penuh plot twist yang bikin geregetan, film “Triangle” ini awalnya terkesan seperti sebuah film slasher biasa. Enam teman yang pergi berlayar mengalami kejadian misterius dan tewas satu demi satu oleh pembunuh misterius begitu kapal mereka dihantam badai. Namun film ini ternyata lebih dalam ketimbang yang gue duga. Ketika misteri mulai bergulir, gue mulai menyadari bahwa film ini nggak sesederhana yang gue pikirkan.

“Triangle” jelas sebuah film “mindf*ck” yang bikin kita berkata “What the hell?” ketika misteri demi misteri terpecahkan, namun nggak ada yang segarang ketika plot twist di akhir film terkuak. Bravo buat para penulis naskahnya sebab gue yakin mereka pasti orang yang jenius ampe bisa mikirin jalan cerita seperti ini. Gue nggak bisa spoiler banyak tentang film ini takutnya bakal merusak kenikmatan kalian saat menyaksikan. Jika kalian ingin melihat film dengan jalan cerita yang sarat twist dan memuaskan logika, kalian patut menyimaknya. Tapi kalo kalian ingin film yang sederhana dan nggak butuh banyak mikir, wah mending jauhin deh film ini soalnya dijamin bakalan bikin kalian bingung hehehe.

Gue kasi film ini skor 4 CD berdarah.



3. CLEANSING HOUR (2019)


Buat kalian yang suka dengan jalan cerita yang lebih simpel (namun penuh gore), nah kalian bisa simak film ini. Film ini menceritakan sebuah acara YouTube terkenal yang menyiarkan upacara pengusiran setan (exorcism) secara live. Pemirsanya meyakini bahwa apa yang mereka lihat adalah exorcism yang autentik, namun sesungguhnya semua ini hanyalah akal-akalan para kru film yang hanya ingin mendongkrak views dan menjual merchandise mereka saja melalui exorcism “palsu”. Masalah mulai muncul ketika salah satu aktris mereka yang seharusnya hanya “pura-pura” malah kesurupan sungguhan dan satu demi satu kru-nya pun terbunuh di depan kamera.

Film ini bergenre horor komedi jadi jangan harapkan film “exorcism” ala “Conjuring” yang serius. Gue awalnya hanya menganggap film ini bergenre “eksploitasi” aja (alias hanya memanfaatkan trend “exorcism” aja tanpa mendalaminya) dan gue sih nggak terlalu mengganggap serius film ini bakalan mind-blowing atau gimana. Namun ternyata kesimpulan yang dibawakan film ini rupanya cukup apik. Endingnya nggak terduga dan super seru. Nggak hanya itu, film ini juga membawa kritikan pedas bagi otoritas gereja, sesuatu yang sama sekali nggak gue harapkan bakal muncul di film yang awalnya gue rasa “ringan” ini.

This movie is actually deeper than I thought dan karena itu gue kasi skor 4 CD berdarah.



4. SECUESTRO / BOY MISSING (2016)


Naskah film ini digarap oleh Oriol Paulo, sutradara jenius yang tadi gue singgung-singgung di atas, karena itu kalian bisa menebak ceritanya pasti penuh plot twist. Film ini menceritakan seorang pengacara korup yang kena karmanya ketika anaknya sendiri terlibat kasus penculikan. Walaupun sang anak bisa diselamatkan, namun teror terus mengintai keluarga mereka hingga sang ibu (pengacara tersebut) akhirnya mengambil jalan pintas yang pada akhirnya justru membahayakan nyawa keluarganya.

Lagi-lagi, nggak seperti yang gue harapkan dari Oriol Paulo yang karyanya biasanya kelam, film ini lebih ringan daripada yang gue duga. Emang sih ada plot twist di sana-sini, tapi nggak semencengangkan karya-karyanya yang lain, walaupun memang tetap membuat jalan ceritanya menjadi menarik. Karena itu, film ini tetap recommended buat kalian dengan skor 3,5 CD berdarah.



5. P2 (2007)


Film horor Natal mungkin terdengar sebagai konsep yang absurd buat kalian. Natal kan kesannya sebagai malam yang ramai dan gembira dengan lampu kelap-kelip, warna-warni cerah, dan semua keluarga berkumpul sambil bersenang-senang, pastinya bukan setting yang pas buat sebuah film horor. Bayangin aja film bertema Halloween tapi komedi, pasti nggak pas. Christmas lebih pas buat setting film drama keluarga yang heartwarming. Namun di sinilah letak kejeniusan film ini. Malam Natal yang identik dengan libur panjang dimana jalanan menjadi sepi karena semua orang memilih mudik dan berkumpul bersama keluarga, bahkan layanan 911 menjadi “terbatas” karena kebanyakan operatornya libur, justru dijadikan sebuah setting yang klaustrofobik dan mencekam.

Film ini memiliki premis sederhana. Seorang wanita yang pulang kemalaman akibat lembur, terjebak di parkiran bawah tanah kantornya bersama seorang psikopat gila. Karena itu adalah malam Natal, tak ada yang mendengar teriakannya minta tolong dan iapun sadar, ia harus berusaha sendiri untuk menyelamatkan nyawanya.

Banyak sisi plus di film ini. Pertama sosok Wes Bentley (gue pikir awalnya dia Ian Sommerhalder yang jadi Damon di “Vampire Diaries” karena sorot matanya mirip banget, tapi ternyata bukan) yang cocok memerankan sosok psikopat dengan karakter unik. Beda dengan sosok psikopat di film lain yang cenderung dingin, sadis, dan tak berperasaan, di sini karakter Wes Bentley malah terkesan kikuk dan culun, walaupun jelas ia punya masalah kejiwaan yang serius. Kedua, gore-nya cukup memuaskan, walaupun cuma ditampilkan di awal dan cukup absen di sepanjang film, sebelum akhirnya diulangi di klimaks filmnya (itupun kadarnya berkurang banyak). Dari segi ketegangan, film ini juga jempolan.

In the end, film ini cukup recommendable buat kalian dan gue kasi skor 3,5 CD berdarah. Satu-satunya kritikan gue, korbannya kurang banyak hehehe.



6. BETTER WATCH OUT (2017)


“You better watch out, you better not cry ...” lirik tersebut adalah penggalan dari lagu “Santa Claus is Coming to Town”. Namun siapa sangka lirik lagu Natal tersebut justru cocok dijadikan judul sebuah film horor. “Better Watch Out” menceritakan seorang gadis yang menghabiskan malam Natal dengan menjadi babysitter seorang anak berusia 13 tahun. Malam Natal mereka yang semula tenang berubah menjadi bencana ketika sosok misterius muncul dan berusaha mendobrak masuk ke dalam rumah. Yap benar, dari sinopsisnya kalian pasti bisa menebak film ini bergenre “home invasion”. Tapi begitu plot twist pertama terungkap, kalian bakal sadar ini bukan film "home invasion" biasa.

Film ini benar-benar memberi inovasi yang segar bagi genre “home invasion” yang “itu-itu aja” dan gue menyambutnya dengan gembira. Ada saat dimana gue merasa film ini agak “berlebihan” dan dipaksakan. Genrenya komedi horornya juga membuat gue sukar menganggap film ini dengan serius. Namun endingnya .... endingnya bener-benar keren dan “payoff” banget, apalagi ada sejenis “mid credit scene” yang bener-bener membuat gue berharap film ini bakalan ada sekuelnya.

Singkat kata, film ini benar-benar cocok menemani liburan Natal kalian. Dengan jalan cerita yang nggak terduga dan bisa gua bilang cukup cerdas serta kreatif, gue kasi film ini skor 4 CD berdarah. I enjoyed it very much.



6. THE MAN IN THE TRUNK (2019)


Lagi-lagi sebuah film horor dengan setting Natal, film ini menceritakan sepasang suami istri yang kedatangan tamu yang tak mereka harapkan di malam Natal, yakni sahabat lama sang suami yang sudah tak pernah ia temui selama bertahun-tahun. Sang tamu meminta sebuah bantuan yang teramat sulit untuk dipenuhi, namun demi persabahatan mereka, akhirnya disanggupi oleh sang tokoh utama. Permintaan itu adalah untuk membantunya mengubur mayat seorang pria yang kini tergeletak di bagasi belakang mobilnya.

Ide dan plot film ini emang cukup untuk membuat gue penasaran. Gue sama sekali nggak bisa menebak kemana jalan cerita akan bergulir (apalagi karena premisnya terlampau simpel). Ketika twist pertama terkuak, barulah gue mulai bisa menerka, wah kayaknya klimaks dan endingnya bakal kayak gini nih. Emang tebakan gue benar, namun lagi-lagi hal ini membuat gue lengah karena film ini kembali terbukti sebagai film yang sama sekali nggak bisa ditebak. Ketika gue mengira film ini sudah selesai, justru muncul adegan dengan twist yang lebih dahsyat ketimbang yang pertama.

Film ini emang cukup “menipu” karena nggak “sedatar” yang gue pikirkan dan itu cukup membuat gue puas. Alhasil, gue kasi film ini skor 4 CD berdarah. Lagi-lagi pas buat menemani liburan Natal kalian.



7. CURSED (2004)


Udah lama gue nggak menonton film horor Jepang karena perhatian gue banyak tersita ama film-film horor Amrik ala Netflix yang kualitasnya semakin bagus. J-horror dulu sempat menjadi primadona di perfilman horor dunia dan film ini sedikit banyak membuat gue bernostalgia ama ciri khas film horor Jepang yang minimalis namun kreatif.

Sesuai judulnya, film ini mengisahkan sebuah minimarket yang terkutuk. Para penjaga tokonya senantiasa mengalami hal aneh dan lebih celaka lagi, para pembeli yang berkunjung dan membeli apapun dari toko terkutuk itu selalu menemui ajal yang menggenaskan. Gue demen banget sama cara film ini membuild-up ketegangan (terasa banget pas adegan dimana 3 konsumen toko “dihantui” di tiga tempat berbeda, namun bersamaan). Gue juga suka banget dengan teknik-teknik “scare” ala Jepang yang amat ambigu dan juga absurd, beda banget ama teknik ala film-film Hollywood yang biasanya ngandalin gore atau jumpscare (alias horor-nya langsung dilemparin ke muka kita). Di sini, “scare”-nya justru ditampilkan secara perlahan, bahkan kadang tidak ditampakkan sama sekali. Konklusinya juga menurut gue cukup creepy dan memuaskan.

Akhir kata, gue kasi film ini dengan skor 4 CD berdarah. Film ini tergolong film lawas dan gue berharap industri film Jepang bisa kembali membuat film-film seperti ini.



8. BLUE RUIN (2013)


I saved the best for last. Film ini nggak sepenuhnya horor, lebih ke arah thriller dan genre “revenge”. Kalo membicarakan genre “revenge”, pastinya kita teringat ke film-film "tragicomedy" ala Korea, semisal “Old Boy”. Namun film ini berbeda. Ada banyak momen dimana gue berharap film ini bakalan mencipratkan sedikit komedi (karena tone-nya yang amat berbeda dengan film horor kebanyakan), tapi kenyataannya gue malah makin dalam terjerumus ke jalan ceritanya yang bertambah kelam dan “gritty”.

Film ini menceritakan seorang pria tunawisma yang setelah mengetahui bahwa pembunuh orang tuanya dibebaskan, berniat menuntut balas dan membunuh sang mantan narapidana ini sendiri demi menegakkan keadilan. Namun setelah balas dendamnya terpuaskan, ia menyadari bahwa ia juga harus menerima konsekuensi alias “karma” dari aksi main hakimnya sendiri.

Walaupun film ini bergenre “revenge”, namun pesan moralnya justru amat jelas bertentangan: “Jangan pernah membalas dendam karena kita nggak pernah tahu kebenaran yang sesungguhnya”. Di sini kita diajak untuk memahami bahwa aksi balas dendam, sevalid apapun alasan kita, tetap nggak bisa dibenarkan dan justru akan memperburuk situasi yang kita hadapi. Twist demi twist terkuak (pas twist pertama gue langsung, “What the hell!”) dan membawa kita ke kesimpulan yang teramat tragis. Gue juga yakin bakalan ada pesan moral lain yang bisa gue tarik setelah menonton film ini, cuman kalo gue ungkapin di sini duluan jatuhnya spoiler hehehe.

Yang spesial, gue dengar film ini didanai oleh “fundraising” dan sama sekali nggak diback-up oleh studio film gede, jadi film ini bisa dianggap sebagai karya independen (tapi kok lebih berkualitas ketimbang film blockbuster Hollywood?). Film ini juga dapat penghargaan di festival film Cannes (sebuah prestasi yang jarang diraih film bergenre horor yang biasanya dipandang sebelah mata) jadi bisa dibayangin lah kualitas ceritanya kayak apa. Selain itu, sutradaranya adalah sutradara sama yang membesut film “Green Room” jadi bisa ditebak lah bakal ada adegan yang gore di sana.

Gue kasi film ini (dan pesan moralnya yang amat dalam) skor 4,5 CD berdarah, tertinggi di semua film yang gue review kali ini.


So, enjoy your holiday with these movies!


SUMBER GAMBAR: IMDB

5 comments:

  1. kalau yang triangle, udah nonton dari dulu. yang lain belom sama sekali.

    rekomendasi : i see you (2019) bang.

    ReplyDelete
  2. Waaah, kebetulan gw lagi nyari ref film, thanks bang :D

    ReplyDelete
  3. udah ntn better watch out, p2, sm triangle dan suka sm ketiga-tiganya. blue ruin brp kali mau ntn tp ragu mulu, abisini bakal ntn.

    ReplyDelete
  4. Aku suka banget sama suasana film yg dibangun di Blue Ruin. Tenang tapi penuh bahaya. Edan emang Netflix, filmnya bagus2.

    ReplyDelete
  5. blog terbaik yg gw kunjungi dari dulu fans bner tp baru bikin akun buat coment sukses bang dave

    ReplyDelete